Aroma daging ayam dan kambing khas Madura semerbak dari sebuah ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Wangi itu menarik perhatian banyak orang yang melintas di kawasan Mayestik, terlebih saat pedagangnya sibuk mengipas arang agar tetap menyala. Di balik aktivitas sederhana itu, tersimpan kisah ketekunan Mochamad Haidir, pedagang satai berusia 30 tahun, yang berhasil membawa usahanya naik kelas.
Haidir memulai usahanya sejak 2013 dengan gerobak satai keliling di atas trotoar. Perjalanan panjang itu diwarnai penolakan, tekanan sesama pedagang, hingga masa sulit saat pandemi COVID-19 membuat penjualan merosot tajam. Namun, ia memilih bertahan dan memanfaatkan lokasi Mayestik yang dikelilingi perkantoran ramai sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Awal Perjuangan
Haidir memulai langkahnya sebagai pedagang kaki lima dengan modal sederhana. Ia berjualan sambil mendorong gerobak satai keliling di berbagai titik yang ramai. Cara itu membuatnya mengenal langsung ritme pasar dan kebiasaan pelanggan.
Perjalanan awal tersebut tidak berjalan mulus. Ia kerap menghadapi penertiban Satpol PP dan persaingan antarpedagang yang ketat. Situasi itu menguji kesabaran sekaligus keteguhan hatinya untuk terus berjualan.
Ketika pertama kali membuka lapak di kawasan Mayestik, ia juga mendapat penolakan dari pedagang lain. Ia mengaku sempat diminta pergi oleh sesama penjual sate yang merasa terganggu. Meski begitu, Haidir tetap bertahan karena yakin lokasi itu memiliki potensi besar.
Keyakinan tersebut lahir dari pengamatannya terhadap kawasan sekitar. Menurutnya, Mayestik dipadati aktivitas perkantoran dan lalu lintas orang yang tinggi. Kondisi itu membuat lapaknya memiliki peluang untuk berkembang lebih cepat.
Ujian Pandemi
Setelah usahanya mulai dikenal, Haidir kembali menghadapi masa berat saat pandemi COVID-19 melanda. Penjualan merosot tajam karena mobilitas masyarakat turun drastis. Kondisi itu membuat lapaknya jauh lebih sepi dibanding hari-hari biasa.
Ia mengaku sempat stres karena situasi tersebut. Bahkan, ia pernah menawarkan lapaknya kepada orang lain karena merasa ingin berhenti. Kala itu, Haidir sempat berpikir untuk mengakhiri usaha yang telah dibangunnya bertahun-tahun.
Haidir sempat menawarkan lapaknya dengan harga Rp50 juta. Padahal, nilai yang ia harapkan mencapai Rp150 juta. Perbedaan harga itu membuat rencana transaksi batal.
Keputusan batal menjual lapak justru menjadi titik penting bagi kelangsungan usahanya. Jika saat itu terjual, Haidir mungkin kehilangan momentum untuk berkembang lebih jauh. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa bertahan sering kali menjadi pilihan paling berharga.
Strategi Bertahan
Dalam menghadapi tekanan, Haidir memilih untuk tetap konsisten menjaga kualitas sate yang dijualnya. Ia mempertahankan cita rasa khas Madura agar pelanggan tetap datang kembali. Konsistensi itu menjadi modal utama untuk menjaga kepercayaan pembeli.
Selain kualitas rasa, ia juga menjaga kedisiplinan dalam proses memasak. Setiap sore, ia tampak sibuk mengipasi arang agar api tetap stabil. Cara itu penting untuk menghasilkan sate yang matang merata dan tetap sedap.
Lokasi strategis turut menjadi penopang keberlangsungan usahanya. Lapaknya berada di kawasan yang ramai aktivitas perkantoran dan kuliner. Arus pengunjung yang tinggi membantu usahanya tetap hidup meski sempat diterpa krisis.
Nama Sate Ayam Barokah Mayestik pun semakin dikenal dari waktu ke waktu. Reputasi itu tumbuh dari pengalaman pelanggan yang puas dan terus kembali. Bagi Haidir, keberhasilan tersebut bukan hasil instan, melainkan buah dari ketekunan panjang.
Naik Kelas
Titik balik usaha Haidir datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu muncul pada akhir 2025, saat ia sudah cukup lama membangun pasar pelanggan. Tanpa menunggu lama, ia memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih strategis.
Pindah ke ruko memberi perubahan besar bagi wajah usahanya. Posisi yang lebih terlihat membuat pelanggan lebih mudah menemukan lapaknya. Dari sisi operasional, ruang yang lebih layak juga memberi kesan usaha yang lebih mapan.
Perubahan tersebut menandai naik kelasnya usaha kecil yang ia rintis dari bawah. Dari gerobak trotoar hingga menempati ruko, Haidir membuktikan bahwa konsistensi bisa mengubah skala usaha. Perjalanan itu menunjukkan pentingnya membaca peluang dan bertahan di tengah tekanan.
Kisah Haidir juga menjadi gambaran perjuangan pelaku UMKM di tengah persaingan usaha kuliner yang padat. Dengan modal ketekunan, lokasi yang tepat, dan kemampuan bertahan saat krisis, sebuah usaha sederhana dapat tumbuh lebih besar. Dari Mayestik, ia memperlihatkan bahwa kerja keras masih menjadi kunci utama dalam dunia dagang.
