Purbaya Sebut IHSG Terseret Ketidakpastian BUMN Ekspor

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 26 Mei 2026 05:45 WIB 3
Purbaya Sebut IHSG Terseret Ketidakpastian BUMN Ekspor

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dipicu reaksi pasar terhadap rencana pembentukan badan usaha milik negara khusus ekspor. Menurutnya, investor belum sepenuhnya memahami dampak kebijakan baru yang diumumkan pemerintah pada Rabu, 20 Mei 2026. Ketidakpastian itu, kata Purbaya, membuat pelaku pasar memilih menjual saham lebih dulu.

Purbaya menyampaikan pandangan itu di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Kamis, 21 Mei 2026. Ia optimistis IHSG akan kembali menguat setelah pasar memahami manfaat pembentukan BUMN ekspor untuk tata kelola perdagangan sumber daya alam. Kebijakan tersebut juga disebut bertujuan menutup celah praktik under invoicing dan memperbaiki penerimaan negara.

IHSG Tertekan Ketidakpastian

Purbaya menilai pasar saham merespons cepat setiap kebijakan yang belum memiliki kepastian penuh. Dalam situasi seperti itu, investor cenderung mengambil langkah aman dengan melepas aset lebih dahulu. Pola tersebut, menurutnya, wajar terjadi ketika informasi yang diterima pasar masih terbatas.

Ia menyebut penurunan IHSG tidak semata-mata mencerminkan fundamental emiten. Sentimen jangka pendek sering kali lebih dominan saat pelaku pasar menimbang risiko dari kebijakan baru. Karena itu, tekanan jual dapat muncul meski dampak jangka panjang belum terlihat jelas.

Purbaya menegaskan pasar akan menyesuaikan diri setelah memperoleh gambaran yang lebih utuh. Saat persepsi investor berubah, harga saham berpeluang kembali bergerak naik. Ia menilai proses ini merupakan dinamika yang lazim dalam pasar modal.

BUMN Ekspor dan Dampaknya

Pemerintah membentuk badan baru untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Langkah ini diharapkan membuat alur perdagangan lebih transparan dan terpantau. Selain itu, kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan praktik pelaporan nilai ekspor yang tidak sesuai.

Purbaya menjelaskan, pembentukan BUMN ekspor berpotensi menutup ruang bagi praktik under invoicing. Dengan mekanisme satu pintu, nilai penjualan komoditas diharapkan tercatat lebih akurat. Kondisi itu dinilai dapat meningkatkan kualitas data perdagangan nasional.

Menurut dia, perbaikan tata kelola akan memberi manfaat langsung bagi perusahaan yang tercatat di bursa. Jika pencatatan penjualan lebih transparan, laba yang dilaporkan pun berpeluang terlihat lebih besar. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat mendorong kenaikan valuasi emiten terkait.

Optimisme di Pasar Saham

Purbaya meyakini efek positif kebijakan itu belum sepenuhnya diserap pasar. Ia menilai investor membutuhkan waktu untuk memahami bahwa badan ekspor justru bisa memperkuat kinerja korporasi. Setelah itu, sentimen terhadap saham-saham terkait komoditas berpotensi membaik.

Ia menambahkan, perusahaan yang selama ini bergantung pada ekspor sumber daya alam dapat memperoleh keuntungan yang lebih jelas. Pencatatan pendapatan yang lebih murni akan membantu memperlihatkan kinerja operasional secara lebih akurat. Hal tersebut, menurutnya, menjadi kabar baik bagi emiten di sektor terkait.

Dengan ekspektasi yang membaik, IHSG dinilai memiliki ruang untuk pulih. Purbaya percaya pasar akan merespons logika bisnis dari kebijakan tersebut secara bertahap. Bila pemahaman investor meningkat, tekanan jual berpotensi mereda.

Arah Kebijakan Ekspor Baru

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan bahwa seluruh ekspor sumber daya alam akan dikelola melalui satu pintu. Pemerintah menunjuk BUMN tertentu sebagai pengekspor tunggal untuk komoditas strategis. Kebijakan ini mencakup kelapa sawit, batu bara, hingga ferro alloy.

Prabowo menegaskan penjualan hasil sumber daya alam harus dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah. Ia menyampaikan hal itu dalam rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari penguatan kontrol negara atas perdagangan komoditas unggulan.

Pemerintah menilai sistem satu pintu akan memberi kendali yang lebih besar terhadap alur ekspor nasional. Di sisi lain, kebijakan ini juga diharapkan meningkatkan efisiensi dan transparansi transaksi. Pasar kini menanti detail implementasi untuk menilai dampak nyatanya terhadap sektor saham dan perekonomian.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!