Risiko Kesehatan Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu dari Ciliwung

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 13:27 WIB 7
Risiko Kesehatan Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu dari Ciliwung

Ikan sapu-sapu yang ditemukan di bantaran Kali Ciliwung, Pasar Baru, Jakarta Pusat, kembali menjadi sorotan setelah dagingnya disebut akan diolah menjadi siomai. Secara teknis, ikan ini memang dapat dimakan, tetapi asal-usul dan habitat hidupnya membuat risiko kesehatannya perlu dicermati. Ikan tersebut hidup di dasar perairan, tempat lumpur, sampah, dan limbah sering mengendap. Kondisi itu meningkatkan peluang kontaminasi bakteri, parasit, hingga logam berat.

Jika ikan sapu-sapu ditangkap dari sungai perkotaan seperti Kali Ciliwung, risiko cemaran menjadi lebih tinggi. Dalam situasi seperti itu, konsumsi tanpa pengolahan yang ketat dapat menimbulkan gangguan pencernaan dan infeksi. Karena itu, pertanyaan mengenai keamanan ikan ini tidak bisa dijawab hanya dari fakta bahwa dagingnya dapat dimakan. Faktor lingkungan menjadi penentu utama bagi keamanan pangan.

Risiko Kesehatan Ikan Sapu-Sapu

Ikan sapu-sapu hidup di dasar perairan dan mencari makan di area yang banyak mengandung sisa organik. Kebiasaan ini membuat tubuhnya lebih mudah terpapar mikroorganisme dari lingkungan tercemar. Bila ditangkap dari sungai perkotaan, potensi paparan limbah rumah tangga dan sampah semakin besar. Kondisi tersebut menjadikan ikan ini berbeda dari ikan budidaya yang diawasi kualitas airnya.

Penelitian yang dibagikan melalui akun TikTok ariefkamarudin menyebut sampel ikan sapu-sapu yang diuji di Mutu International mengandung bakteri E. coli hingga 100 kali lipat di atas batas Standar Nasional Indonesia. Temuan semacam ini menunjukkan adanya kemungkinan kontaminasi fekal di lingkungan tempat ikan hidup. E. coli kerap dipakai sebagai penanda sanitasi yang buruk dan kualitas air yang tidak layak. Jika masuk ke tubuh, bakteri ini dapat memicu gangguan pencernaan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Gejala yang paling sering muncul adalah diare, mual, muntah, kram perut, dan demam. Pada banyak kasus, keluhan tersebut memang dapat mereda, tetapi tetap berisiko menimbulkan dehidrasi. Bahaya menjadi lebih besar pada anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah. Kelompok tersebut lebih rentan mengalami infeksi yang lebih berat dan berkepanjangan.

Kontaminasi Dari Lingkungan Sungai

Perairan sungai di wilayah perkotaan umumnya menerima beban pencemaran yang tinggi. Limbah rumah tangga, sampah plastik, dan sisa aktivitas manusia dapat mengendap di dasar sungai. Ikan sapu-sapu yang mencari makan di area tersebut berpotensi menyerap zat berbahaya dari lingkungannya. Dalam jangka panjang, cemaran itu dapat menumpuk di jaringan tubuh ikan.

Selain bakteri, ikan yang hidup di lingkungan tercemar juga berisiko membawa parasit. Parasit dapat masuk ke tubuh manusia jika proses pengolahan tidak dilakukan secara higienis dan matang. Risiko lain datang dari logam berat yang mungkin ikut terakumulasi melalui air dan sedimen. Paparan berulang terhadap zat semacam itu dapat berdampak pada kesehatan pencernaan dan organ lain.

Karena itu, penilaian keamanan ikan tidak cukup hanya dengan melihat bentuk fisiknya. Sumber tangkapan, kualitas air, dan proses pengolahan harus menjadi perhatian utama. Ikan yang berasal dari perairan bersih tentu memiliki risiko berbeda dengan ikan dari aliran sungai yang tercemar. Pada kasus ikan sapu-sapu dari Ciliwung, kehati-hatian menjadi langkah yang paling masuk akal.

Gejala Yang Perlu Diwaspadai

Gangguan kesehatan akibat makanan tercemar biasanya muncul dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah dikonsumsi. Gejala awal yang sering terjadi adalah mual, muntah, diare, dan sakit perut. Sebagian orang juga dapat mengalami demam dan tubuh terasa lemas. Bila keluhan tidak membaik, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

Dehidrasi menjadi salah satu risiko terbesar dari infeksi saluran cerna. Kondisi ini lebih berbahaya bila pasien kehilangan banyak cairan melalui muntah atau diare berulang. Anak-anak dan lansia umumnya lebih cepat mengalami penurunan kondisi tubuh. Pada situasi tertentu, infeksi bisa memerlukan penanganan lanjutan di fasilitas kesehatan.

Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap anggapan bahwa semua ikan dapat aman setelah dimasak. Memang, pemasakan matang dapat menurunkan risiko bakteri, tetapi tidak selalu menghilangkan seluruh bahaya kontaminasi. Logam berat, misalnya, tidak hilang hanya dengan pemanasan biasa. Karena itu, keamanan bahan baku tetap menjadi faktor pertama yang harus dipastikan.

Langkah Aman Sebelum Konsumsi

Jika ikan sapu-sapu hendak dikonsumsi, pemilihan sumber tangkapan menjadi syarat utama. Ikan dari perairan yang jelas kebersihannya tentu lebih aman dibandingkan ikan dari sungai yang tercemar. Pengolahan harus dilakukan secara higienis, mulai dari pencucian hingga pemasakan yang benar-benar matang. Kebersihan alat masak dan tangan juga tidak boleh diabaikan.

Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua bahan pangan yang dapat dimakan berarti aman dikonsumsi. Dalam konteks ikan sapu-sapu, risiko lingkungan sering kali lebih besar daripada nilai konsumsi itu sendiri. Jika sumbernya tidak jelas, memilih untuk tidak mengonsumsi bisa menjadi keputusan paling aman. Prinsip kehati-hatian penting diterapkan, terutama saat bahan pangan berasal dari perairan terbuka di kawasan padat aktivitas.

Informasi mengenai keamanan pangan sebaiknya merujuk pada hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Temuan kontaminasi seperti E. coli perlu dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar sensasi. Pemerintah daerah dan lembaga terkait juga perlu memperkuat pengawasan kualitas air sungai perkotaan. Dengan begitu, risiko kesehatan dari bahan pangan tangkapan liar dapat ditekan sejak awal.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!