Risiko Makan Ikan Sapu-Sapu dari Sungai Perkotaan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 22 Mei 2026 08:44 WIB 6
Risiko Makan Ikan Sapu-Sapu dari Sungai Perkotaan

Ikan sapu-sapu kembali menjadi sorotan setelah dagingnya disebut akan diolah menjadi siomai di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Secara teknis, ikan ini bisa dikonsumsi, tetapi habitatnya di dasar perairan membuat risikonya perlu dicermati lebih jauh.

Hidup di area lumpur, sampah, dan endapan limbah, ikan sapu-sapu berpotensi membawa bakteri, parasit, hingga logam berat. Jika ditangkap dari aliran seperti Kali Ciliwung, kemungkinan cemaran pada tubuh ikan menjadi lebih tinggi dan berdampak pada kesehatan manusia.

Risiko kesehatan ikan sapu-sapu

Ikan sapu-sapu dikenal hidup di dasar perairan dan mencari makan di wilayah yang banyak mengendapkan kotoran. Kondisi itu membuat ikan ini lebih mudah terpapar mikroorganisme dari lingkungan yang tercemar. Risiko tersebut meningkat ketika ikan berasal dari sungai perkotaan yang menerima banyak limbah. Karena itu, konsumsi ikan ini tidak bisa disamakan dengan ikan budidaya yang lebih terkontrol.

Penelitian dan temuan lapangan menunjukkan bahwa ikan dari perairan tercemar dapat membawa bakteri berbahaya. Salah satu contoh yang ramai dibahas adalah uji sampel ikan sapu-sapu yang disebut mengandung E. coli jauh di atas batas aman. E. coli sering dijadikan penanda adanya kontaminasi fekal atau sanitasi lingkungan yang buruk. Temuan ini menjadi peringatan agar pengolahan pangan tidak hanya melihat bentuk bahan makanan, tetapi juga asalnya.

Selain bakteri, ikan sapu-sapu juga bisa terpapar parasit dari habitat tempat hidupnya. Jika pencemaran lingkungan berlangsung lama, bahan berbahaya lain seperti logam berat ikut berisiko masuk ke jaringan ikan. Paparan semacam ini tidak selalu langsung terasa, tetapi dapat menumpuk dan memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, sumber perairan menjadi faktor penting sebelum ikan diolah menjadi makanan.

Dampak infeksi pada tubuh

Jika ikan yang terkontaminasi masuk ke tubuh, gejala yang paling sering muncul adalah gangguan pencernaan. Keluhan tersebut dapat berupa diare, mual, muntah, kram perut, dan demam. Pada sebagian orang, gejalanya bisa muncul beberapa jam setelah konsumsi. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan infeksi bakteri dari makanan yang tidak aman.

Bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah, dampaknya dapat lebih berat. Infeksi dapat memicu dehidrasi, penurunan kondisi umum, dan gangguan pencernaan yang lebih serius. Jika muntah dan diare berlangsung terus, tubuh bisa kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Dalam keadaan tertentu, penanganan medis diperlukan agar tidak berlanjut menjadi komplikasi.

Risiko kesehatan juga dipengaruhi oleh cara pengolahan ikan sebelum disajikan. Pembersihan yang kurang higienis atau pemasakan yang tidak matang sempurna dapat membuat bakteri tetap bertahan. Karena itu, keamanan pangan tidak hanya bergantung pada bumbu atau jenis olahan, tetapi juga pada kualitas bahan baku. Jika asal ikan meragukan, risiko tetap ada meski sudah diolah.

Hal yang perlu diperhatikan

Masyarakat perlu lebih selektif ketika memilih bahan pangan dari perairan terbuka. Ikan dari sungai yang dekat dengan permukiman padat atau saluran limbah memiliki peluang cemaran lebih tinggi. Pemeriksaan asal bahan menjadi langkah penting sebelum ikan diolah menjadi makanan. Hal ini terutama berlaku untuk produk yang dijual secara massal.

Pengawasan pangan juga perlu menekankan kebersihan rantai distribusi dari hulu ke hilir. Mulai dari penangkapan, penyimpanan, hingga pengolahan harus dilakukan secara higienis. Jika salah satu tahap terlewat, risiko kontaminasi dapat meningkat. Konsumen pun perlu memahami bahwa tampilan ikan yang bersih belum tentu bebas dari bahaya mikrobiologis.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, edukasi mengenai keamanan pangan menjadi sangat penting. Ikan sapu-sapu memang dapat dimakan, tetapi kelayakannya sangat bergantung pada sumber air dan proses pengolahannya. Jika berasal dari sungai tercemar, kehati-hatian harus menjadi prioritas. Dengan begitu, risiko gangguan kesehatan dapat ditekan sejak awal.

Memilih pangan yang aman

Pilihan bahan makanan sebaiknya mengutamakan mutu, kebersihan, dan asal yang jelas. Ikan dari budidaya yang terpantau biasanya memiliki risiko cemaran yang lebih terkendali dibanding ikan dari sungai perkotaan. Konsumen juga disarankan memperhatikan kebersihan alat masak dan air pencuci bahan. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi potensi paparan bakteri.

Jika ingin mengonsumsi ikan, pastikan proses pemasakan dilakukan hingga benar-benar matang. Suhu yang cukup tinggi membantu menurunkan risiko bakteri yang masih menempel pada bahan. Namun, pemanasan tidak selalu menghilangkan semua zat berbahaya, terutama jika sudah terpapar logam berat. Karena itu, keamanan tetap harus dimulai dari pemilihan bahan baku.

Kasus ikan sapu-sapu menjadi pengingat bahwa tidak semua bahan yang dapat dimakan otomatis aman dikonsumsi. Asal usul bahan, kondisi lingkungan, dan cara pengolahan harus diperhatikan secara serius. Dalam kasus ikan dari aliran tercemar, risiko kesehatan dapat lebih besar daripada manfaatnya. Masyarakat pun perlu lebih waspada sebelum menjadikannya menu konsumsi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!