Rupiah Tertekan, Analis Nilai Target Rp15.000 Mustahil

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 29 Mei 2026 17:55 WIB 6
Rupiah Tertekan, Analis Nilai Target Rp15.000 Mustahil

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi ini, seiring penguatan mata uang Paman Sam di pasar global. Pergerakan tersebut menempatkan rupiah di level Rp 17.853 per dolar AS, atau turun 0,04 persen dari sebelumnya.

Di tengah tekanan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan mendorong rupiah kembali menguat hingga ke level Rp 15.000 per dolar AS. Namun, sejumlah analis menilai target tersebut sulit dicapai karena tekanan eksternal dan domestik masih kuat.

Rupiah Masih Di Bawah Tekanan

Penguatan dolar AS membuat rupiah kembali berada dalam posisi rentan di pasar валютa. Pada saat yang sama, mata uang Garuda sempat terpantau berada di level Rp 17.698 per dolar AS sebelum kembali melemah.

Pergerakan ini menunjukkan volatilitas rupiah masih tinggi di tengah sentimen global yang belum stabil. Investor cenderung berhati-hati karena arah kebijakan moneter dan fiskal masih menjadi perhatian.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memantau ketat setiap pernyataan pemerintah mengenai stabilitas nilai tukar. Ekspektasi terhadap rupiah pun bergantung pada kemampuan otoritas menjaga kepercayaan pasar.

Target Rp 15.000 Dinilai Sulit

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai kecil kemungkinan rupiah bisa kembali menguat signifikan ke level beberapa tahun sebelumnya. Menurut dia, pelemahan yang sudah berlangsung sejak 2008 membuat pemulihan ke Rp 15.000 hampir mustahil.

Bhima menegaskan rupiah justru masih berpotensi tertekan lebih dalam dan bisa menembus level di atas Rp 18.000 per dolar AS. Ia melihat tekanan itu sebagai konsekuensi dari sentimen negatif investor terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.

Ia juga menilai pelemahan rupiah tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan ekspor satu pintu maupun kewajiban penempatan devisa hasil ekspor. Menurutnya, persoalan utama terletak pada kepercayaan pasar yang belum pulih.

Kebijakan Picu Sikap Hati-hati

Bhima menyebut kebijakan seperti rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI memicu keraguan investor. Di sisi lain, aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam di perbankan BUMN juga dinilai belum tentu menyelesaikan masalah devisa.

Menurut dia, kebijakan tersebut justru mendorong sebagian pelaku pasar mengambil langkah defensif. Mereka memilih menjual rupiah dan memindahkan dana ke deposito valas maupun deposito dolar AS.

Situasi itu membuat permintaan dolar dari pelaku usaha dan rumah tangga ikut meningkat. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar dan sulit diredam dalam waktu singkat.

Geopolitik Dan Defisit Menekan

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai target rupiah kembali ke Rp 15.000 hanya sebatas harapan. Ia menekankan, dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi domestik saat ini belum mendukung penguatan signifikan.

Ibrahim menyoroti defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah. Saat harga minyak naik dan rupiah melemah, beban pemerintah untuk menutup kebutuhan devisa semakin berat.

Ia juga melihat kebutuhan dolar di pasar modal tetap tinggi karena banyak perusahaan asing harus membagikan dividen kepada pemegang saham. Selain itu, ketidakpastian global membuat dana beralih dari emas ke dolar AS sebagai aset yang dinilai lebih menarik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!