Purbaya Tak Targetkan Rupiah, Fokus Serap SBN

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 21 Mei 2026 20:38 WIB 8
Purbaya Tak Targetkan Rupiah, Fokus Serap SBN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak menetapkan target khusus untuk nilai tukar rupiah setelah melakukan pembelian surat berharga negara atau SBN. Langkah tersebut, menurut dia, dilakukan semata-mata untuk memberi ruang bernapas bagi stabilitas rupiah di tengah dinamika pasar. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers APBN KITA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Purbaya menekankan bahwa penentuan arah rupiah tetap menjadi kewenangan Bank Indonesia, bukan Kementerian Keuangan. Ia juga memastikan SBN yang telah dibeli negara tidak akan langsung dilepas kembali, melainkan menunggu kondisi pasar yang tepat. Menurut dia, kebijakan ini diarahkan untuk menjaga keseimbangan pasar obligasi dan memperkuat sentimen investor.

Fokus Jaga Rupiah

Purbaya mengatakan pemerintah tidak memiliki target nilai tukar tertentu dalam langkah pembelian SBN. Ia menegaskan urusan kurs merupakan ranah bank sentral, sehingga Kementerian Keuangan tidak mengambil alih kebijakan tersebut. Fokus kementerian, kata dia, hanya pada upaya memberi dukungan agar rupiah memiliki ruang gerak yang lebih stabil.

Dalam keterangannya, Purbaya menyebut pembelian SBN menjadi salah satu instrumen untuk meredam tekanan di pasar keuangan. Kebijakan itu diharapkan membantu menjaga kepercayaan pelaku pasar ketika terjadi gejolak. Dengan demikian, stabilitas rupiah dapat terbantu tanpa harus menetapkan level kurs tertentu.

Purbaya menambahkan, langkah pemerintah bukan untuk mengejar posisi rupiah terhadap dolar AS dalam jangka pendek. Ia menilai yang lebih penting adalah menjaga kondisi pasar tetap berfungsi secara sehat. Karena itu, pembelian SBN diposisikan sebagai dukungan likuiditas, bukan intervensi langsung pada target kurs.

Menurut dia, koordinasi dengan otoritas moneter tetap menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Pemerintah, lanjutnya, akan bergerak sesuai kebutuhan pasar dan tidak terpaku pada satu angka tertentu. Sikap tersebut dinilai lebih fleksibel menghadapi dinamika global yang cepat berubah.

SBN Tak Langsung Dijual

Purbaya memastikan SBN yang sudah dibeli negara tidak akan langsung dijual kembali saat rupiah menguat. Pemerintah, kata dia, akan menyesuaikan waktu pelepasan SBN dengan kondisi pasar yang dinilai aman. Keputusan itu dilakukan agar kebijakan tidak menimbulkan guncangan baru di pasar obligasi.

Ia menegaskan tidak ada jadwal pasti untuk kembali melepas surat utang tersebut. Menurut Purbaya, penjualan bisa dilakukan kapan saja selama kondisi pasar mendukung. Dengan cara itu, pemerintah bisa menjaga fleksibilitas dalam pengelolaan portofolio pembiayaan.

Purbaya juga menolak anggapan bahwa pembelian SBN harus segera dibalikkan setelah situasi membaik. Ia menyebut keputusan akan diambil berdasarkan evaluasi pasar, bukan tenggat waktu tertentu. Pendekatan ini, menurut dia, memberi ruang kebijakan yang lebih luas bagi pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah berharap langkah tersebut mampu menstabilkan pasar obligasi dalam jangka lebih panjang. Jika pasar tenang, tekanan pada rupiah juga diharapkan ikut mereda. Kondisi itu menjadi penting untuk menjaga kepercayaan investor domestik maupun asing.

Arus Asing Mulai Masuk

Purbaya mengatakan investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi dengan nilai sekitar Rp1,3 triliun. Masuknya dana asing itu dinilai ikut membantu menekan imbal hasil atau yield obligasi. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sinyal positif bagi pasar keuangan.

Menurut dia, hari ini arus masuk juga tercatat di pasar sekunder sebesar Rp500 miliar. Sementara itu, di pasar primer, dana asing disebut masuk sebesar Rp1,68 triliun. Data tersebut menunjukkan minat investor terhadap instrumen surat utang pemerintah mulai membaik.

Purbaya menilai penurunan yield bond menjadi salah satu dampak dari meningkatnya permintaan. Ketika minat investor naik, harga obligasi cenderung bergerak lebih kuat dan yield menurun. Dalam pandangannya, kondisi ini mencerminkan pasar yang mulai kembali stabil.

Ia juga menilai arus masuk dana asing dapat memberi dukungan tambahan bagi rupiah. Namun, pemerintah tetap mencermati perkembangan pasar agar pergerakan tersebut tidak bersifat sesaat. Stabilitas yang berkelanjutan, kata dia, menjadi tujuan utama dari kebijakan yang ditempuh.

Stabilitas Pasar Dijaga

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, mengatakan langkah pembelian SBN dilakukan untuk menjaga pasar obligasi dari aksi jual bersih investor. Ia menjelaskan kebijakan tersebut dirancang untuk menahan tekanan yang dapat mengganggu stabilitas pasar. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan pasar tetap terjaga dalam kondisi yang sehat.

Suminto menambahkan bahwa stabilitas SBN juga berperan dalam menjaga kepercayaan investor yang sudah lebih dulu berada di pasar. Ketika pasar dinilai stabil, arus masuk dana baru juga berpeluang meningkat. Karena itu, kebijakan yang ditempuh tidak hanya bertujuan mencegah outflow, tetapi juga menarik inflow.

Ia menegaskan investor umumnya memperhatikan konsistensi dan stabilitas kebijakan sebelum menempatkan dananya. Jika kepercayaan terjaga, pasar obligasi berpotensi tetap likuid dan menarik. Dalam situasi seperti itu, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk menjaga pembiayaan negara tetap efisien.

Meski demikian, Suminto tidak menjelaskan berapa lama langkah pembelian SBN ini akan dijalankan. Ia hanya menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan menyesuaikan kondisi pasar. Dengan pendekatan itu, Kementerian Keuangan berharap pasar obligasi tetap stabil dan rupiah memperoleh dukungan yang memadai.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!