Risiko Utang Konsumtif dari P2P dan BNPL

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 13 Mei 2026 17:13 WIB 12
Risiko Utang Konsumtif dari P2P dan BNPL

Pinjaman online (P2P) dan layanan buy now pay later (BNPL) terus meningkat seiring dengan luasnya akses ke platform pinjaman. Kondisi ini mencerminkan semakin besar ketergantungan masyarakat pada utang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Ekonom INDEF Tauhid Ahmad memperingatkan bahwa di balik pertumbuhan utang tersebut terdapat risiko serius, terutama beban bunga yang menambah pengeluaran debitur. Ia menilai pola ini dapat menggerus daya beli dan memicu siklus 'gali lubang tutup lubang' jika pendapatan tidak tumbuh sejalan biaya hidup.

Risiko Siklus Utang

P2P lending dan BNPL menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan karena semakin banyak orang mengandalkan platform tersebut. Kondisi ini mencerminkan ketergantungan masyarakat pada utang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Para analis menilai fenomena ini berpotensi menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan rumah tangga.

Bunga utang yang relatif tinggi menjadi beban tambahan bagi debitur. Beban ini dapat melemahkan daya beli dan mendorong cicilan baru untuk menutupi pengeluaran bulanan. Gaya hidup berbasis utang berpotensi berlanjut jika pendapatan tidak mengikuti kenaikan biaya hidup.

Tauhid Ahmad, Ekonom INDEF, menilai pertumbuhan utang ini seringkali bukan indikator peningkatan produktivitas. Ia menekankan bahwa sebagian besar utang bersifat konsumtif dibandingkan kredit untuk dunia usaha. Menurutnya, jika tren ini berlanjut, dampaknya bisa lebih berat saat terjadi gejolak ekonomi.

Dampak pada Konsumen

Konsumsi berbasis utang membuat debitur lebih rentan terhadap tekanan biaya hidup. Saat cicilan terasa berat, banyak orang memilih meminjam lagi melalui platform lain. Akibatnya, siklus utang konsumtif dapat berulang dan membebani keuangan pribadi.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, menyoroti risiko ketergantungan pada utang konsumtif. Pengguna berisiko kehilangan kendali atas pola belanja jika pendapatan tidak tumbuh sejalan dengan cicilan. Ketidakstabilan pendapatan maupun suku bunga makin memperburuk tekanan finansial tersebut.

Kenaikan paylater juga dipandang bukan indikator kredit berkualitas. Segala kejutan ekonomi bisa membuat tingkat non-performing loan paylater melonjak lebih tajam dibanding kredit modal kerja. Ini menandai kerentanan sistem pembayaran berbasis utang konsumtif.

Kontrol Kredit Paylater

Para analis mendorong evaluasi kualitas kredit paylater sebagai bagian dari manajemen risiko rumah tangga. Kegagalan membayar dapat menekan skor kredit dan membawa dampak finansial jangka panjang. Kebijakan yang lebih ketat diyakini bisa membantu menjaga keseimbangan antara akses utang dan kemampuan bayar.

Beberapa langkah kebijakan bisa dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas pinjaman paylater. Langkah-langkah tersebut antara lain pembatasan plafon kredit, verifikasi pendapatan, dan mekanisme pembayaran yang lebih disiplin. Dengan demikian, beban utang dapat dikelola tanpa meredam daya beli rumah tangga.

Tanpa upaya perbaikan, risiko gagal bayar bisa meningkat seiring biaya hidup yang terus naik. Gagal bayar berpotensi mengakibatkan aset yang digadaikan untuk melunasi pinjaman. Oleh karena itu, keseimbangan antara akses kredit dan kemampuan bayar perlu dijaga agar tidak mendorong kemiskinan struktural.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!