Real Food Dianggap Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 18:08 WIB 2
Real Food Dianggap Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah sebagian orang menilai produk tersebut tidak termasuk Ultra Processed Food atau UPF. Di tengah perdebatan itu, praktisi kesehatan menegaskan bahwa pilihan paling sehat tetaplah real food. Penegasan ini disampaikan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026. Menurutnya, makanan yang diolah sesederhana apa pun tetap menyimpan pertanyaan tentang proses pembuatannya.

dr Aru menjelaskan, makanan olahan umumnya memakai campuran atau tambahan bahan yang tidak selalu bisa dipastikan keamanannya. Meski ada aturan yang mengawasi, risiko penyimpangan dalam proses produksi tetap mungkin terjadi. Kondisi itu, kata dia, menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat sebaiknya tidak menjadikan makanan olahan sebagai pilihan utama. Ia menilai, pola makan seperti ini dapat berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan di masyarakat.

Real Food dan Makanan Olahan

Menurut dr Aru, real food tetap menjadi pilihan terbaik jika seseorang ingin menjaga kesehatan tubuh. Ia menilai, makanan yang berasal dari bahan alami memberi kepastian yang lebih baik dibanding produk olahan. Proses pembuatannya juga cenderung lebih mudah dipahami oleh konsumen. Karena itu, real food dianggap lebih aman untuk dikonsumsi sebagai makanan harian.

Sebaliknya, makanan olahan sering kali melewati banyak tahapan produksi sebelum sampai ke tangan konsumen. Dalam proses tersebut, ada bahan tambahan yang digunakan untuk menjaga rasa, tekstur, atau daya tahan produk. Situasi ini membuat masyarakat tidak selalu mengetahui detail bahan yang dipakai. Bagi dr Aru, ketidakpastian tersebut menjadi alasan untuk lebih berhati-hati.

Ia menekankan bahwa prinsip kehati-hatian penting diterapkan saat memilih makanan. Konsumen, menurut dia, perlu memahami bahwa label sehat tidak selalu berarti aman sepenuhnya. Evaluasi terhadap komposisi dan cara pengolahan tetap diperlukan. Dengan begitu, pilihan makan dapat lebih mendukung kesehatan jangka panjang.

Risiko Kesehatan Kini Meningkat

dr Aru mengaitkan maraknya konsumsi makanan olahan dengan meningkatnya kasus penyakit pada usia produktif. Ia menyebut, saat ini tidak sedikit orang berusia 30-an yang sudah mengalami gangguan metabolik. Kondisi yang paling sering muncul adalah hipertensi dan diabetes. Tren tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya masalah serupa lebih sering ditemukan pada usia yang lebih tua.

Ia menilai, angka kesakitan pada anak muda juga terus bertambah. Kasus diabetes usia muda dan hipertensi usia muda, kata dia, menunjukkan kecenderungan yang tidak bisa diabaikan. Situasi ini menggambarkan bahwa pola makan modern memiliki pengaruh nyata terhadap kondisi kesehatan. Oleh sebab itu, pilihan makanan perlu menjadi perhatian serius di tengah kehidupan yang serba cepat.

Menurutnya, perubahan pola hidup masyarakat ikut berperan dalam meningkatnya risiko tersebut. Aktivitas yang padat membuat banyak orang cenderung mengandalkan makanan cepat saji atau produk kemasan. Kebiasaan ini, jika berlangsung terus-menerus, dapat memicu masalah kesehatan yang lebih besar. Karena itu, edukasi mengenai pola makan sehat perlu terus diperkuat.

Kendala Memilih Real Food

Meski idealnya mengonsumsi makanan segar, dr Aru mengakui bahwa tidak semua orang mudah melakukannya. Kesibukan kerja dan aktivitas harian sering membuat seseorang tidak sempat berbelanja bahan makanan. Di sisi lain, memasak sendiri juga memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Akibatnya, banyak orang akhirnya memilih makanan olahan yang dianggap lebih praktis.

Ia memahami bahwa kondisi tersebut merupakan realitas yang dihadapi masyarakat saat ini. Banyak keluarga harus menyesuaikan pilihan makan dengan jadwal yang padat dan keterbatasan waktu. Dalam keadaan seperti itu, makanan kemasan kerap menjadi solusi cepat. Namun, dr Aru menilai, praktik ini tetap perlu dibarengi kesadaran tentang dampaknya bagi kesehatan.

Karena itu, ia menyarankan agar masyarakat mencari keseimbangan dalam pola makan sehari-hari. Tidak semua makanan praktis harus dihindari total, tetapi frekuensinya perlu dikendalikan. Jika memungkinkan, konsumsi real food tetap harus diprioritaskan. Langkah kecil seperti ini dinilai dapat membantu menekan risiko penyakit di kemudian hari.

Langkah Sederhana Lebih Sehat

Untuk menjaga pola makan yang lebih baik, masyarakat dapat memulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Menyediakan bahan makanan segar dalam porsi secukupnya bisa membantu mengurangi ketergantungan pada produk olahan. Perencanaan menu mingguan juga dapat memudahkan proses memasak. Dengan cara ini, pilihan makanan menjadi lebih terarah dan sehat.

dr Aru menilai, perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari langkah yang rumit. Seseorang bisa mulai dengan mengurangi frekuensi konsumsi makanan kemasan secara bertahap. Setelah itu, porsi sayur, buah, dan sumber protein alami dapat ditingkatkan. Kebiasaan seperti ini dinilai lebih realistis untuk dijalankan dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan. Informasi yang benar dapat membantu orang memahami risiko di balik makanan olahan. Sementara itu, real food tetap menjadi pilihan paling aman untuk mendukung tubuh yang lebih sehat. Dengan pola makan yang lebih bijak, risiko penyakit metabolik diharapkan dapat ditekan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!