Rupiah Tertekan, Industri Satelit Dinilai Punya Peluang

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 29 Mei 2026 06:46 WIB 2
Rupiah Tertekan, Industri Satelit Dinilai Punya Peluang

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus Rp17.500 memberi tekanan langsung pada industri satelit nasional. Sebagian besar kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada komponen impor dan transaksi valuta asing.

Di tengah kondisi itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menilai pelemahan rupiah justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat industri satelit dan manufaktur dalam negeri. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Rupiah dan industri satelit

Sigit menilai pelemahan rupiah harus dibaca sebagai sinyal untuk mendorong penguatan industri lokal. Ia menyebut Indonesia cukup kuat di level Asia Tenggara, tetapi masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lain. Karena itu, tekanan kurs seharusnya tidak hanya dipandang sebagai risiko, melainkan juga pemicu pembenahan.

Menurutnya, industri satelit sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS karena komponen utama masih banyak dibeli dari luar negeri. Saat rupiah melemah, biaya produksi ikut naik dan menekan margin pelaku usaha. Kondisi ini membuat pelaku industri harus mencari strategi yang lebih efisien dan mandiri.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah dapat menjadi dorongan bagi pelaku usaha untuk memperbesar penggunaan produk lokal. Jika porsi komponen dalam negeri meningkat, ketergantungan terhadap impor dapat berkurang secara bertahap. Dalam jangka panjang, hal itu dapat memperkuat ekosistem satelit nasional.

Sigit menilai momentum ini penting agar industri tidak terus berada dalam posisi defensif. Ia menekankan bahwa penguatan manufaktur lokal perlu berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas teknologi. Dengan begitu, tekanan kurs tidak hanya menjadi beban, tetapi juga pemicu transformasi industri.

Ekspor beri ruang keuntungan

Sigit menjelaskan bahwa penguatan dolar justru menguntungkan sektor yang berorientasi ekspor. Dalam skema tersebut, biaya produksi dibayar dalam rupiah, sementara pendapatan diterima dalam dolar AS. Selisih itu memberi ruang margin yang lebih besar bagi perusahaan lokal.

Ia menilai kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh industri teknologi dan satelit nasional untuk memperluas pasar. Selama produk dan layanan mampu bersaing, pelemahan rupiah bisa menjadi keuntungan tersendiri. Hal ini terutama berlaku bagi perusahaan yang sudah memiliki akses ke pasar internasional.

Menurutnya, pelaku industri perlu melihat kurs bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga variabel bisnis yang bisa diantisipasi. Strategi ekspor yang disiapkan sejak awal akan membantu perusahaan bertahan saat nilai tukar bergejolak. Pada saat yang sama, perusahaan dapat memperkuat arus pendapatan dalam mata uang asing.

Sigit menegaskan bahwa industri yang punya orientasi ekspor akan lebih mudah berkembang bila didukung ekosistem yang sehat. Pemerintah, pelaku usaha, dan investor dinilai perlu bergerak bersama agar sektor ini lebih kompetitif. Dengan dukungan itu, Indonesia berpeluang memperkuat posisi di rantai pasok teknologi regional.

Investasi lokal perlu diperbesar

Di tengah melambatnya investasi asing, Sigit mendorong investor domestik untuk lebih agresif menanamkan modal di sektor teknologi nasional. Menurutnya, penguatan industri dalam negeri tidak harus selalu menunggu modal dari luar. Justru saat ini, dana lokal bisa mengambil peran penting dalam mendorong pertumbuhan.

Ia menilai investasi dalam negeri dapat mengisi ruang yang belum tersentuh investor asing. Langkah itu akan membantu pelaku usaha bertahan, sekaligus mempercepat pembangunan kapasitas produksi. Dalam pandangannya, modal lokal memiliki kedekatan yang lebih kuat dengan kebutuhan pasar nasional.

Sigit juga menyebut pasar domestik dapat menjadi tahap awal pengembangan produk sebelum menembus pasar global. Dengan basis pelanggan di dalam negeri, perusahaan memiliki ruang untuk menguji model bisnis dan meningkatkan kualitas. Setelah itu, ekspansi ekspor dapat dilakukan secara lebih terukur.

Ia menilai pola tersebut sangat menguntungkan bagi industri teknologi dan satelit Indonesia. Ketika pasar domestik kuat, perusahaan akan lebih siap menghadapi persaingan eksternal. Karena itu, lokal investing disebutnya sebagai salah satu kunci percepatan industrialisasi nasional.

Generasi muda dan kemandirian

Selain soal investasi, Sigit menekankan pentingnya menanamkan pola pikir industri sejak dini kepada generasi muda. Ia menilai Indonesia perlu membangun kesadaran bahwa teknologi bukan hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga harus diproduksi sendiri. Cara pandang itu dinilai penting agar kemandirian industri dapat tumbuh dari hulu ke hilir.

Ia menyebut pendidikan dan lingkungan industri perlu mendorong generasi muda untuk memahami rantai produksi teknologi. Pengetahuan tersebut akan membantu mereka melihat peluang di sektor satelit, manufaktur, dan ekspor. Dengan bekal yang tepat, talenta muda dapat menjadi bagian dari penguatan industri nasional.

Menurutnya, masa depan industri teknologi Indonesia sangat ditentukan oleh keberanian membangun kapasitas sendiri. Ketergantungan pada impor harus dikurangi secara bertahap agar daya saing nasional meningkat. Dalam jangka panjang, kemandirian itu akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Sebelumnya, rupiah dilaporkan terus terpuruk hingga menembus kisaran Rp17.500 per dolar AS dan mencatat level terendah sepanjang masa. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan membantu Bank Indonesia mengendalikan tekanan terhadap rupiah mulai keesokan harinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas kurs masih menjadi perhatian utama pemerintah dan pelaku industri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!