Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat menjelang penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, kurs dolar AS sempat menyentuh Rp17.902 pada pukul 14.11 WIB, setelah bergerak menguat dari level pembukaan Rp17.820. Pada penutupan perdagangan Kamis, dolar AS berada di posisi Rp17.845, sementara rupiah tercatat melemah 7,33 persen sepanjang 2026. Pergerakan ini menunjukkan tekanan yang masih kuat terhadap mata uang Garuda di tengah ketidakpastian pasar.
Pelemahan rupiah juga terlihat terhadap dolar Singapura, yang menurut data Tradingview sempat mencapai Rp14.010 pada pukul 14.24 WIB. Bloomberg memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.813 hingga Rp17.904 hingga akhir perdagangan, sedangkan dolar Singapura diproyeksikan berada pada kisaran Rp13.932 hingga Rp14.014. Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan rupiah dipicu oleh persoalan struktural perekonomian nasional. Salah satu faktor utama adalah defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah.
Rupiah Tertekan Jelang Penutupan
Perdagangan rupiah pada Jumat berlangsung fluktuatif sejak awal sesi. Mata uang Garuda sempat menguat dan menekan dolar AS, namun tren itu tidak bertahan lama. Setelah itu, tekanan beli terhadap dolar AS kembali meningkat hingga mendorong kurs ke level Rp17.902. Kondisi tersebut mencerminkan sentimen pasar yang masih condong pada penguatan dolar.
Di sisi lain, posisi penutupan sehari sebelumnya memberi gambaran bahwa tekanan belum mereda. Pada Kamis, dolar AS ditutup di level Rp17.845, dan selisih pergerakan pada hari berikutnya menunjukkan pelemahan yang berlanjut. Rupiah juga masih mencatat koreksi tajam sepanjang tahun berjalan. Jika tekanan ini tidak segera mereda, pasar berpotensi menghadapi volatilitas yang lebih besar.
Bloomberg memperkirakan rupiah tetap bergerak dalam kisaran yang sempit tetapi rapuh. Rentang Rp17.813 hingga Rp17.904 menunjukkan ruang pelemahan masih terbuka. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung mencermati data eksternal dan arus sentimen global. Arah dolar AS yang menguat menjadi faktor utama yang menahan pemulihan rupiah.
Tekanan Rupiah dari Faktor Struktur
Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah bukan semata akibat sentimen jangka pendek. Ia melihat ada persoalan mendasar dalam struktur ekonomi nasional yang belum terselesaikan. Salah satunya adalah defisit neraca transaksi berjalan yang membuat kebutuhan devisa tetap tinggi. Ketergantungan pada impor energi ikut memperberat tekanan terhadap mata uang domestik.
Menurutnya, impor minyak mentah masih menjadi sumber kerentanan yang nyata. Saat harga energi global bergerak tidak menentu, kebutuhan valas untuk membiayai impor menjadi semakin besar. Kondisi ini membuat rupiah lebih mudah tertekan ketika dolar AS menguat. Dengan demikian, pelemahan rupiah memiliki akar yang lebih dalam dibandingkan sekadar pergerakan harian pasar.
Tekanan struktural seperti ini biasanya membutuhkan kebijakan yang konsisten dan berjangka panjang. Pasar tidak hanya melihat intervensi jangka pendek, tetapi juga kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan eksternal. Jika defisit transaksi berjalan terus melebar, rupiah akan tetap rentan terhadap guncangan. Karena itu, penguatan fundamental ekonomi menjadi kunci utama bagi pemulihan nilai tukar.
Proyeksi Rupiah Menjelang Pekan Depan
Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah pada perdagangan berikutnya. Ia menyebut level Rp18.000 sudah berada di depan mata jika tekanan pasar tidak berbalik. Bahkan, menurutnya, rupiah bisa saja menyentuh Rp18.200 pada pekan depan. Proyeksi ini mencerminkan kekhawatiran terhadap minimnya ruang penguatan dalam waktu dekat.
Ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih menimbang risiko domestik dan global secara bersamaan. Selama dolar AS tetap kuat, rupiah akan kesulitan membangun momentum pemulihan. Selain itu, pelaku pasar cenderung bersikap defensif ketika proyeksi pelemahan makin terbuka. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut meski pergerakan intraday tampak dinamis.
Dalam konteks perdagangan valuta asing, level psikologis seperti Rp18.000 kerap menjadi perhatian utama. Jika level itu ditembus, sentimen pasar dapat berubah menjadi lebih hati-hati. Kondisi tersebut berpotensi memicu aksi lindung nilai dan memperbesar tekanan jangka pendek. Oleh karena itu, arah rupiah pada pekan depan akan sangat dipengaruhi oleh respons pasar terhadap level kunci tersebut.
Dolar Singapura Ikut Menguat
Selain terhadap dolar AS, rupiah juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar Singapura. Berdasarkan data Tradingview, mata uang tersebut sempat berada di level Rp14.010 pada Jumat siang. Pergerakan ini menandakan tekanan rupiah tidak terbatas pada satu pasangan mata uang saja. Tren pelemahan yang meluas memperlihatkan lemahnya daya tahan rupiah di pasar regional.
Bloomberg memperkirakan dolar Singapura bergerak dalam rentang Rp13.932 hingga Rp14.014 hingga penutupan perdagangan. Kisaran tersebut menunjukkan volatilitas yang masih cukup tinggi. Bagi pasar, perubahan nilai tukar terhadap mata uang kawasan biasanya menjadi sinyal tambahan mengenai sentimen regional. Jika rupiah terus tertekan, arus keluar modal dapat menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan dan perkembangan eksternal berikutnya. Pemulihan rupiah memerlukan dukungan dari stabilitas makroekonomi dan perbaikan neraca eksternal. Tanpa itu, tekanan terhadap nilai tukar akan tetap mudah muncul pada setiap sesi perdagangan. Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih akan memantau pergerakan dolar AS sebagai acuan utama.
