Satelit Nusantara Lima Dukung Pemerataan Internet Nasional

Teknologi BRH 25 Mei 2026 01:56 WIB 5
Satelit Nusantara Lima Dukung Pemerataan Internet Nasional

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menilai pengoperasian satelit Nusantara Lima milik Pasifik Satelit Nusantara akan mempercepat pemerataan akses internet di Indonesia. Dalam peresmian di Jakarta, Senin malam, 11 Mei 2026, ia menyebut infrastruktur itu akan menjadi penopang penting bagi wilayah yang masih tertinggal konektivitasnya.

Meutya menjelaskan, lebih dari 80 persen populasi Indonesia sudah terhubung internet, namun masih ada sekitar 20 persen warga yang belum menikmati layanan digital. Ia menegaskan, target pemerintah bukan hanya memperluas jaringan, melainkan memastikan seluruh 280 juta penduduk dapat terhubung dari Sabang sampai Merauke, termasuk daerah terluar seperti Rote dan Miangas.

Satelit Nusantara Lima Dorong Konektivitas

Satelit Nusantara Lima disebut memiliki kapasitas hingga 160 Gbps, sehingga mampu menambah suplai konektivitas untuk berbagai daerah pelosok. Pemerintah menilai kapasitas tersebut penting untuk menutup kesenjangan layanan internet di wilayah yang selama ini sulit dijangkau jaringan darat.

Meutya mengatakan, kebutuhan konektivitas di daerah terpencil sebaiknya dipenuhi oleh kemampuan industri nasional. Menurut dia, kehadiran satelit buatan dalam negeri akan memperkuat kedaulatan digital sekaligus mengurangi ketergantungan pada solusi luar negeri.

Ia menambahkan, pengoperasian satelit ini menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat di pulau-pulau terluar yang selama ini belum terlayani optimal. Pemerintah, kata dia, harus memastikan hak masyarakat atas informasi dapat terpenuhi tanpa menunggu terlalu lama.

Dengan konektivitas yang lebih merata, pemerintah berharap layanan publik, pendidikan, dan aktivitas ekonomi digital dapat berjalan lebih baik. Infrastruktur satelit itu dinilai menjadi bagian penting dari pemerataan akses internet nasional yang selama ini menjadi tantangan besar.

Target Desa Tanpa Internet

Pemerintah saat ini menargetkan 2.500 desa yang belum terhubung internet dapat menikmati konektivitas digital pada akhir 2026. Target tersebut menjadi bagian dari percepatan pembangunan ekosistem Indonesia Digital di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Meutya menyebut, pemerataan jaringan bukan sekadar agenda teknis, melainkan langkah untuk memperkecil kesenjangan pembangunan antardaerah. Ia menilai akses digital harus hadir sebagai fasilitas dasar yang dapat dirasakan warga di seluruh penjuru negeri.

Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung layanan pendidikan, kesehatan, dan administrasi publik di wilayah yang selama ini terbatas aksesnya. Dengan konektivitas yang stabil, pemerintah berharap kualitas layanan dasar di daerah 3T dapat meningkat secara nyata.

Selain menambah jumlah desa yang terkoneksi, pemerintah juga terus memetakan daerah yang masih mengalami blank spot. Langkah itu diperlukan agar pembangunan jaringan dapat dilakukan lebih terarah dan tepat sasaran.

Perlindungan Warga Di Ruang Digital

Meutya menegaskan bahwa pembangunan konektivitas tidak boleh berhenti pada urusan jaringan semata. Ia menilai akses internet harus diikuti perlindungan masyarakat agar manfaat digital benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Pemerintah, menurut dia, ingin memastikan masyarakat terlindungi dari kekerasan siber, judi online, radikalisasi, dan berbagai ancaman digital lainnya. Karena itu, pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan penguatan literasi dan pengawasan ruang digital.

Ia menekankan bahwa konektivitas yang baik seharusnya mendorong kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi rakyat. Tanpa perlindungan yang memadai, akses internet justru berisiko membawa dampak negatif bagi kelompok rentan, terutama anak-anak.

Karena itu, pemerintah menyiapkan pendekatan yang lebih komprehensif, mulai dari perluasan jaringan hingga pengamanan ekosistem digital. Tujuannya agar transformasi digital nasional tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan berkelanjutan.

Kolaborasi Industri Digital

Meutya menyebut Satelit Nusantara Lima sebagai infrastruktur strategis yang mendukung agenda transformasi digital nasional. Ia menilai proyek tersebut menjadi bukti bahwa industri dalam negeri memiliki kemampuan untuk menghadirkan solusi berkelas nasional.

Menurut dia, keberanian Pasifik Satelit Nusantara dalam menggarap proyek besar ini patut diapresiasi. Pemerintah, kata Meutya, membutuhkan dukungan pelaku industri yang siap mengambil peran dalam memperkuat ekosistem digital Indonesia.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperluas kolaborasi dengan sektor swasta untuk membangun sistem digital yang maju dan berdaulat. Kerja sama itu dibutuhkan agar pembangunan infrastruktur tidak berjalan parsial dan dapat menjangkau lebih banyak wilayah.

Dalam pandangannya, masa depan digital Indonesia harus dibangun dengan prinsip aman, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan dukungan satelit nasional, pemerintah berharap konektivitas yang lebih merata dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi dan perlindungan warga di ruang digital.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!