Rosan Respons IHSG Anjlok Usai Danantara Dibentuk

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 06:23 WIB 5
Rosan Respons IHSG Anjlok Usai Danantara Dibentuk

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, merespons pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan itu disebut akan mengelola ekspor komoditas strategis, seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy. Pada perdagangan Rabu, IHSG ditutup melemah 0,82 persen ke level 6.318,50, lalu pada Kamis turun lebih dalam ke 6.094 atau minus 233 poin. Saat pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor SDA disampaikan, indeks saham sempat terkoreksi lebih dari 2 persen.

Menurut Rosan, tekanan di pasar saham tidak semata-mata dipicu oleh isu pembentukan Danantara. Ia menilai faktor teknikal dan sentimen global turut menekan pergerakan indeks. Salah satu yang disorot adalah rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Perubahan itu disebut memicu penyesuaian portofolio investor asing pada sejumlah saham Indonesia.

Sentimen Pasar Saham

Rosan menilai pasar saat ini sedang bereaksi terhadap kombinasi faktor teknikal dan persepsi. Ia menyebut pelaku pasar cenderung berhati-hati ketika ada penyesuaian indeks global. Kondisi itu membuat tekanan jual di bursa lebih terasa dalam jangka pendek. Menurut dia, dinamika tersebut harus dibaca secara statistik dan berdasarkan data.

Ia juga menyinggung pengaruh keputusan MSCI yang akan berlaku efektif pada 29 Mei 2026. Sebanyak 18 saham Indonesia tercatat dikeluarkan dari indeks tersebut. Menurut Rosan, langkah itu dapat mendorong investor asing melakukan penyesuaian ulang. Dampaknya, saham-saham tertentu berpotensi mengalami tekanan harga.

Rosan menyampaikan bahwa koreksi IHSG tidak bisa dilepaskan dari faktor eksternal yang sedang menekan pasar. Ia menilai investor perlu melihat konteks yang lebih luas sebelum menarik kesimpulan. Dalam situasi seperti ini, volatilitas pasar dinilai wajar terjadi. Namun, ia menegaskan bahwa tekanan jangka pendek tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental emiten.

Fundamental BUMN Tetap Kuat

Di tengah tekanan pasar, Rosan meminta investor memperhatikan kinerja fundamental perusahaan. Ia menilai banyak BUMN masih menunjukkan performa yang solid. Salah satu contoh yang disebut adalah bank-bank Himbara. Menurut dia, kinerja mereka tetap positif dan mencatat imbal hasil yang menarik.

Rosan mengatakan performa sejumlah bank BUMN bahkan masih meningkat. Ia menyebut yield atau imbal hasilnya berada di atas 10 hingga 11 persen. Angka itu, menurut dia, menjadi sinyal bahwa fundamental perusahaan pelat merah masih kuat. Karena itu, investor diminta tidak hanya melihat pergerakan harga harian.

Ia menambahkan bahwa kekuatan fundamental menjadi bekal penting dalam menghadapi tekanan pasar. Dalam pandangannya, penilaian jangka panjang akan lebih relevan dibanding reaksi sesaat. Rosan juga menilai sektor-sektor strategis tetap memiliki prospek yang baik. Hal tersebut menjadi dasar optimisme terhadap pasar domestik.

Prospek Pasar Jangka Menengah

Rosan optimistis pasar akan membaik dalam jangka menengah dan panjang. Ia menilai tekanan yang terjadi saat ini bersifat sementara. Faktor persepsi dan sentimen memang sedang membebani pasar. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak mengubah kekuatan dasar ekonomi nasional.

Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang baik. Begitu pula dengan kinerja perusahaan-perusahaan pelat merah yang disebut tetap solid. Rosan mengakui bahwa pasar sedang tertekan oleh sentimen negatif. Meski begitu, ia menilai arah pemulihan masih terbuka lebar.

Ia menegaskan bahwa investor perlu menjaga perspektif jangka panjang. Pergerakan pasar yang berfluktuasi dianggap sebagai bagian dari mekanisme bursa. Selama fundamental perusahaan tetap sehat, Rosan yakin pemulihan bisa terjadi. Karena itu, ia meminta pasar membaca kondisi saat ini secara proporsional.

Reaksi Atas Pembentukan Danantara

Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia menjadi perhatian pasar karena mandatnya berkaitan dengan pengelolaan ekspor komoditas strategis. Komoditas yang masuk dalam cakupan badan tersebut antara lain minyak kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy. Kebijakan ini memunculkan perhatian baru dari investor. Namun, Rosan menilai dampaknya terhadap pasar perlu dilihat secara lebih luas.

Ia menegaskan bahwa respons negatif di bursa tidak hanya berasal dari isu domestik. Perubahan indeks global dan posisi investor asing turut memengaruhi arah perdagangan. Karena itu, ia meminta publik tidak mengaitkan pelemahan IHSG hanya dengan satu kebijakan. Menurut dia, pasar modal selalu dipengaruhi banyak variabel sekaligus.

Rosan menutup penjelasannya dengan keyakinan bahwa pasar akan pulih seiring membaiknya persepsi. Ia menilai fundamental ekonomi dan perusahaan pelat merah masih cukup kuat untuk menopang sentimen. Dalam jangka menengah, kondisi pasar diharapkan kembali stabil. Sementara itu, investor diminta tetap fokus pada kualitas kinerja perusahaan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!