Purbaya Targetkan Rupiah Menguat ke Rp15.000 per Dolar AS

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 19:12 WIB 2
Purbaya Targetkan Rupiah Menguat ke Rp15.000 per Dolar AS

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menguat ke level Rp15.000 dari posisi saat ini yang masih berada di atas Rp17.600. Target tersebut disampaikan di Jakarta Pusat, Jumat (22/5/2026), dengan rencana langkah baru yang akan mulai dijalankan pekan depan untuk memperkuat mata uang Garuda.

Purbaya menilai penguatan rupiah akan ditopang oleh kebijakan yang membuat devisa hasil ekspor tidak keluar dari Indonesia. Pemerintah juga bersiap menerapkan aturan penempatan DHE baru mulai Juni 2026, termasuk kewajiban menyimpan devisa hasil ekspor di Himbara.

Rupiah dan kebijakan DHE

Purbaya menyebut langkah baru itu akan berkaitan langsung dengan nilai tukar rupiah. Menurut dia, kebijakan tersebut diharapkan membuat hasil devisa ekspor tetap berada di dalam negeri. Ia menekankan, arus dana dari ekspor batu bara dan CPO perlu lebih banyak tinggal di Indonesia.

Ia mengatakan pemerintah akan mulai bergerak pekan depan untuk mendorong penguatan rupiah. Meski belum memerinci kebijakan yang akan diambil, ia menegaskan arah kebijakan tersebut sudah disiapkan. Fokus utamanya adalah menjaga agar devisa hasil ekspor tidak keluar ke luar negeri.

Dalam keterangannya, Purbaya mengaitkan penguatan rupiah dengan pengelolaan devisa hasil ekspor yang lebih disiplin. Ia menyebut aturan DHE yang baru akan mulai dijalankan pada Juni 2026. Skema itu diharapkan memberi dampak lebih besar terhadap ketersediaan valas di dalam negeri.

Pemerintah juga mewajibkan penempatan devisa hasil ekspor di bank-bank milik negara. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memperkuat likuiditas valas di sistem keuangan domestik. Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah diharapkan mereda secara bertahap.

Peran bank milik negara

Penempatan DHE di Himbara menjadi salah satu instrumen utama dalam kebijakan baru pemerintah. Langkah itu diharapkan membuat dana hasil ekspor lebih mudah dipantau dan dimanfaatkan di dalam negeri. Pemerintah menilai skema ini dapat memperkuat ketahanan eksternal Indonesia.

Purbaya menilai kebijakan tersebut akan membantu menjaga ketersediaan devisa. Ia menyebut hasil ekspor yang sebelumnya cenderung mengalir keluar bisa ditahan lebih lama di Indonesia. Kondisi itu diharapkan memberi ruang lebih besar bagi stabilisasi rupiah.

Menurut dia, sektor ekspor seperti batu bara dan crude palm oil memiliki peran penting dalam pasokan devisa. Karena itu, pengelolaan DHE yang lebih ketat dianggap perlu untuk mendukung stabilitas mata uang. Pemerintah ingin hasil ekspor menjadi sumber penguatan ekonomi domestik.

Dengan penempatan dana di perbankan nasional, pemerintah berharap aliran valas menjadi lebih terkontrol. Kebijakan ini juga ditujukan untuk memperkuat koordinasi antara fiskal dan sektor keuangan. Pada akhirnya, stabilitas rupiah diharapkan lebih mudah dijaga.

Stabilisasi pasar obligasi

Selain DHE, Kementerian Keuangan juga mendorong stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar obligasi. Langkah itu dilakukan untuk menahan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi agar tidak terlalu tinggi. Jika yield melonjak, arus modal asing berisiko keluar dari pasar keuangan domestik.

Purbaya menjelaskan bahwa penurunan yield membuat obligasi Indonesia tetap menarik bagi investor asing. Ia menilai kondisi pasar yang stabil akan mengurangi keraguan pelaku asing untuk masuk. Karena itu, stabilitas obligasi menjadi bagian penting dari penjagaan rupiah.

Ia menyebut ketika harga obligasi stabil, minat investor asing cenderung tetap terjaga. Aliran dana dari luar negeri pun dapat membantu menopang pasar keuangan dalam negeri. Dalam pandangannya, situasi itu memberi sinyal positif bagi kekuatan rupiah.

Pemerintah akan terus menjaga kondisi pasar agar tidak terjadi gejolak yang berlebihan. Purbaya menekankan bahwa stabilitas obligasi dan rupiah harus berjalan beriringan. Dengan kombinasi kebijakan tersebut, penguatan nilai tukar diharapkan lebih berkelanjutan.

Target penguatan rupiah

Purbaya menargetkan rupiah bisa kembali ke level Rp15.000 per dolar AS. Saat ini, kurs rupiah masih berada di atas Rp17.600 per dolar AS. Selisih tersebut menunjukkan ruang penguatan yang masih cukup besar.

Target itu menandakan pemerintah ingin melihat perbaikan fundamental nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan. Purbaya tidak menyampaikan tenggat waktu pencapaiannya, namun menegaskan arah kebijakan sudah disiapkan. Ia yakin langkah yang akan diambil mulai pekan depan dapat memberi efek positif.

Keberhasilan penguatan rupiah akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan kebijakan. Penempatan DHE, stabilisasi obligasi, dan pengelolaan aliran modal menjadi faktor yang saling terkait. Pemerintah berharap kombinasi itu mampu menahan tekanan pada mata uang domestik.

Di tengah volatilitas pasar global, kebijakan yang menjaga pasokan devisa dinilai semakin penting. Pemerintah ingin memastikan hasil ekspor memberi manfaat langsung bagi perekonomian nasional. Dengan begitu, rupiah memiliki landasan yang lebih kuat untuk bergerak naik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!