Sarden Kalengan dan Risiko BPA yang Perlu Dipahami

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 16:21 WIB 2
Sarden Kalengan dan Risiko BPA yang Perlu Dipahami

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah disebut bukan termasuk ultra processed food atau UPF. Label tersebut membuat sebagian orang mengira produk ini otomatis lebih sehat, padahal penilaiannya tidak sesederhana itu.

Risiko kesehatan sarden kalengan tidak hanya ditentukan oleh tingkat pemrosesan, melainkan juga kandungan natrium dan potensi paparan BPA. Karena itu, konsumsi tetap perlu dibatasi, terutama jika dilakukan secara rutin.

Sarden kalengan dan klaim sehat

Perdebatan soal sarden kalengan muncul karena produk ini kerap dianggap lebih aman ketika tidak masuk kategori UPF. Padahal, klasifikasi pangan tidak bisa menjadi satu-satunya dasar untuk menilai manfaat kesehatan.

Dalam sistem NOVA, tingkat pemrosesan memang menjadi salah satu acuan. Namun, kandungan gizi, bahan tambahan, dan cara pengemasan juga berpengaruh besar terhadap kualitas produk.

Ahli kesehatan menilai, makanan yang diproses belum tentu buruk, tetapi juga tidak otomatis sehat. Penilaian yang lebih tepat harus melihat komposisi dan frekuensi konsumsi.

Karena itu, anggapan bahwa sarden kalengan langsung aman hanya karena bukan UPF tergolong keliru. Konsumen tetap perlu membaca label gizi sebelum membeli.

BPA pada kemasan sarden

Selain natrium, sarden kalengan juga disorot karena risiko paparan BPA atau Bisphenol A. Zat ini dikenal digunakan pada resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan.

Lapisan tersebut berfungsi melindungi makanan dari kontak langsung dengan logam. Meski begitu, dalam kondisi tertentu BPA dapat berpindah ke bahan pangan yang tersimpan di dalam kaleng.

Pemanasan dan kerusakan pada kemasan disebut dapat memperbesar peluang migrasi BPA. Jika paparan berlangsung terus-menerus, dampaknya bisa menjadi perhatian bagi kesehatan.

Risiko ini membuat keamanan produk kalengan tidak cukup dinilai dari tampilannya saja. Kondisi penyimpanan dan kualitas kemasan juga ikut menentukan tingkat keamanannya.

Hasil riset migrasi BPA

Penelitian mengenai migrasi BPA pada kemasan makanan telah dipublikasikan dalam Jurnal Keteknikan Pertanian tahun 2023. Dalam riset itu, migrasi BPA memang ditemukan, tetapi masih dalam kadar kecil.

Hasil tersebut berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari. Artinya, pada batas itu, paparan masih dianggap belum menimbulkan dampak kesehatan langsung.

Meskipun begitu, temuan rendah bukan berarti risiko sepenuhnya hilang. Paparan yang terjadi berulang dalam jangka panjang tetap menjadi perhatian para ahli.

Karena itu, hasil riset sebaiknya dibaca sebagai peringatan untuk lebih waspada, bukan alasan untuk mengabaikan konsumsi. Konsumen perlu bijak dalam memilih makanan kalengan.

Dampak kesehatan yang diwaspadai

Dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menjelaskan bahwa paparan BPA yang terus-menerus dapat mengganggu kesehatan. Dampak yang diwaspadai mencakup gangguan metabolik, gangguan hormonal, hingga risiko kanker.

Menurutnya, efek tersebut terutama menjadi perhatian bila makanan yang terkontaminasi dikonsumsi berulang. Semakin sering paparan terjadi, semakin besar pula kekhawatiran yang muncul.

Karena itu, sarden kalengan sebaiknya tidak dijadikan menu utama setiap hari. Pilihan konsumsi yang lebih bervariasi akan membantu menurunkan risiko paparan bahan tertentu.

Masyarakat juga dianjurkan memperhatikan kondisi kaleng sebelum membeli, seperti tidak penyok, berkarat, atau mengembung. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi kemungkinan masalah pada pangan kaleng.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!