Samanta Elsener, adik pembawa acara Darius Sinathrya, mengungkap perjalanan spiritualnya hingga mantap menjadi mualaf. Kisah yang ia bagikan dalam obrolan bersama Melaney Ricardo di YouTube itu menarik perhatian publik karena sarat pengalaman personal dan refleksi batin.
Psikolog dan penulis tersebut menyebut keputusannya memeluk Islam tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia terlebih dahulu melewati masa kehilangan, pencarian makna, dan riset terhadap berbagai agama sebelum akhirnya menemukan ketenangan yang ia cari.
Perjalanan Mualaf Samanta
Samanta menceritakan bahwa titik awal ketertarikannya pada Islam muncul secara perlahan saat masih berkuliah. Setiap kali berangkat ke kampus, ia kerap melewati sebuah masjid yang menghadirkan rasa damai tanpa bisa ia jelaskan.
Pengalaman itu menjadi semakin kuat ketika ia melihat gerakan salat dan merasakan ketenangan dari suasana ibadah. Saat itu, ia belum memeluk Islam, tetapi atmosfer positif tersebut terus membekas di pikirannya.
Ia menilai ketertarikan itu tumbuh secara organik, bukan karena dorongan dari luar. Dari situ, ia mulai membuka diri untuk memahami ajaran Islam lebih dalam.
Pencarian Batin Yang Panjang
Di balik keputusan tersebut, Samanta membawa luka kehilangan ibu sejak usia balita. Pengalaman itu membuatnya tumbuh dengan pertanyaan besar tentang hidup, kesedihan, dan cara menemukan kembali ketenangan.
Ia kemudian melakukan pencarian intelektual dengan mempelajari sejumlah agama. Proses itu tidak sekadar mencari jawaban, tetapi juga menjadi bagian dari upaya healing yang ia jalani secara sadar.
Menurut Samanta, Islam memberi ruang bagi dirinya untuk berdamai dengan kegelisahan lama. Ia merasa jawaban yang ia temukan selaras dengan kebutuhan jiwanya pada masa itu.
Dukungan Keluarga Terjaga
Meskipun memilih berpindah keyakinan, Samanta menegaskan bahwa hubungannya dengan keluarga tetap harmonis. Ayahnya diketahui memiliki latar belakang perpindahan agama dan dikenal toleran terhadap pilihan hidup anak-anaknya.
Dukungan serupa juga datang dari sang kakak, Darius Sinathrya, serta iparnya, Donna Agnesia. Kehadiran mereka memberi Samanta rasa aman untuk menjalani keputusan spiritualnya tanpa harus merasa terasing.
Ia menyampaikan bahwa keluarga memahami keputusan itu sebagai bagian dari perjalanan pribadi. Sikap saling menghormati menjadi fondasi yang menjaga kedekatan mereka tetap utuh.
Makna Baru Dalam Hidup
Bagi Samanta, menjadi mualaf bukanlah bentuk pemberontakan terhadap masa lalu. Ia melihatnya sebagai proses penyembuhan yang membawanya menuju jalan yang paling sesuai bagi jiwanya.
Ia mengaku kini merasa lebih damai setelah menemukan pegangan spiritual yang ia yakini. Perasaan itu membuatnya lebih mampu menerima pengalaman hidup yang pernah menyakitkan.
Perjalanan Samanta menunjukkan bahwa pencarian iman sering kali lahir dari pergulatan yang panjang dan sunyi. Dari kisahnya, publik melihat bahwa ketenangan batin dapat ditemukan melalui proses yang jujur terhadap diri sendiri.
