Rosan Jelaskan Tekanan IHSG Usai Sentimen Danantara

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 22 Mei 2026 05:41 WIB 6
Rosan Jelaskan Tekanan IHSG Usai Sentimen Danantara

Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut disebut akan mengelola ekspor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga fero alloy. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, IHSG ditutup melemah 3,54 persen ke level 6.094 setelah sebelumnya juga tertekan pada perdagangan Rabu.

Rosan menilai penurunan indeks tidak bisa dikaitkan dengan satu faktor saja, karena pasar saham saat ini berada di bawah tekanan teknikal dan sentimen global. Ia juga menyinggung rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang dinilai turut memengaruhi pergerakan investor asing. Menurutnya, pelaku pasar perlu melihat kondisi emiten dari sisi fundamental jangka panjang, terutama pada perusahaan-perusahaan BUMN yang disebut masih solid.

Tekanan Pasar Saham

IHSG tercatat melemah 0,82 persen pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, ke level 6.318,50. Pada pukul 11.19 WIB, indeks sempat turun lebih dari 2 persen saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Pada perdagangan berikutnya, tekanan berlanjut hingga indeks anjlok 233 poin atau 3,54 persen.

Rosan menyebut pergerakan tajam di pasar saham perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas. Menurut dia, ada pengaruh teknikal yang membuat pasar bergerak sensitif terhadap informasi baru. Selain itu, sentimen global juga ikut mendorong kehati-hatian investor.

Ia menilai persepsi pasar kadang bergerak lebih cepat dibandingkan data fundamental yang sesungguhnya. Kondisi itu membuat pelaku pasar mudah bereaksi terhadap berita yang belum tentu berdampak langsung pada kinerja emiten. Karena itu, Rosan meminta investor tetap tenang dan mencermati arah pasar secara menyeluruh.

Rebalancing MSCI

Selain faktor domestik, Rosan menyinggung penyesuaian indeks MSCI sebagai salah satu pemicu tekanan di bursa. MSCI telah mengumumkan hasil rebalancing yang berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Dalam penyesuaian tersebut, sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks.

Ia mengatakan perubahan komposisi indeks global seperti MSCI biasanya memicu penyesuaian portofolio oleh investor asing. Ketika ada saham yang keluar dari indeks, sebagian investor cenderung melakukan aksi jual untuk menyesuaikan kepemilikan. Kondisi itu dinilai wajar menekan harga dalam jangka pendek.

Rosan menegaskan dampak rebalancing tidak selalu mencerminkan lemahnya kinerja perusahaan. Menurut dia, pasar kerap bereaksi lebih cepat terhadap perubahan indeks ketimbang menunggu laporan keuangan emiten. Oleh sebab itu, investor disarankan membedakan antara volatilitas jangka pendek dan kualitas bisnis jangka panjang.

Fundamental Bumn Masih Kuat

Rosan menekankan bahwa investor perlu melihat fundamental perusahaan, terutama pada emiten BUMN. Ia menyebut kinerja bank-bank Himbara masih menunjukkan performa positif dengan imbal hasil yang tinggi. Menurutnya, kondisi itu menjadi sinyal bahwa pondasi usaha perusahaan pelat merah masih terjaga.

Ia bahkan menyebut beberapa bank Himbara memiliki yield di atas 10 hingga 11 persen. Menurut Rosan, angka tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan nilai tambah bagi pemegang saham. Karena itu, ia menilai tekanan pasar saat ini tidak mencerminkan kekuatan operasional emiten tersebut.

Rosan juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang baik. Meski pasar tengah tertekan oleh sentimen dan persepsi, ia optimistis kinerja perusahaan BUMN akan tetap kuat. Dalam pandangannya, kondisi jangka menengah hingga panjang berpeluang membaik jika fundamental terus dijaga.

Prospek Jangka Panjang

Rosan menilai gejolak pasar saat ini belum mencerminkan arah ekonomi dalam jangka panjang. Ia mengatakan bahwa tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi sentimen sesaat dan faktor teknikal. Sementara itu, fondasi bisnis perusahaan dinilai tetap menjadi penopang utama pemulihan pasar.

Ia menekankan bahwa investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan pergerakan harian indeks untuk menilai prospek pasar. Analisis terhadap neraca, laba, dan prospek usaha dinilai jauh lebih relevan. Dengan pendekatan itu, keputusan investasi akan lebih terukur dan tidak mudah terpengaruh kabar jangka pendek.

Rosan menyampaikan keyakinan bahwa pasar akan kembali pulih secara bertahap. Menurutnya, selama fundamental perusahaan dan ekonomi nasional tetap kuat, tekanan seperti ini bersifat sementara. Ia pun berharap investor tetap mencermati peluang dalam jangka menengah dan panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!