Ikan sapu-sapu yang ditemukan di bantaran Kali Ciliwung, Pasar Baru, Jakarta Pusat, kembali memicu perhatian publik setelah dagingnya disebut akan diolah menjadi siomai. Secara teknis, ikan tersebut memang dapat dikonsumsi, tetapi kondisi habitatnya membuat risiko kesehatan tidak bisa diabaikan.
Ikan ini hidup dan mencari makan di dasar perairan, tempat lumpur, sampah, serta limbah sering mengendap. Jika ditangkap dari sungai perkotaan seperti Kali Ciliwung, peluang membawa bakteri, parasit, atau logam berat dari lingkungan tercemar menjadi lebih tinggi.
Risiko Ikan Sapu-Sapu
Ikan sapu-sapu berada di dasar perairan dan kerap memakan sisa organik yang menumpuk di lumpur. Kondisi tersebut membuat ikan ini lebih mudah terpapar berbagai kontaminan dari lingkungan sekitarnya.
Berbeda dengan ikan yang dibudidayakan di perairan bersih, ikan dari sungai perkotaan dapat menyerap zat berbahaya dari air dan sedimen. Risiko ini meningkat bila lokasi tangkapan berada di aliran yang menerima limbah rumah tangga maupun industri.
Karena itu, persoalan utama bukan hanya pada jenis ikannya, melainkan pada asal perairan tempat ikan hidup. Semakin tercemar habitatnya, semakin besar kemungkinan kandungan berbahaya ikut terbawa ke tubuh ikan.
Dalam konteks konsumsi, ikan sapu-sapu yang berasal dari sungai tercemar tidak dapat diperlakukan sama seperti ikan konsumsi pada umumnya. Pemeriksaan keamanan pangan menjadi penting sebelum ikan tersebut diolah dan dikonsumsi.
Bakteri dan Parasit
Ikan sapu-sapu hidup di area lumpur dan endapan, tempat berbagai mikroorganisme mudah berkumpul. Lingkungan seperti itu meningkatkan peluang ikan terpapar bakteri dan parasit.
Hasil penelitian terbaru juga disorot setelah muncul uji sampel yang dibagikan akun TikTok ariefkamarudin. Sampel ikan sapu-sapu yang disebut diuji di Mutu International dilaporkan mengandung bakteri E. coli hingga 100 kali lipat di atas batas Standar Nasional Indonesia.
E. coli sering dipakai sebagai penanda adanya kontaminasi fekal atau sanitasi lingkungan yang buruk. Temuan ini menjadi sinyal bahwa ikan dari perairan tercemar berpotensi membawa risiko biologis yang serius.
Parasit juga dapat ikut terbawa jika ikan hidup di perairan dengan kualitas air buruk dalam waktu lama. Bila proses pengolahan tidak higienis, risiko penularan ke manusia bisa semakin besar.
Dampak Pada Tubuh
Jika makanan mengandung E. coli tinggi masuk ke tubuh, gejala yang paling sering muncul adalah diare, mual, muntah, kram perut, dan demam. Kondisi ini dapat terjadi beberapa jam hingga beberapa hari setelah konsumsi.
Pada sebagian orang, keluhan tersebut mungkin tampak ringan dan membaik dengan sendirinya. Namun pada kasus tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pencernaan yang lebih berat.
Anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi. Dehidrasi akibat diare dan muntah dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka secara signifikan.
Selain itu, paparan kontaminan dari ikan yang hidup di lingkungan tercemar juga berpotensi mengganggu organ tubuh lain jika terjadi akumulasi. Karena itu, kehati-hatian penting sebelum mengonsumsi hasil tangkapan dari sungai kota.
Langkah Konsumsi Aman
Jika masyarakat tetap ingin mengonsumsi ikan dari perairan terbuka, asal airnya harus menjadi pertimbangan utama. Ikan dari sungai yang tercemar sebaiknya tidak dijadikan pilihan konsumsi sehari-hari.
Pembersihan dan pemasakan memang dapat membantu menurunkan sebagian risiko mikroba, tetapi tidak selalu menghilangkan semua cemaran. Logam berat, misalnya, tidak mudah dihapus hanya dengan proses memasak.
Karena itu, sumber ikan yang jelas dan terpantau lebih aman untuk konsumsi. Produk perikanan dari budidaya atau pasar yang memiliki pengawasan mutu cenderung lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat juga perlu waspada terhadap makanan olahan yang bahan bakunya tidak diketahui dengan pasti. Dalam soal pangan, keamanan bahan baku jauh lebih penting daripada sekadar tampilan akhir produk.
