Rupiah Melemah ke Rp17.949, Tekanan Global Masih Kuat

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 31 Mei 2026 09:46 WIB 3
Rupiah Melemah ke Rp17.949, Tekanan Global Masih Kuat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, dan sempat menyentuh level Rp17.949 per dolar AS. Pergerakan harian mata uang Garuda berada di rentang Rp17.772 hingga Rp17.995, menandakan volatilitas pasar masih tinggi.

Data Google Finance juga menunjukkan dolar AS sempat berada di level Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC, sebelum bergerak ke Rp17.850 atau menguat 0,37 persen. Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membuat investor cenderung memilih aset safe haven.

Tekanan Rupiah dari Global

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan pada rupiah datang dari faktor eksternal yang saling menguatkan. Salah satunya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi global, terutama pada jalur perdagangan minyak Selat Hormuz. Ketidakpastian tersebut mendorong investor mencari perlindungan ke dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.

Di sisi lain, pasar juga memperkirakan The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ekspektasi ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena membuat arus modal cenderung kembali ke pasar Amerika Serikat.

Rupiah dan Tekanan Domestik

Selain faktor global, rupiah juga tertekan oleh kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang meningkat. Permintaan terutama datang dari impor minyak, pembayaran dividen, dan kewajiban utang yang jatuh tempo.

Ibrahim menilai kondisi fiskal domestik turut menjadi perhatian pelaku pasar. Investor disebut masih mencermati efektivitas sejumlah program pemerintah yang dinilai dapat memengaruhi persepsi terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Tekanan internal ini membuat rupiah lebih rentan saat pasar global berada dalam fase tidak pasti. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung menahan risiko dan memperbesar kepemilikan aset berdenominasi dolar AS.

Intervensi BI Tetap Terbatas

Ibrahim menyebut tekanan eksternal dan internal yang muncul bersamaan membuat ruang stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia menjadi semakin terbatas. Meski demikian, bank sentral tetap melakukan intervensi di pasar valas untuk meredam gejolak.

Menurutnya, upaya BI sudah dilakukan secara maksimal di tengah besarnya tekanan pasar. Namun, kekuatan permintaan dolar dan sentimen global membuat hasil intervensi belum cukup untuk membalikkan arah pergerakan rupiah.

Pasar kini menunggu sinyal lanjutan dari kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selama dua faktor itu belum mereda, rupiah berpotensi masih bergerak dalam tekanan.

Prospek Rupiah ke Depan

Ke depan, arah rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga energi global dan kebijakan suku bunga The Fed. Jika ketegangan geopolitik berlanjut, kebutuhan terhadap aset aman berpotensi tetap tinggi.

Di sisi lain, stabilitas domestik dan konsistensi kebijakan pemerintah menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor. Kinerja fiskal yang terjaga dapat membantu meredam kekhawatiran pasar terhadap risiko ekonomi Indonesia.

Dengan kombinasi tekanan luar negeri dan kebutuhan dolar yang tinggi di dalam negeri, rupiah diperkirakan masih menghadapi fase yang menantang. Pasar akan terus memantau intervensi BI, arah inflasi global, dan arus modal asing dalam beberapa waktu mendatang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!