Rupiah Melemah ke Rp17.850, Ini Pemicu Tekanannya

Forex & Saham Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 01:08 WIB 2
Rupiah Melemah ke Rp17.850, Ini Pemicu Tekanannya

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis, 28 Mei 2026, seiring meningkatnya tekanan dari faktor eksternal dan domestik. Berdasarkan data Investing, kurs dolar AS sempat bergerak di level Rp17.949, dengan rentang harian Rp17.772 hingga Rp17.995.

Data Google Finance juga menunjukkan dolar AS sempat berada di Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC, lalu berbalik ke level Rp17.850 atau menguat 0,37 persen. Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah terjadi karena investor cenderung masuk ke aset aman di tengah ketidakpastian global.

Tekanan Rupiah Kian Terasa

Pelemahan rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh kombinasi sentimen global dan kebutuhan valas di dalam negeri. Kondisi ini membuat dolar AS kembali diburu pelaku pasar sebagai aset safe haven.

Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal dan internal yang bergerak bersamaan. Menurutnya, situasi tersebut mempersempit ruang gerak mata uang Garuda untuk kembali menguat.

Di pasar, investor cenderung berhati-hati ketika ketidakpastian meningkat. Aliran dana pun bergerak menuju instrumen yang dinilai lebih aman dan likuid.

Dalam kondisi seperti ini, pergerakan rupiah menjadi sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Setiap kabar negatif dari luar negeri berpotensi mempercepat pelemahan mata uang domestik.

Geopolitik Dorong Permintaan Dolar

Dari sisi eksternal, pasar mencermati memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.

Situasi itu memunculkan risiko gangguan distribusi energi global, terutama pada jalur perdagangan minyak Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute penting bagi pengiriman energi dunia.

Ketika risiko geopolitik meningkat, harga energi biasanya ikut bergerak naik. Kenaikan ini kemudian menambah kecemasan pasar terhadap prospek inflasi global.

Dalam pandangan Ibrahim, kondisi tersebut dapat memperkuat permintaan dolar AS di pasar internasional. Mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pun menjadi lebih rentan terhadap tekanan jual.

Ekspektasi The Fed Menekan Pasar

Faktor eksternal lain datang dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar menilai The Federal Reserve berpeluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Sikap tersebut menjadi sentimen negatif bagi mata uang emerging market karena imbal hasil aset dolar tetap menarik. Dalam situasi ini, investor cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar negara berkembang.

Harga energi yang tinggi juga berpotensi mendorong inflasi global. Jika inflasi bertahan tinggi, ruang pelonggaran kebijakan The Fed akan semakin sempit.

Ibrahim mengatakan kondisi itu membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah semakin berat untuk diredam.

BI Hadapi Ruang Terbatas

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kebutuhan dolar AS yang meningkat. Permintaan itu berasal dari impor minyak, pembayaran dividen, dan kewajiban utang jatuh tempo.

Ibrahim menambahkan, pelaku pasar masih mencermati kondisi fiskal domestik serta efektivitas program pemerintah. Dua hal tersebut ikut memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Bank Indonesia disebut sudah melakukan intervensi di pasar valas untuk menahan volatilitas rupiah. Namun, tekanan yang datang bersamaan dari eksternal dan internal membuat upaya tersebut tidak mudah.

BI sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin, tetapi tekanan pasar masih cukup besar, kata Ibrahim. Menurutnya, stabilisasi rupiah membutuhkan dukungan sentimen global yang lebih kondusif serta kepercayaan pasar yang membaik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!