Sarden Kalengan Bukan Otomatis UPF, Ini Penjelasannya

Lifestyle Nadia Safira Putri 22 Mei 2026 18:52 WIB 5
Sarden Kalengan Bukan Otomatis UPF, Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah muncul klaim bahwa sarden kalengan belum tentu masuk kategori tersebut. Perdebatan ini membuat banyak orang meninjau ulang anggapan bahwa semua makanan kemasan dan kalengan pasti tidak sehat. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pola makan harian, sarden kalengan pun ikut menjadi sorotan karena dinilai lebih rumit dari yang selama ini dipahami. Pertanyaannya, apakah sarden kalengan benar-benar termasuk UPF atau justru berada di kelompok lain?

Untuk menjawabnya, penting memahami bahwa tidak semua makanan olahan otomatis masuk kategori UPF. Dalam klasifikasi NOVA, tingkat pemrosesan makanan menjadi dasar utama penilaian, bukan semata-mata bentuk kemasannya. Karena itu, sarden kalengan perlu dilihat dari komposisi, cara pengolahan, dan tambahan bahan di dalamnya. Dari sana, statusnya bisa dipahami dengan lebih akurat dan tidak sekadar mengikuti asumsi di media sosial.

UPF dan klasifikasi NOVA

UPF adalah singkatan dari ultra-processed food, yakni makanan hasil formulasi industri yang umumnya mengandung banyak bahan tambahan. Istilah ini berasal dari klasifikasi NOVA yang dikembangkan oleh ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brasil. Sistem tersebut membagi makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya, bukan hanya berdasarkan apakah makanan itu dikemas atau tidak. Dengan begitu, satu produk bisa terlihat sederhana, tetapi masuk kategori berbeda jika komposisinya berubah.

Dalam klasifikasi NOVA, makanan dibagi menjadi empat kelompok yang memiliki karakteristik berbeda. Kelompok pertama adalah makanan segar atau minim proses, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua terdiri atas bahan kuliner seperti gula, garam, mentega, dan minyak yang digunakan untuk memasak. Sementara itu, kelompok ketiga adalah makanan olahan yang dibuat dengan tambahan garam, gula, atau minyak untuk memperpanjang daya simpan atau meningkatkan rasa.

Kelompok keempat adalah UPF, yaitu produk industri yang biasanya mengandung perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan bahan aditif lain. Contohnya antara lain minuman manis kemasan, snack tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, dan makanan siap santap tertentu. Ciri utamanya adalah formulasi yang kompleks dan penggunaan bahan yang jarang dipakai di dapur rumah tangga. Karena itu, UPF tidak bisa disamakan begitu saja dengan semua makanan kalengan atau kemasan.

Pemahaman terhadap NOVA penting agar masyarakat tidak salah menilai kualitas makanan hanya dari tampilannya. Sebab, proses pengalengan tidak otomatis membuat sebuah produk menjadi ultra-proses. Dalam banyak kasus, makanan kaleng justru masuk kategori makanan olahan biasa jika komposisinya masih sederhana. Penilaian yang tepat perlu melihat label, daftar bahan, dan tujuan pengolahan produk tersebut.

Sarden kalengan bukan selalu UPF

Sarden kalengan sering dianggap sebagai produk yang identik dengan makanan ultra-proses karena dijual dalam kemasan industri. Namun, anggapan itu tidak selalu tepat karena sarden kalengan bisa berada di kategori makanan olahan, bukan UPF. Jika isinya hanya ikan, garam, minyak, dan saus sederhana, maka prosesnya masih tergolong terbatas. Dengan kata lain, statusnya sangat bergantung pada formula yang digunakan produsen.

Pada banyak produk, ikan sarden diawetkan dengan penambahan garam atau minyak untuk menjaga mutu dan masa simpan. Proses seperti ini lebih dekat dengan kategori makanan olahan dalam klasifikasi NOVA. Berbeda dengan UPF yang biasanya menambahkan bahan aditif dalam jumlah lebih banyak dan lebih kompleks. Karena itu, label produk menjadi kunci untuk menilai apakah sarden kalengan termasuk makanan olahan biasa atau sudah masuk ultra-proses.

Jika sebuah sarden kalengan mengandung banyak perisa, penstabil, pengemulsi, atau bahan tambahan lain, maka kategorinya bisa bergeser mendekati UPF. Sebaliknya, produk dengan komposisi sederhana cenderung tetap berada di kelompok processed foods. Penilaian ini menunjukkan bahwa makanan kaleng tidak bisa disamaratakan. Setiap merek dan varian dapat memiliki klasifikasi berbeda tergantung formulanya.

Situasi inilah yang membuat klaim dari seorang influencer sempat memicu kejutan publik. Banyak orang terbiasa mengira semua makanan kalengan pasti ultra-proses dan otomatis tidak sehat. Padahal, klasifikasi gizi menuntut pembacaan yang lebih cermat terhadap komposisi dan derajat pengolahan. Karena itu, diskusi tentang sarden kalengan seharusnya berangkat dari fakta, bukan persepsi umum semata.

Label bahan perlu diperhatikan

Langkah paling praktis untuk menilai sarden kalengan adalah membaca label kemasan secara teliti. Daftar bahan akan menunjukkan apakah produk tersebut hanya berisi ikan dan bumbu sederhana, atau sudah ditambah berbagai aditif. Informasi ini penting karena dua produk yang sama-sama disebut sarden kalengan bisa memiliki profil gizi yang sangat berbeda. Konsumen perlu membiasakan diri memeriksa susunan bahan sebelum membeli.

Selain daftar bahan, kandungan natrium dan lemak juga patut diperhatikan. Sarden kalengan sering menggunakan garam atau minyak sebagai bagian dari proses pengawetan dan penambah rasa. Jika kadarnya tinggi, konsumsi berlebihan tetap perlu dihindari meski produk tersebut bukan UPF. Artinya, tidak masuk UPF bukan berarti bisa dikonsumsi tanpa batas.

Perhatian pada label juga membantu masyarakat membedakan makanan olahan biasa dari UPF. Banyak produk UPF memiliki daftar bahan yang sangat panjang dan berisi istilah teknis yang jarang ditemukan dalam dapur rumah. Jika sebuah sarden kalengan hanya memiliki komposisi sederhana, peluangnya lebih besar untuk masuk kelompok processed foods. Pendekatan ini jauh lebih akurat dibanding menilai dari asumsi visual semata.

Dalam praktik sehari-hari, konsumen bisa memilih produk dengan bahan yang lebih ringkas dan mudah dikenali. Pilihan seperti ini umumnya lebih sesuai bagi mereka yang ingin mengurangi asupan makanan ultra-proses. Namun, keputusan tetap harus mempertimbangkan kebutuhan gizi, pola makan, dan frekuensi konsumsi. Dengan kebiasaan membaca label, masyarakat dapat membuat pilihan yang lebih bijak dan terukur.

Bijak memilih makanan kemasan

Fenomena sarden kalengan menunjukkan bahwa diskusi tentang makanan kemasan tidak bisa disederhanakan menjadi hitam dan putih. Makanan kemasan tidak selalu buruk, sama seperti makanan segar tidak otomatis menjamin pola makan sehat jika dikonsumsi berlebihan dengan cara yang keliru. Yang lebih penting adalah memahami kualitas bahan, proses pengolahan, dan kandungan gizi tiap produk. Dengan pendekatan ini, masyarakat bisa menghindari kesimpulan yang terlalu cepat.

Kewaspadaan terhadap UPF tetap relevan karena kelompok makanan tersebut memang sering tinggi gula, garam, dan lemak tertentu. Namun, kewaspadaan itu harus diimbangi dengan pengetahuan yang tepat agar tidak memunculkan salah paham. Sarden kalengan, misalnya, bisa menjadi sumber protein yang praktis jika komposisinya sederhana dan dikonsumsi secara wajar. Penilaian yang adil akan membantu publik membedakan antara makanan olahan biasa dan produk ultra-proses.

Pola makan sehat pada dasarnya ditentukan oleh keseimbangan, bukan oleh satu jenis makanan saja. Mengonsumsi sarden kalengan sesekali tidak otomatis membuat seseorang tidak sehat, selama keseluruhan pola makannya terjaga. Sebaliknya, terlalu banyak mengandalkan makanan ultra-proses dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kesehatan tertentu. Karena itu, edukasi gizi menjadi penting untuk membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih cerdas.

Perbincangan di media sosial sebaiknya juga mendorong literasi pangan yang lebih baik di masyarakat. Informasi yang tepat dapat mengurangi ketakutan berlebihan terhadap makanan kemasan sekaligus meningkatkan kehati-hatian saat memilih produk. Sarden kalengan menjadi contoh bahwa label dan komposisi jauh lebih penting daripada stigma umum. Dengan memahami klasifikasi NOVA, konsumen dapat menilai makanan secara lebih objektif dan bertanggung jawab.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!