Raline Shah Tampil Anggun dengan Gaun Sapto di Cannes 2026

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 15:20 WIB 2
Raline Shah Tampil Anggun dengan Gaun Sapto di Cannes 2026

Raline Shah kembali menjadi sorotan di karpet merah Cannes Film Festival 2026 di Cannes, Prancis, saat mengenakan gaun rancangan khusus Sapto Djojokartiko. Penampilan itu menegaskan konsistensi kolaborasi keduanya di ajang film internasional bergengsi tersebut. Gaun bernuansa Oyster tersebut dipilih untuk premiere film The Beloved, dengan sentuhan heritage Indonesia yang halus namun tetap modern. Kehadiran Raline pun kembali memperlihatkan bagaimana mode Indonesia mampu tampil menonjol di panggung dunia.

Dalam penampilan terbarunya, Raline tampil dengan balutan ballgown yang mengedepankan kesan glamor, elegan, dan tak lekang waktu. Sapto Djojokartiko menghadirkan detail bordir motif Yayi Ukir yang menutupi seluruh permukaan gaun, sehingga busana itu memancarkan kemewahan sekaligus identitas desain yang kuat. Perhiasan Chopard yang dikenakan Raline juga membuat keseluruhan tampilan terlihat semakin harmonis. Kombinasi tersebut menjadikan penampilannya sebagai salah satu momen yang paling diperbincangkan di Cannes tahun ini.

Inspirasi Gaun Raline Shah

Sapto Djojokartiko menjelaskan bahwa inspirasi utama gaun Raline berangkat dari keinginan menghadirkan siluet klasik yang tetap relevan dengan masa kini. Nuansa yang dibangun adalah glamor yang timeless, tetapi tidak meninggalkan karakter personal. Karena itu, detail heritage Indonesia dibuat dengan pendekatan yang sangat subtil. Hasilnya adalah busana yang terasa mewah tanpa kehilangan kesan anggun.

Untuk premiere The Beloved, Sapto ingin menampilkan busana yang memiliki kekuatan visual sekaligus sentuhan budaya. Bordir motif Yayi Ukir di seluruh permukaan gaun menjadi elemen utama yang memperkaya tekstur. Detail tersebut tidak hanya memperkuat tampilan, tetapi juga menegaskan pentingnya craftsmanship dalam proses kreatif. Menurutnya, identitas merek selalu menjadi bagian dari DNA SAPTO DJOJOKARTIKO.

Motif Yayi Ukir sendiri terinspirasi dari perpaduan ukiran dan tekstur tenun tradisional. Elemen itu kemudian direinterpretasikan bersama motif khas rumah mode tersebut, yaitu Penara. Pengolahan dua unsur ini menghasilkan motif baru yang terasa lebih kaya, namun tetap halus. Pendekatan tersebut membuat gaun Raline terlihat detail tanpa tampak berlebihan.

Kehadiran motif itu juga membuat tampilan Raline selaras dengan perhiasan Chopard yang dipakainya. Sapto menyebut ada nuansa art-deco yang membuat keseluruhan tampilan terasa lebih elegan dan dimensional. Kesesuaian antara busana dan aksesori membuat penampilan tersebut tampak menyatu. Di atas karpet merah, harmoni visual itu menjadi kekuatan utama yang langsung mencuri perhatian.

Proses Pengerjaan Gaun

Proses pembuatan gaun Raline memakan waktu sekitar 800 jam. Angka tersebut menunjukkan tingkat ketelitian yang dibutuhkan untuk menghasilkan tampilan yang rapi dan berkelas. Setiap detail dikerjakan dengan perhatian besar, mulai dari konstruksi hingga finishing. Karena itu, hasil akhir gaun terlihat halus dan menyatu ketika dikenakan.

Jika dibandingkan dengan penampilan Raline di Cannes 2024, durasi pengerjaannya memang berbeda. Saat itu, kebaya Sapto yang dikenakannya dibuat selama 1.200 jam. Meski lebih singkat, proses untuk gaun tahun ini tetap menuntut presisi tinggi. Setiap tahap pengerjaan diarahkan agar siluet tampak effortless di tubuh pemakainya.

Menurut Sapto, proses kreatif seperti ini penting untuk menjaga kualitas busana di momen sebesar Cannes. Ia ingin gaun terlihat mewah, tetapi tetap nyaman dan alami saat bergerak. Keseimbangan antara detail dan fungsi menjadi perhatian utama. Dengan begitu, hasil akhir tidak hanya indah saat difoto, tetapi juga enak dipakai.

Ketelitian juga diperlukan karena gaun tersebut menuntut presisi pada setiap lapisan. Bordir, struktur kain, dan penempatan elemen desain harus saling mendukung. Hal ini membuat pengerjaan tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Dalam dunia mode kelas tinggi, waktu dan ketekunan menjadi bagian penting dari kualitas.

Tantangan Struktur Busana

Tantangan terbesar dalam pembuatan gaun ini terletak pada konstruksi ballgown, terutama di bagian bow. Tim desain harus memastikan bentuknya tetap kuat dan terstruktur. Di saat yang sama, busana juga harus terlihat ringan ketika dipakai. Keseimbangan inilah yang paling sulit dijaga sepanjang proses.

Sapto menuturkan bahwa bentuk gaun harus tetap steady dan sculptural. Namun, karakter itu tidak boleh mengorbankan kelembutan gerak saat dikenakan di karpet merah. Karena itu, pengerjaan dilakukan dengan banyak penyesuaian teknis. Tujuannya agar busana tetap terlihat natural di tubuh Raline.

Fokus utama tim adalah menciptakan struktur yang kuat tanpa membuat gaun terasa kaku. Setiap bagian dikaji ulang agar proporsinya pas dan tidak mengganggu siluet. Dalam busana berkelas tinggi, detail kecil bisa memengaruhi keseluruhan tampilan. Oleh sebab itu, proses penyempurnaan dilakukan secara berulang.

Hasil akhirnya menunjukkan bahwa tantangan teknis dapat diolah menjadi keunggulan visual. Bentuk bow yang tegas tetap terlihat lembut ketika bergerak. Karakter ini memberi kesan mewah yang tidak berat. Pada momen karpet merah, kualitas semacam itu sangat menentukan daya tarik busana.

Makna Warna Oyster

Warna Oyster kembali dipilih karena sudah lama menjadi salah satu palet khas SAPTO DJOJOKARTIKO. Warna tersebut dikenal memiliki karakter timeless, understated, dan elegan. Dalam konteks karpet merah, Oyster memberi kesan tenang namun tetap kuat. Pilihan itu juga sejalan dengan citra Raline yang anggun dan klasik.

Raline juga disebut secara personal menginginkan warna tersebut untuk penampilannya di Cannes. Baginya, Oyster merepresentasikan sisi klasik dan anggun dari dirinya sendiri. Sapto melihat pilihan itu sebagai keputusan yang tepat untuk menonjolkan karakter pemakai. Warna ini membantu membangun kesan mewah tanpa terasa berlebihan.

Menurut Sapto, Oyster memiliki kekuatan untuk tampil standout sekaligus memberi ruang bagi detail busana. Bordir, tekstur, dan siluet gaun menjadi lebih hidup di bawah pencahayaan red carpet. Efek visual tersebut memperkaya keseluruhan tampilan Raline. Karena itu, warna ini tidak hanya indah, tetapi juga fungsional secara estetika.

Penampilan Raline di Cannes 2026 kembali menunjukkan bagaimana pilihan warna dapat memperkuat narasi busana. Dengan Oyster, gaun tampil elegan, tenang, dan mudah diingat. Kombinasi warna, motif, dan konstruksi membuat busana ini terasa utuh. Di panggung internasional, kesan seperti ini menjadi nilai penting bagi sebuah penampilan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!