Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 10:00 WIB 2
Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Ketika stres dan emosi memuncak, tubuh kerap ikut bereaksi dan memunculkan rasa tidak nyaman, termasuk perut kembung dan begah. Kondisi ini bisa terjadi meski pola makan seseorang tidak berubah. Para ahli menjelaskan, hubungan antara pikiran dan pencernaan menjadi kunci mengapa keluhan tersebut muncul.

Usus kerap disebut sebagai otak kedua karena sangat dipengaruhi sistem saraf, kata Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City. Ia menilai sistem pencernaan dapat mencerminkan kondisi emosional seseorang karena keduanya saling terhubung. Saat stres meningkat, sinyal tubuh dapat berubah dan membuat proses pencernaan terganggu.

Kembung Akibat Stres

Sistem saraf enterik berperan penting dalam saluran pencernaan dan mengatur proses pencernaan. Sistem ini menjadi penghubung antara kondisi saraf dan fungsi pencernaan. Ketika stres muncul, keseimbangan kerja sistem tersebut dapat terganggu.

Melissa Groves Azzaro, RDN, menjelaskan bahwa tubuh pada dasarnya berada dalam dua kondisi sistem saraf, yakni fight-or-flight dan rest-and-digest. Ancaman nyata maupun tekanan modern dapat memicu stres emosional yang intens. Dalam keadaan itu, tubuh melepaskan hormon stres dalam jumlah besar dari kelenjar adrenal.

Respons tersebut dulu membantu manusia bertahan dari ancaman, baik dengan melarikan diri maupun menghadapi bahaya. Namun, saat mekanisme itu aktif, sistem pencernaan berhenti bekerja sejenak. Tubuh memindahkan fokus energi ke bagian lain yang dianggap lebih penting untuk bertahan hidup.

Kembung dan Respons Tubuh

Saat stres, aliran darah ditarik dari sistem pencernaan menuju otot-otot agar tubuh siap bergerak. Kontraksi otot pencernaan ikut menurun, begitu juga produksi sekresi pencernaan. Akibatnya, makanan tidak diproses secara optimal.

Ketika makanan berada lebih lama di saluran pencernaan, gas lebih mudah terperangkap di dalam perut. Ditkoff menjelaskan, kondisi itulah yang membuat perut terasa kembung. Pada sebagian orang, keluhan ini juga muncul dalam bentuk rasa begah yang mengganggu aktivitas.

Respons tubuh terhadap stres tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang mengalami kram perut atau diare, sementara yang lain justru merasa mual. Dalam beberapa kasus, gangguan ini juga dapat berkaitan dengan masalah pencernaan kronis yang kambuh saat stres meningkat.

Kembung dan Hormon Stres

Hormon stres seperti kortisol, epinefrin, dan norepinefrin berperan besar dalam respons tubuh saat menghadapi tekanan. Ketika kadarnya meningkat, tubuh memasuki mode siaga dan mengalihkan sumber daya dari pencernaan. Proses ini membuat kerja usus tidak berjalan normal.

Ditkoff menegaskan bahwa kondisi tersebut umum terjadi dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Reaksinya bisa berbeda, tergantung pada kondisi fisik dan emosi masing-masing individu. Ada yang justru makan terus-menerus saat stres, sementara yang lain kehilangan nafsu makan.

Dalam situasi tertentu, seperti saat berlari atau menghadapi ancaman nyata, tubuh memang bisa benar-benar masuk ke fase fight. Pada kondisi itu, pencernaan memang bukan prioritas utama. Karena itu, gangguan seperti kembung dan begah dapat muncul lebih cepat.

Atasi Kembung dengan Tenang

Cara utama untuk mengurangi kembung akibat stres adalah mengembalikan tubuh ke fase rest-and-digest. Pada fase ini, hormon stres tidak melonjak dan aliran darah kembali lancar ke seluruh tubuh. Otot pencernaan pun dapat bekerja lebih normal.

Tubuh mencerna makanan lebih baik saat merasa tenang, sehingga suasana makan perlu dibuat lebih nyaman. Ditkoff menyarankan agar seseorang makan dalam kondisi yang lebih rileks dan tidak terburu-buru. Namun, tidak makan saat stres juga bukan pilihan yang baik dan tidak dianjurkan.

Selain menjaga ketenangan, penting untuk mengenali pemicu stres yang sering memicu keluhan pencernaan. Jika kembung dan begah muncul berulang, evaluasi pola makan, istirahat, dan manajemen emosi perlu dilakukan. Bila keluhan menetap, pemeriksaan ke tenaga kesehatan menjadi langkah yang tepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!