Rupiah Melemah, Dolar AS Tembus Rp17.858

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 01 Juni 2026 01:02 WIB 2
Rupiah Melemah, Dolar AS Tembus Rp17.858

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, di tengah penguatan mata uang Amerika Serikat di pasar global. Berdasarkan data Bloomberg sekitar pukul 09.10 WIB, dolar AS berada di level Rp17.858, atau menguat 57 poin setara 0,32 persen.

Pergerakan tersebut terjadi saat dolar AS juga menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia, termasuk won Korea, yen Jepang, dolar Kanada, dan franc Swiss. Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp17.800 tidak masuk akal karena fundamental ekonomi Indonesia disebut masih baik.

Rupiah Tertekan di Pasar

Tekanan terhadap rupiah terlihat sejak awal perdagangan ketika dolar AS bergerak lebih kuat dibandingkan mata uang lain. Kondisi ini membuat pelaku pasar memantau arah kebijakan moneter dan arus modal asing secara lebih hati-hati.

Data Bloomberg menunjukkan penguatan dolar AS terjadi serentak terhadap beberapa mata uang utama. Won Korea melemah 0,51 persen, yen Jepang turun 0,05 persen, dolar Kanada terkoreksi 0,09 persen, dan franc Swiss turun 0,20 persen.

Meski demikian, dolar AS tercatat melemah tipis 0,03 persen terhadap dolar Hong Kong. Pola ini menunjukkan penguatan mata uang Paman Sam masih berlangsung, namun tidak merata di seluruh pasangan valuta asing.

Purbaya Nilai Tak Masuk Akal

Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus stres melihat pelemahan rupiah yang cukup dalam. Ia menilai pergerakan hingga Rp17.800 per dolar AS tidak sejalan dengan kondisi ekonomi domestik yang menurutnya masih solid.

Dalam keterangannya di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu, Purbaya menegaskan bahwa pelemahan kurs biasanya terjadi ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi. Namun, dalam situasi saat ini, ia menyebut fundamental Indonesia justru berada pada kondisi yang baik.

Karena itu, ia menyebut pelemahan rupiah kali ini sulit dijelaskan hanya dari sisi ekonomi riil. Pemerintah, menurutnya, perlu memastikan stabilitas pasar agar pergerakan nilai tukar tidak semakin jauh dari kondisi yang dianggap wajar.

Yield Obligasi Mulai Turun

Di tengah tekanan pada rupiah, Purbaya menyebut imbal hasil atau yield obligasi pemerintah justru mengalami penurunan. Menurutnya, hal itu mencerminkan pasar Surat Berharga Negara masih relatif terkendali.

Ia menjelaskan penurunan yield tidak terlepas dari langkah pemerintah melakukan intervensi di pasar obligasi melalui treasury operation. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas pasar dan menahan gejolak nilai tukar.

Selama pasar obligasi Indonesia stabil, Purbaya menilai aliran modal asing akan tetap masuk. Arus dana tersebut dinilai penting untuk membantu menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Langkah Lanjutan Pemerintah

Purbaya menegaskan pemerintah masih akan melakukan aksi lanjutan untuk menjaga nilai tukar rupiah. Langkah ini disiapkan jika tekanan pasar berlanjut dan memengaruhi stabilitas keuangan lebih luas.

Strategi tersebut diharapkan mampu meredam volatilitas rupiah tanpa mengganggu dinamika pasar secara berlebihan. Pemerintah juga berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas kurs, pasar obligasi, dan arus modal asing.

Dalam konteks ini, arah kebijakan fiskal dan intervensi pasar akan menjadi perhatian utama pelaku pasar. Rupiah diperkirakan masih bergerak sensitif terhadap perubahan sentimen global dan perkembangan kebijakan domestik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!