Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi ini. Mata uang AS tercatat menguat 0,04 persen ke level Rp 17.853 per dolar AS. Di tengah tekanan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan keinginannya mendorong rupiah kembali menguat ke Rp 15.000. Namun, sejumlah analis menilai target tersebut sangat berat dicapai dalam waktu dekat.
Pernyataan Purbaya disampaikan saat rupiah masih berada di kisaran Rp 17.698 per dolar AS. Sementara itu, pelaku pasar mencermati berbagai sentimen negatif yang masih membayangi mata uang Garuda. Tekanan datang dari faktor eksternal, kondisi fiskal, hingga kebijakan domestik yang dinilai memicu keraguan investor. Dalam situasi ini, prospek penguatan rupiah justru dipandang semakin terbatas.
Rupiah dan Tekanan Pasar
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai peluang rupiah kembali ke level Rp 15.000 sangat kecil. Ia menyebut, sejak 2008 hingga kini, mata uang yang sudah terdepresiasi biasanya sulit pulih signifikan ke level sebelumnya. Menurutnya, rupiah saat ini masih berada dalam tren pelemahan yang cukup kuat. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan rupiah menembus level di atas Rp 18.000 per dolar AS.
Bhima menjelaskan, pelemahan rupiah banyak dipengaruhi sentimen negatif investor asing terhadap kebijakan pemerintah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Kebijakan tersebut dinilai menambah ketidakpastian di pasar. Kondisi itu membuat investor cenderung bersikap hati-hati.
Ia juga menyoroti kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam atau DHE SDA sebesar 100 persen di bank BUMN. Menurutnya, kebijakan itu belum tentu mampu menyelesaikan persoalan devisa negara. Di sisi lain, pasar justru merespons dengan langkah berjaga-jaga. Sejumlah pelaku disebut mulai menjual rupiah dan memindahkan dana ke deposito valas.
Akibatnya, permintaan dolar dari pelaku usaha maupun rumah tangga ikut meningkat. Bhima menilai masalah utama tidak bisa diselesaikan hanya dengan kewajiban DHE masuk atau pembentukan badan ekspor nasional. Ia menegaskan, tekanan terhadap rupiah sudah berasal dari berbagai arah. Karena itu, target Rp 15.000 dinilai tidak realistis dalam waktu dekat.
Target Rp 15.000 Dipertanyakan
Bhima menilai kondisi saat ini membuat rupiah hampir mustahil kembali ke level Rp 15.000 per dolar AS. Ia menekankan, tekanan fiskal yang sedang berlangsung turut membebani ruang penguatan mata uang nasional. Dalam pandangannya, target itu lebih menyerupai harapan daripada proyeksi yang didukung fundamental. Pasar, kata dia, masih bergerak dengan sentimen yang belum stabil.
Ia juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah telah menembus level psikologis Rp 17.000 dan mendekati Rp 18.000. Jika kondisi tersebut berlanjut, menurutnya, pasar akan semakin sulit percaya pada skenario penguatan cepat. Investor cenderung menunggu kejelasan kebijakan sebelum kembali masuk ke aset rupiah. Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan pasar menjadi faktor kunci.
Sementara itu, tekanan dari pasar global juga belum mereda. Dolar AS masih dipandang sebagai aset yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Situasi tersebut membuat aliran dana lebih banyak mengarah ke dolar. Alhasil, rupiah menghadapi tekanan ganda dari dalam dan luar negeri.
Bhima menilai pemerintah perlu fokus pada pemulihan kepercayaan pasar. Menurutnya, stabilitas kebijakan akan lebih menentukan ketimbang sekadar menetapkan target kurs. Tanpa perbaikan fundamental, rupiah berisiko tetap berada dalam tekanan. Karena itu, penguatan ke level Rp 15.000 belum dianggap sebagai skenario yang masuk akal.
Faktor Fundamental Masih Berat
Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi juga menilai target rupiah ke Rp 15.000 sulit dicapai. Ia menyebut target tersebut lebih sebagai angan-angan di tengah kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya, dinamika geopolitik dan faktor domestik masih menekan nilai tukar. Karena itu, ruang penguatan rupiah dinilai sangat terbatas.
Ibrahim memperkirakan rupiah justru berpotensi menembus Rp 18.000 per dolar AS pada pekan depan. Ia menyoroti fundamental ekonomi Indonesia yang masih menyimpan persoalan struktural. Salah satunya adalah defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi. Kondisi ini membuat kebutuhan dolar tetap tinggi.
Ia menjelaskan, asumsi harga minyak dalam APBN berada di kisaran US$70 per barel dengan kurs Rp 16.500. Namun, saat rupiah berada di sekitar Rp 17.900 dan harga minyak mentah di atas US$90, beban pemerintah menjadi jauh lebih besar. Impor minyak mentah juga disebut masih tinggi, dengan 85 persen beban masuk ke subsidi. Hal ini memperlebar tekanan terhadap fiskal negara.
Selain itu, perusahaan asing di Indonesia juga membutuhkan dolar untuk membagikan dividen kepada pemegang saham. Menurut Ibrahim, kebutuhan tersebut ikut mendorong permintaan dolar di dalam negeri. Di sisi lain, investor global juga mencari aset yang lebih aman di tengah pelemahan rupiah. Kombinasi faktor ini memperkuat tren tekanan pada mata uang Garuda.
Emas dan Dolar Jadi Pilihan
Ibrahim menilai pergerakan harga emas dunia saat ini masih fluktuatif di tengah ketidakpastian global. Saat dolar AS menguat terhadap rupiah, investor cenderung memindahkan portofolio ke instrumen dolar. Pergeseran itu dilakukan untuk mengejar keuntungan jangka pendek. Akibatnya, minat terhadap emas dan aset sejenis ikut tertekan.
Ia menyebut sebagian dana dari emas fisik maupun emas digital mulai dialihkan ke dolar. Menurutnya, momentum yang lebih menarik saat ini memang ada pada indeks dolar. Investor, kata dia, mencari peluang pada aset yang sedang menguat. Kondisi ini membuat pelemahan rupiah semakin sulit dibendung.
Pada saat yang sama, kebijakan pemerintah terkait Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI juga dinilai menambah keraguan pasar. Investor asing disebut mempertanyakan kepastian regulasi yang akan diterapkan. Ketidakpastian tersebut dapat memengaruhi keputusan investasi di Indonesia. Jika berlanjut, arus modal berpotensi bergeser ke negara lain.
Dengan berbagai tekanan yang ada, pasar masih menunggu sinyal kebijakan yang lebih meyakinkan. Stabilitas fiskal, kepastian regulasi, dan pasokan dolar menjadi faktor penting untuk meredam pelemahan rupiah. Tanpa dukungan tiga hal itu, target penguatan ke Rp 15.000 sulit diwujudkan. Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan tetap bergerak di bawah tekanan dolar AS.
