Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan melanjutkan tren pelemahan pada pekan depan. Sejumlah analis menilai mata uang Garuda berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, bahkan bergerak lebih rendah jika tekanan pasar terus berlanjut.
Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah tidak hanya disebabkan faktor teknikal dan kebijakan moneter Bank Indonesia, tetapi juga persoalan struktural ekonomi nasional. Ia menyoroti defisit neraca transaksi berjalan, kebutuhan impor energi, hingga meningkatnya permintaan dolar di dalam negeri.
Rupiah Tertekan Kebutuhan Dolar
Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah makin besar karena pemerintah membutuhkan dolar dalam jumlah besar untuk menutup kebutuhan impor energi, terutama minyak mentah. Dalam perhitungan APBN, harga minyak diasumsikan berada di level US$70 per barel dengan kurs Rp16.500 per dolar AS.
Namun kondisi pasar saat ini dinilai jauh lebih berat karena rupiah berada di kisaran Rp17.900, sementara harga minyak mentah bergerak di atas US$90 per barel. Situasi itu membuat beban fiskal pemerintah meningkat dan memperlebar tekanan terhadap rupiah.
Ia juga menyebut sebagian besar impor minyak mentah berkaitan dengan subsidi, sehingga pemerintah harus menyiapkan dolar dalam jumlah besar. Menurutnya, kombinasi faktor tersebut menjadikan pelemahan rupiah lebih sulit ditekan dalam waktu dekat.
Dividen Asing Tambah Tekanan
Selain impor energi, pasar modal juga ikut memberi tekanan karena banyak perusahaan asing di Indonesia perlu membagikan dividen kepada pemegang saham. Kebutuhan pembagian keuntungan itu mendorong permintaan dolar di dalam negeri meningkat.
Ibrahim menjelaskan bahwa saat pasokan dolar terbatas, kebutuhan dividen investor asing akan memperbesar ketidakseimbangan di pasar valas. Kondisi ini pada akhirnya membuat rupiah semakin rentan terhadap pelemahan lanjutan.
Ia menilai kegaduhan di pasar valas akan muncul ketika permintaan dolar terus naik, sementara pasokan tidak cukup kuat. Dalam situasi seperti itu, rupiah cenderung bergerak lebih cepat menuju level yang lebih lemah.
Kebijakan Baru Jadi Sorotan
Di sisi lain, rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ibrahim menilai kebijakan itu memunculkan keraguan investor asing terhadap kepastian regulasi di Indonesia.
Ia menegaskan, kebijakan satu pintu pada dasarnya dapat membantu menekan kebocoran ekspor ilegal. Namun, pelaksanaannya yang dinilai datang terlalu cepat membuat dunia usaha belum sempat beradaptasi dengan perubahan aturan.
Menurutnya, perusahaan tambang yang telah memiliki kontrak jangka pendek hingga panjang dengan mitra luar negeri juga berpotensi terdampak. Karena itu, kebijakan yang semestinya menertibkan justru memunculkan kegaduhan di tengah pasar.
Level Psikologis Rupiah
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memiliki pandangan serupa dan menilai rupiah masih berpeluang melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS. Ia bahkan melihat risiko pergerakan lebih dalam ke level Rp19.000 jika batas psikologis Rp18.000 terlewati.
Bhima menjelaskan, setelah level Rp18.000 ditembus, pelemahan biasanya dapat berlangsung lebih cepat. Menurutnya, pasar cenderung bereaksi kuat ketika batas psikologis utama sudah tidak lagi bertahan.
Ia menambahkan, sentimen negatif investor asing terhadap kebijakan pemerintah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Kekhawatiran terhadap defisit APBN, beban subsidi energi, dan efektivitas program pemerintah turut memperburuk persepsi pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
