Sarden Kalengan Ternyata Bukan Otomatis UPF

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 00:06 WIB 6
Sarden Kalengan Ternyata Bukan Otomatis UPF

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Di tengah perbincangan itu, sarden kalengan ikut menjadi sorotan karena muncul klaim bahwa produk ini belum tentu termasuk UPF.

Pandangan tersebut memicu kejutan di kalangan warganet, sebab makanan kalengan kerap dianggap identik dengan produk industri yang kurang sehat. Padahal, status sarden kalengan tidak dapat ditentukan hanya dari kemasannya, melainkan perlu dilihat dari klasifikasi pemrosesannya.

Mengenal UPF

UPF merupakan istilah yang berasal dari klasifikasi NOVA, yaitu sistem pengelompokan makanan berdasarkan tingkat pemrosesan. Sistem ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo, Brasil, untuk membantu memahami perbedaan kualitas pemrosesan makanan.

Dalam klasifikasi tersebut, makanan tidak langsung dibagi menjadi sehat atau tidak sehat, melainkan dilihat dari proses pengolahannya. Pendekatan ini penting karena banyak makanan yang terlihat sederhana ternyata melalui tahapan produksi yang berbeda.

Kelompok pertama terdiri atas makanan yang tidak diproses atau hanya diproses minimal, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua berisi bahan kuliner olahan, seperti gula, garam, mentega, dan minyak yang dipakai untuk memasak.

Kelompok ketiga adalah makanan olahan yang dibuat dengan menambahkan garam, gula, atau minyak untuk meningkatkan rasa dan daya simpan. Sementara itu, kelompok keempat adalah UPF, yakni produk formulasi industri yang umumnya mengandung banyak bahan tambahan.

Sarden Kalengan Dalam Klasifikasi

Sarden kalengan pada umumnya tidak langsung masuk kategori UPF, karena lebih tepat disebut makanan olahan. Produk ini biasanya dibuat dari ikan yang diberi garam, saus, atau minyak, lalu dikemas untuk memperpanjang masa simpan.

Dalam klasifikasi NOVA, contoh yang kerap masuk kelompok processed foods antara lain ikan kalengan, keju, dan roti sederhana. Artinya, keberadaan proses pengalengan tidak otomatis membuat suatu produk menjadi ultra-processed.

Yang membedakan UPF adalah rumusan industrinya yang lebih kompleks, dengan penambahan perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan berbagai aditif lain. Jika sebuah sarden hanya melalui proses pengolahan dasar dan tidak memiliki banyak bahan tambahan, maka posisinya berbeda dari UPF.

Karena itu, penilaian terhadap sarden kalengan perlu dilakukan dengan membaca komposisi pada label produk. Konsumen tidak cukup hanya melihat bentuk kemasan, sebab detail bahan baku dan aditif menjadi penentu utama.

Bedanya Dengan Makanan Industri

Banyak orang menilai makanan kalengan berisiko lebih tinggi karena dianggap seragam dengan makanan siap santap modern. Namun, tidak semua produk industri memiliki tingkat pemrosesan yang sama, sehingga generalisasi seperti itu dapat menyesatkan.

UPF biasanya hadir sebagai produk yang dirancang agar sangat praktis, sangat tahan lama, dan sangat mudah dikonsumsi tanpa proses memasak berarti. Karakter ini sering dijumpai pada minuman manis kemasan, snack tinggi gula atau garam, serta mi instan tertentu.

Sementara itu, makanan olahan seperti sarden kalengan masih bisa memiliki komposisi yang relatif sederhana. Selama bahan dasarnya jelas dan tidak dipenuhi aditif, produk tersebut tidak otomatis setara dengan UPF.

Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak salah menilai seluruh makanan kemasan sebagai produk yang sama. Dengan informasi yang tepat, konsumen dapat membedakan antara makanan olahan biasa dan produk ultra-proses.

Bijak Memilih Makanan

Pembahasan soal UPF seharusnya mendorong masyarakat lebih teliti dalam memilih makanan, bukan sekadar mengikuti tren di media sosial. Setiap produk perlu dilihat berdasarkan bahan, proses, serta tujuan pengolahannya.

Untuk konsumen, membaca label komposisi menjadi langkah paling sederhana namun efektif. Cara itu membantu mengenali apakah suatu produk hanya melalui pemrosesan dasar atau sudah masuk kategori formulasi industri yang kompleks.

Sarden kalengan dapat tetap menjadi pilihan praktis selama dikonsumsi secara wajar dan dipilih dari produk dengan komposisi yang jelas. Pertimbangan ini lebih relevan dibanding menyamaratakan semua makanan kalengan sebagai UPF.

Pada akhirnya, pemahaman tentang klasifikasi NOVA memberi gambaran bahwa istilah makanan olahan tidak selalu identik dengan buruk. Dengan literasi gizi yang baik, masyarakat dapat membuat keputusan konsumsi yang lebih cermat dan seimbang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!