Purbaya Targetkan Rupiah Kembali ke Rp15.000

Forex & Saham Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 00:47 WIB 3
Purbaya Targetkan Rupiah Kembali ke Rp15.000

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan nilai tukar rupiah dapat kembali ke level Rp15.000 per dolar Amerika Serikat dari posisi saat ini yang masih berada di atas Rp17.600. Target itu disampaikan di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Jumat, 22 Mei 2026, bersamaan dengan sinyal akan adanya langkah baru pemerintah mulai pekan depan.

Purbaya menilai penguatan rupiah akan ditopang oleh kebijakan yang membuat devisa hasil ekspor tidak keluar dari Indonesia. Pemerintah juga bersiap menerapkan aturan penempatan devisa hasil ekspor yang baru mulai Juni 2026, termasuk kewajiban menyimpan dana di Himbara.

Rupiah Jadi Fokus Baru

Purbaya menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan untuk mendorong penguatan rupiah dalam waktu dekat. Ia menyebut langkah tersebut akan mulai berjalan pada pekan depan.

Meski belum menjelaskan detail kebijakan yang dimaksud, arah kebijakan itu diproyeksikan memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri. Pemerintah ingin memastikan hasil devisa ekspor tidak langsung mengalir ke luar negeri.

Menurut Purbaya, stabilitas rupiah tidak dapat dilepaskan dari arus devisa yang lebih tertahan di dalam negeri. Karena itu, kebijakan baru diarahkan untuk menjaga likuiditas valas tetap aman.

Target penguatan ke Rp15.000 dinilai menjadi sinyal optimisme pemerintah terhadap kondisi pasar. Namun, pencapaian level tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter.

DHE Diperkuat Mulai Juni

Pemerintah akan mulai menerapkan aturan baru terkait devisa hasil ekspor pada Juni 2026. Salah satu poin utamanya adalah kewajiban penempatan dana di bank-bank milik negara.

Kebijakan tersebut ditujukan agar hasil ekspor, terutama dari sektor batu bara dan crude palm oil atau CPO, tetap berada di Indonesia. Dengan demikian, suplai devisa di dalam negeri dapat meningkat.

Purbaya menyebut penguatan DHE akan memberi efek berantai terhadap stabilitas nilai tukar. Ia menilai arus devisa yang tertahan akan membantu mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Langkah itu juga diharapkan memberi kepastian bagi pelaku usaha ekspor. Dengan mekanisme yang lebih jelas, pemerintah berharap perputaran dana ekspor dapat mendukung sistem keuangan domestik.

Obligasi Dijaga Tetap Stabil

Selain melalui DHE, Kementerian Keuangan juga menempuh intervensi di pasar obligasi. Kebijakan itu diarahkan untuk menjaga yield obligasi tidak melonjak terlalu tinggi.

Yield yang terkendali dinilai penting untuk menjaga minat investor asing tetap masuk. Jika imbal hasil terlalu tinggi, arus keluar modal asing dapat meningkat dan menekan pasar keuangan.

Purbaya mengatakan stabilitas harga obligasi menjadi salah satu faktor yang membuat investor asing tidak ragu masuk. Ia menilai kondisi itu perlu dipertahankan ke depan.

Menurut dia, pergerakan bond yang lebih tenang akan membantu menjaga kepercayaan pasar. Kepercayaan tersebut menjadi modal penting bagi stabilitas rupiah dan arus investasi.

Pasar Menanti Eksekusi

Rencana pemerintah untuk memperkuat rupiah kini menjadi perhatian pelaku pasar. Mereka menunggu rincian kebijakan yang akan diumumkan mulai pekan depan.

Keberhasilan strategi itu akan diuji oleh respons pasar valuta asing, ekspor, dan investor obligasi. Kombinasi ketiga faktor tersebut akan menentukan arah rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

Jika penguatan DHE berjalan efektif, pasokan devisa di dalam negeri berpotensi lebih besar. Kondisi itu dapat membantu meredam tekanan terhadap kurs dolar AS.

Pemerintah berharap kebijakan baru tidak hanya menahan pelemahan rupiah, tetapi juga mendorong penguatan yang lebih berkelanjutan. Dengan begitu, stabilitas makroekonomi dapat terjaga lebih baik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!