Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, Rosan Roeslani, menilai emiten Badan Usaha Milik Negara di pasar modal menawarkan imbal hasil yang menarik untuk investasi jangka panjang. Pernyataan itu disampaikan saat ia mengunjungi Gedung Bursa Efek Indonesia bersama Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad pada Selasa, 19 Mei. Kunjungan tersebut berlangsung ketika Indeks Harga Saham Gabungan melemah lebih dari 3 persen pada penutupan perdagangan sesi I. Rosan menilai kondisi itu tidak mengubah pandangannya terhadap prospek saham BUMN di bursa.
Ia menyebut pasar modal sebagai ruang investasi jangka panjang bagi Danantara. Dalam pandangannya, saham-saham BUMN, terutama emiten perbankan milik negara, masih memiliki fundamental yang kuat. Rosan bahkan mengklaim imbal hasil saham himpunan bank milik negara berada di kisaran 10 hingga 11 persen. Menurutnya, level tersebut menunjukkan daya tarik yang baik bagi investor.
Prospek Saham BUMN
Rosan menjelaskan bahwa penilaian tersebut didasarkan pada kombinasi fundamental perusahaan dan harga saham yang masih dinilai kompetitif. Ia menilai kondisi itu dapat mendukung imbal hasil jangka menengah hingga panjang yang sehat. Dalam keterangan di Gedung BEI, Jakarta Selatan, ia menyebut prospeknya berada di atas 10 hingga 11 persen. Baginya, angka itu merupakan sinyal positif bagi investor yang mencari instrumen berorientasi pertumbuhan.
Ia menambahkan bahwa pasar modal Indonesia memiliki banyak emiten BUMN yang beroperasi di sektor strategis. Keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut dianggap memberi landasan yang kuat bagi minat investasi institusional. Rosan juga menilai valuasi saham BUMN di bursa masih layak diperhatikan. Oleh karena itu, Danantara melihat pasar modal sebagai kanal penting untuk penempatan dana secara bertahap.
Rosan menilai potensi keuntungan tersebut tidak hanya datang dari pergerakan harga saham. Ia juga melihat ada kontribusi dari kinerja usaha dan distribusi dividen yang dapat memperkuat imbal hasil investor. Dalam jangka panjang, kombinasi itu dinilai dapat memberi keuntungan yang stabil. Pandangan ini menjadi alasan mengapa saham BUMN tetap menarik di tengah volatilitas pasar.
Dukungan Reformasi Pasar
Selain membahas prospek saham, Rosan memberi apresiasi kepada Otoritas Jasa Keuangan atas langkah reformasi pasar modal. Ia menyebut upaya itu sebagai bagian dari penyempurnaan ekosistem bursa agar semakin baik. Menurutnya, transparansi menjadi unsur penting dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar. Karena itu, reformasi dinilai perlu terus dilanjutkan dengan konsisten.
Rosan juga mengapresiasi Bursa Efek Indonesia yang disebutnya telah menjalankan sejumlah langkah alternatif untuk memperkuat tata kelola. Ia menilai langkah tersebut penting untuk membuat pasar modal lebih transparan dan lebih dalam. Dalam pandangannya, penguatan tata kelola akan membuat pasar lebih sehat bagi investor ritel maupun institusi. Ia menegaskan bahwa perbaikan seperti ini harus dipandang sebagai proses berkelanjutan.
Menurut Rosan, reformasi pasar modal akan berdampak langsung pada meningkatnya kepercayaan investor. Ia meyakini perbaikan regulasi dan tata kelola akan membuat bursa Indonesia semakin kredibel di mata pasar. Saat ini, jumlah investor pasar modal tercatat mencapai 27 juta orang. Angka tersebut disebutnya sebagai modal penting untuk pertumbuhan pasar yang lebih luas.
Kepercayaan Investor
Rosan menilai kepercayaan investor tidak dibangun dalam waktu singkat, melainkan melalui serangkaian perbaikan yang konsisten. Ia menyebut proses reformasi yang sedang berjalan akan memberi hasil dalam jangka panjang. Menurutnya, pasar yang lebih transparan akan membuat investor merasa lebih aman. Kondisi itu pada akhirnya dapat memperbesar partisipasi di bursa domestik.
Ia menambahkan bahwa jumlah investor yang sudah mencapai 27 juta menunjukkan potensi besar pasar modal Indonesia. Namun, ia menilai pertumbuhan jumlah investor harus diiringi dengan peningkatan kualitas pasar. Karena itu, tata kelola yang kuat dan pengawasan yang baik menjadi kebutuhan utama. Rosan melihat hal tersebut sebagai fondasi untuk memperluas minat investasi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Rosan menegaskan bahwa Danantara memandang pasar modal sebagai sarana investasi jangka panjang, bukan sekadar mengikuti pergerakan harian. Ia menganggap saham BUMN punya peran penting dalam strategi investasi yang lebih stabil. Dengan dukungan reformasi dan transparansi yang lebih baik, prospek pasar dinilai semakin menjanjikan. Pandangan itu mempertegas optimisme terhadap ketahanan pasar modal Indonesia.
Pasar Modal Dalam Sorotan
Kunjungan Rosan ke Gedung BEI terjadi saat IHSG sedang tertekan dalam perdagangan sesi I. Kondisi itu menjadi perhatian pelaku pasar yang mencermati arah sentimen domestik. Meski begitu, Rosan tidak melihat pelemahan indeks sebagai alasan untuk mengubah pandangan terhadap saham BUMN. Ia justru menilai kondisi tersebut sebagai bagian dari dinamika pasar yang wajar.
Menurut Rosan, investasi yang baik membutuhkan disiplin dan pandangan jangka panjang. Ia menilai saham-saham BUMN tetap memiliki daya tarik karena didukung kinerja dan prospek usaha yang jelas. Dalam konteks itu, pasar modal dinilai masih relevan sebagai instrumen pembiayaan dan investasi. Ia berharap perbaikan tata kelola dapat menjaga momentum pertumbuhan bursa.
Rosan menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa proses reformasi akan membawa hasil positif bagi pasar modal Indonesia. Ia meyakini kepercayaan investor akan tumbuh seiring meningkatnya transparansi dan kualitas pengawasan. Dengan basis investor yang besar dan emiten BUMN yang kuat, pasar modal dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang luas. Optimisme tersebut menjadi pesan utama dari kunjungan ke Bursa Efek Indonesia.
