Sarden Kalengan Belum Tentu UPF, Ini Penjelasannya

Lifestyle Nadia Safira Putri 24 Mei 2026 08:50 WIB 6
Sarden Kalengan Belum Tentu UPF, Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai dibicarakan di media sosial, setelah muncul pertanyaan tentang posisi makanan kemasan dan kalengan dalam pola makan sehari-hari. Di tengah perdebatan itu, sarden kalengan ikut menjadi sorotan karena tidak sedikit orang yang menganggap semua produk kaleng otomatis tergolong tidak sehat.

Namun, penilaian tersebut tidak selalu tepat karena klasifikasi makanan dalam NOVA tidak hanya melihat bentuk kemasan, melainkan tingkat pemrosesan dan komposisinya. Dari sini, sarden kalengan ternyata belum tentu masuk kategori UPF, tergantung pada bahan dan cara pengolahannya.

Memahami UPF

UPF adalah singkatan dari ultra-processed food, yakni makanan yang masuk dalam klasifikasi NOVA dengan tingkat pemrosesan paling tinggi. Sistem ini dikembangkan oleh ilmuwan dari University of Sao Paulo, Brasil, untuk membedakan makanan berdasarkan proses pengolahannya.

Dalam klasifikasi tersebut, makanan dibagi menjadi empat kelompok utama yang memiliki karakteristik berbeda. Pembagian ini membantu masyarakat memahami apakah suatu produk masih dekat dengan bentuk aslinya, atau sudah melewati banyak tahap formulasi industri.

Kelompok pertama mencakup makanan yang belum diproses atau hanya diproses minimal, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua berisi bahan kuliner seperti gula, garam, mentega, dan minyak yang digunakan untuk memasak.

Posisi Sarden Kalengan

Sarden kalengan umumnya masuk dalam kategori makanan olahan atau processed foods, bukan otomatis UPF. Produk ini biasanya dibuat dengan menambahkan garam, minyak, atau saus untuk menjaga daya simpan dan memperkaya rasa.

Dengan demikian, sarden kalengan berbeda dari makanan yang menjadi formulasi industri penuh dengan berbagai aditif. Selama komposisinya sederhana dan tidak dipenuhi bahan tambahan, produk tersebut tidak serta-merta tergolong ultra-processed food.

Perbedaan ini menjadi penting karena banyak konsumen menganggap semua makanan dalam kemasan memiliki derajat pemrosesan yang sama. Padahal, makanan kalengan masih bisa berada pada level olahan biasa, selama bahan yang digunakan tidak terlalu kompleks.

Ciri Makanan UPF

Makanan UPF biasanya merupakan produk formulasi industri yang tidak sekadar diolah, tetapi dirancang agar sangat praktis dan tahan lama. Karena itu, produk jenis ini kerap mengandung banyak bahan tambahan seperti perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan pengawet.

Contoh yang sering masuk kategori ini antara lain minuman manis kemasan, snack tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, dan makanan siap santap tertentu. Komposisi yang panjang dan banyak unsur tambahan menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan.

Meski demikian, keberadaan bahan tambahan tidak selalu langsung menjadikan suatu makanan berbahaya. Yang perlu dicermati adalah frekuensi konsumsi, kandungan gizinya, serta kesesuaian produk tersebut dengan kebutuhan harian.

Kenapa Klasifikasi Ini Penting

Memahami perbedaan antara makanan olahan dan UPF membantu masyarakat membuat pilihan yang lebih cermat. Informasi ini juga dapat mencegah kesimpulan tergesa-gesa terhadap produk yang sebenarnya masih tergolong wajar dikonsumsi.

Bagi konsumen, membaca label komposisi menjadi langkah penting sebelum membeli makanan kemasan. Dari label tersebut, masyarakat bisa menilai apakah produk hanya melalui proses sederhana atau sudah melewati formulasi industri yang kompleks.

Dengan pemahaman yang lebih baik, perdebatan soal sarden kalengan dapat dilihat secara lebih objektif. Tidak semua makanan kalengan identik dengan UPF, sehingga penilaian sebaiknya didasarkan pada klasifikasi dan kandungan produk, bukan pada kemasannya semata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!