Sunarto, Direktur Information Technology PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, membeli 800.000 lembar saham BMRI pada Senin, 4 Mei 2026. Transaksi ini tercatat melalui laman Keterbukaan Informasi. Nilai pembelian mencapai sekitar Rp 3,55 miliar dengan harga Rp 4.445 per saham.
Sebelumnya Sunarto memiliki 1 juta saham BMRI, sehingga pembelian ini meningkatkan kepemilikannya menjadi 1,8 juta saham. Hak suara Sunarto turun menjadi sekitar 0,0002 persen. Transaksi dilakukan dengan status kepemilikan langsung dan bertujuan investasi.
Transaksi Sunarto
Transaksi pembelian yang dimaksud Sunarto terjadi pada 4 Mei 2026 saat BMRI diperdagangkan di pasar reguler. Pembelian sebanyak 800.000 saham dilakukan pada harga Rp 4.445 per saham, menghasilkan nilai transaksi sekitar Rp 3,55 miliar. Transaksi ini dilakukan dengan status kepemilikan langsung.
Data kepemilikan menunjukkan Sunarto meningkat dari 1 juta saham menjadi 1,8 juta saham, dan hak suaranya turun menjadi sekitar 0,0002 persen. Kepemilikan baru tersebut mencerminkan langkah investasi personal. Pembelian ini dicatat sesuai regulasi keterbukaan informasi.
Tujuan transaksi tersebut adalah investasi, bukan pengambilalihan kendali perusahaan. Analisis pasar menunjukkan aksi ini merupakan bagian dari dinamika portofolio institusional. Informasi ini disampaikan melalui laporan keterbukaan informasi yang relevan.
Dinamika BMRI
Seiring berjalannya sesi perdagangan, BMRI menguat 2,22% menjadi Rp 4.610 per saham pada paruh perdagangan Kamis, 7 Mei 2026. Pergerakan harga dipengaruhi dinamika pasar dan sentimen investor terhadap sektor perbankan. Kenaikan ini mencerminkan respons terhadap faktor-faktor eksternal dan internal yang berlaku.
Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham BMRI naik sekitar 4,06%. Pergerakan jangka pendek ini mencerminkan pemulihan secara bertahap. Namun, volatilitas tetap terlihat pada kinerja saham bank terbesar tersebut sepanjang tahun ini.
Secara year-to-date, BMRI terpantau terkoreksi sekitar 9,61%. Koreksi ini menunjukkan tekanan pada bank besar di pasar modal Indonesia. Investor tetap memantau dinamika harga seiring perubahan suku bunga dan prospek ekonomi.
Aliran asing dan dampaknya
Selain faktor harga, tren net foreign sell juga terlihat jelas pada Bank Mandiri. Pada perdagangan Rabu, 6 Mei 2026, net jual bersih asing mencapai sekitar Rp 188,91 miliar. Nilai ini menambah tekanan pada sentimen investor terhadap BMRI.
Secara year-to-date, net foreign sell Bank Mandiri mencapai sekitar Rp 8,43 triliun. Angka tersebut menegaskan tekanan arus modal asing terhadap saham bank besar di pasar. Investor domestik tetap memonitor kebijakan dan prospek kinerja emiten sejalan dengan dinamika global.
Tren ini menegaskan bahwa aliran modal asing tetap menjadi faktor penting dalam arah pergerakan BMRI. Investor institusional menimbang risiko, peluang, dan imbal hasil dari investasi di sektor perbankan. Pasar menantikan sinyal lebih lanjut terkait kebijakan bank dan regulators terkait likuiditas serta suku bunga.
