Rupiah Dekati Rp17.800, Menkeu Nilai Pelemahan Tak Masuk Akal

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 31 Mei 2026 07:25 WIB 5
Rupiah Dekati Rp17.800, Menkeu Nilai Pelemahan Tak Masuk Akal

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mendekati level Rp17.800 per dolar pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Di tengah tekanan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.

Pada penutupan perdagangan, dolar AS menguat 0,29 persen atau 52 poin ke level Rp17.795. Purbaya menyampaikan pandangan tersebut saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu, 27 Mei 2026, sembari menegaskan pemerintah belum melihat perlunya pengujian ulang terhadap APBN.

Rupiah dan fundamental ekonomi

Purbaya menyebut pelemahan rupiah saat ini tidak masuk akal jika dilihat dari kondisi ekonomi nasional. Ia menegaskan fundamental Indonesia masih berada dalam posisi yang bagus.

Menurut dia, nilai tukar biasanya melemah ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi. Karena itu, situasi rupiah yang tertekan saat ini dinilai tidak mencerminkan kondisi riil perekonomian.

Ia juga menekankan bahwa pelemahan rupiah terjadi di saat indikator ekonomi domestik masih terjaga. Pandangan tersebut menjadi alasan pemerintah belum melihat adanya kepanikan terhadap pergerakan kurs.

Dalam keterangannya, Purbaya menilai pasar masih perlu membaca data ekonomi secara lebih utuh. Ia mengingatkan bahwa tekanan jangka pendek tidak selalu mencerminkan arah fundamental ekonomi yang sebenarnya.

APBN belum perlu diuji ulang

Ketika ditanya mengenai kemungkinan stress test APBN akibat pelemahan rupiah, Purbaya menjawab tidak perlu. Ia menyebut pemerintah sudah menghitung berbagai skenario, termasuk saat harga minyak dunia berada di level US$100 per barel.

Ia menjelaskan, asumsi rupiah dalam simulasi tersebut juga telah diperhitungkan sejak awal. Karena itu, menurut dia, APBN tidak membutuhkan penghitungan ulang hanya karena perubahan kurs saat ini.

Purbaya bahkan menyampaikan komentar ringan bahwa dirinya yang justru stres menghadapi pertanyaan tersebut. Ucapan itu ia sampaikan untuk menegaskan bahwa fiskal negara masih berada dalam kendali.

Dengan simulasi yang sudah disiapkan sebelumnya, pemerintah menilai ruang fiskal masih cukup aman. Kondisi itu membuat evaluasi APBN tetap berjalan dalam koridor perencanaan yang sudah ditetapkan.

Yield obligasi ikut terjaga

Di tengah rupiah yang melemah, Purbaya mengatakan imbal hasil atau yield obligasi Indonesia justru mengalami penurunan. Menurut dia, kondisi ini terjadi karena pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara melalui treasury operation.

Langkah tersebut dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk menjaga stabilitas pasar. Intervensi itu ditujukan agar yield tetap terkendali meski tekanan terhadap rupiah masih berlangsung.

Purbaya menilai stabilnya pasar obligasi menjadi faktor penting bagi kepercayaan investor. Jika bond market terjaga, aliran modal asing akan lebih mudah masuk ke Indonesia.

Ia menambahkan, pasar yang tenang akan membantu menjaga minat investor terhadap instrumen keuangan domestik. Dalam pandangannya, kestabilan obligasi menjadi salah satu penopang penting bagi perekonomian nasional.

Langkah lanjutan pemerintah

Purbaya menyebut pemerintah akan menyiapkan langkah tambahan untuk membantu penguatan rupiah. Ia tidak merinci bentuk tindakan tersebut, namun memastikan kebijakan lanjutan akan diarahkan agar dampaknya lebih signifikan.

Menurut dia, pemerintah sudah mulai melihat adanya aliran masuk modal asing ke pasar obligasi domestik. Arus modal itu menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasar keuangan Indonesia.

Ia menilai kepercayaan investor akan lebih mudah terbentuk bila pasar obligasi tetap terkendali. Dengan kondisi itu, stabilitas nilai tukar rupiah juga berpeluang membaik secara bertahap.

Pernyataan Purbaya menunjukkan pemerintah masih percaya diri menghadapi tekanan kurs yang terjadi belakangan ini. Fokus utama saat ini adalah menjaga pasar tetap stabil sambil memastikan fundamental ekonomi tetap menjadi penopang utama.

Tag Terkait
#rupiah#menkeu#apbn

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!