Sarden Kalengan Bukan Selalu Ultra-Processed Food

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 22 Mei 2026 06:34 WIB 7
Sarden Kalengan Bukan Selalu Ultra-Processed Food

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas makanan harian. Di tengah perdebatan itu, sarden kalengan ikut menjadi sorotan setelah muncul klaim bahwa produk tersebut belum tentu masuk kategori UPF.

Perbincangan tersebut memicu rasa penasaran publik karena selama ini makanan kalengan kerap dianggap identik dengan produk olahan tinggi aditif. Padahal, penilaian terhadap makanan tidak cukup hanya berdasarkan bentuk kemasan, melainkan juga proses produksi dan komposisinya.

Definisi UPF

UPF merupakan singkatan dari ultra-processed food, sebuah istilah dalam klasifikasi NOVA yang digunakan untuk mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya. Sistem ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brasil.

Dalam klasifikasi tersebut, makanan dibagi menjadi empat kelompok, mulai dari bahan pangan segar hingga produk industri yang sangat kompleks. Perbedaan utama terletak pada jumlah bahan tambahan, tingkat pemrosesan, dan tujuan pembuatan produk.

UPF biasanya merujuk pada makanan hasil formulasi industri yang mengandung banyak bahan tambahan, seperti perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan pengawet tertentu. Contohnya adalah minuman manis kemasan, camilan tinggi gula atau garam, serta makanan siap santap tertentu.

Posisi Sarden Kalengan

Sarden kalengan tidak otomatis masuk kategori UPF hanya karena dikemas dalam kaleng. Dalam klasifikasi NOVA, sebagian ikan kalengan justru dapat masuk kelompok processed foods karena diawetkan dengan garam, minyak, atau saus sederhana.

Artinya, sarden kalengan masih bisa dianggap sebagai makanan olahan, bukan makanan ultra-olahan, selama komposisinya relatif sederhana. Penentu utamanya adalah bahan yang digunakan dan tingkat pemrosesan, bukan semata-mata penggunaan kemasan industri.

Jika produk sarden mengandung banyak aditif, perisa buatan, atau formulasi yang sangat kompleks, maka kategorinya bisa bergeser menjadi UPF. Karena itu, setiap produk perlu dilihat secara spesifik berdasarkan label komposisi yang tertera.

Batasan Kategori

Meski begitu, klasifikasi NOVA bukan satu-satunya cara membaca kualitas pangan. Sistem ini membantu memahami tingkat pemrosesan, tetapi tidak selalu menggambarkan seluruh aspek gizi dari suatu produk.

Beberapa makanan olahan tetap dapat menjadi sumber protein, energi, atau zat gizi lain yang bermanfaat. Namun, nilai manfaat tersebut tetap harus dibandingkan dengan kadar garam, gula, lemak, dan bahan tambahan lain yang terkandung di dalamnya.

Karena itu, makanan dalam kemasan tidak bisa langsung diberi cap sehat atau tidak sehat hanya dari tampilannya. Penilaian yang lebih akurat tetap memerlukan pemeriksaan komposisi, porsi konsumsi, dan kebutuhan gizi harian.

Cermat Membaca Label

Masyarakat disarankan membaca label kemasan sebelum membeli sarden atau produk olahan lain. Informasi yang perlu diperhatikan meliputi daftar bahan, kandungan natrium, kadar gula, lemak, dan adanya bahan tambahan pangan.

Semakin pendek dan sederhana daftar komposisinya, semakin mudah konsumen menilai apakah produk tersebut masih tergolong olahan sederhana atau sudah mendekati UPF. Langkah ini penting agar keputusan konsumsi tidak hanya didasarkan pada tren di media sosial.

Dengan memahami klasifikasi pangan, masyarakat dapat lebih bijak memilih makanan sesuai kebutuhan. Sarden kalengan, dalam banyak kasus, bukan otomatis UPF, tetapi tetap perlu dicek satu per satu berdasarkan formulasi produknya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!