Rupiah Melemah, Industri Satelit Dinilai Punya Peluang

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 22 Mei 2026 01:10 WIB 7
Rupiah Melemah, Industri Satelit Dinilai Punya Peluang

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp17.500 memberi tekanan besar pada industri satelit nasional. Mayoritas kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada komponen dan pembayaran dalam mata uang asing. Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha justru melihat peluang untuk memperkuat industri dalam negeri.

Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro, menilai depresiasi rupiah harus dibaca sebagai momentum untuk membangun ekosistem teknologi nasional. Pandangan itu ia sampaikan dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Menurut dia, ketergantungan terhadap produk impor perlu dikurangi agar industri lokal lebih tahan terhadap gejolak kurs.

Dampak Kurs

Nilai tukar rupiah yang melemah langsung berdampak pada biaya operasional industri satelit. Pembelian perangkat, komponen, dan layanan luar negeri menjadi lebih mahal ketika transaksi menggunakan dolar AS. Situasi ini membuat pelaku industri harus menyesuaikan strategi bisnis agar tetap efisien.

Sigit menyebut Indonesia sebenarnya memiliki posisi yang cukup kuat di Asia Tenggara. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia, daya saing nasional masih tertinggal. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang perbaikan di sektor teknologi satelit.

Menurut dia, pelemahan rupiah tidak semata-mata harus dipandang sebagai ancaman. Dalam kondisi tertentu, tekanan kurs dapat menjadi pemicu bagi industri untuk memperkuat kapasitas produksi domestik. Dengan begitu, ketergantungan terhadap impor dapat ditekan secara bertahap.

Peluang Industri Lokal

Sigit menilai penguatan rupiah yang lemah justru dapat mendorong industrialisasi di dalam negeri. Ketika biaya impor meningkat, pelaku usaha akan terdorong mencari alternatif produksi lokal yang lebih kompetitif. Hal ini dinilai dapat memperluas pasar bagi manufaktur nasional.

Ia mencontohkan sektor yang berorientasi ekspor cenderung diuntungkan saat dolar menguat. Produksi berbasis rupiah, tetapi pendapatan diterima dalam dolar AS, sehingga selisih kurs dapat menjadi tambahan margin. Kondisi itu, menurutnya, bisa dimanfaatkan untuk memperkuat rantai pasok domestik.

Di sisi lain, pasar dalam negeri juga dapat dijadikan tahap awal pengembangan industri. Setelah model bisnis terbentuk, pelaku usaha dapat memperluas jangkauan ke pasar global. Pola tersebut dinilai lebih realistis untuk membangun daya saing jangka panjang.

Dorong Investasi Domestik

Melambatnya arus modal asing membuat investasi domestik menjadi semakin penting. Sigit mendorong investor lokal untuk mengambil peran lebih besar dalam pengembangan industri teknologi nasional. Menurut dia, momentum saat ini tidak seharusnya dibiarkan berlalu tanpa aksi nyata.

Ia menegaskan, jika investasi asing belum masuk, maka saatnya local investing diperkuat. Dana dari dalam negeri dapat diarahkan ke sektor yang memiliki efek pengganda tinggi, termasuk satelit dan manufaktur teknologi. Dengan dukungan modal lokal, industri bisa tumbuh lebih stabil.

Penguatan investasi domestik juga dinilai penting untuk membangun ekosistem yang tidak mudah terguncang oleh perubahan eksternal. Ketika kebutuhan pokok industri dipenuhi dari dalam negeri, risiko pelemahan kurs dapat ditekan. Pada saat yang sama, lapangan kerja dan kapasitas produksi nasional berpotensi meningkat.

Kemandirian Teknologi

Sigit menilai penting untuk menanamkan pola pikir industri dan ekspor sejak dini kepada generasi muda. Langkah itu diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen teknologi. Pendidikan dan ekosistem usaha disebut perlu bergerak searah untuk mendukung tujuan tersebut.

Ia menekankan bahwa kemandirian industri tidak bisa dibangun secara instan. Diperlukan konsistensi kebijakan, dukungan investasi, dan keberanian pelaku usaha untuk berinovasi. Tanpa tiga hal itu, ketergantungan pada impor akan terus berulang.

Di tengah tekanan rupiah, industri satelit nasional dinilai berada pada titik penting. Tekanan biaya memang nyata, tetapi peluang untuk memperkuat basis produksi dalam negeri juga terbuka lebar. Jika momentum ini dimanfaatkan, Indonesia berpeluang memperbaiki posisi dalam persaingan teknologi regional.

Selain ASSI, situasi rupiah yang melemah juga menjadi perhatian pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan membantu Bank Indonesia mengendalikan tekanan terhadap rupiah. Pernyataan itu menunjukkan stabilitas kurs masih menjadi fokus utama di tengah gejolak pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!