Purbaya: Pembelian SBN untuk Jaga Ruang Gerak Rupiah

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 11:06 WIB 6
Purbaya: Pembelian SBN untuk Jaga Ruang Gerak Rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pembelian surat berharga negara atau SBN dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan itu, menurut dia, bukan untuk mengejar target kurs tertentu terhadap dolar AS. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers APBN KITA di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Purbaya menekankan, penentuan arah rupiah tetap berada di bawah kewenangan Bank Indonesia. Sementara itu, langkah pembelian SBN diposisikan sebagai upaya memberi ruang bernapas bagi pasar keuangan. Pemerintah juga memastikan pelepasan SBN akan disesuaikan dengan kondisi pasar.

SBN dan Stabilitas Rupiah

Purbaya mengatakan pembelian SBN bukan bagian dari target nilai tukar yang kaku. Ia menilai kebijakan tersebut lebih tepat dipahami sebagai dukungan terhadap stabilitas pasar.

Menurut dia, urusan nilai tukar bukan ranah kepentingan fiskal Kementerian Keuangan. Karena itu, kebijakan yang ditempuh diarahkan untuk membantu meredam tekanan pada rupiah.

Ia menyebut langkah tersebut diambil agar rupiah memiliki ruang bergerak yang lebih aman. Dengan demikian, pasar dapat merespons sentimen global tanpa tekanan berlebihan.

Pemerintah, kata dia, tetap menghormati peran bank sentral dalam menjaga kurs. Koordinasi antarotoritas menjadi penting agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga.

Pasar Obligasi Mulai Menguat

Purbaya menyampaikan investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi. Arus masuk itu, menurut dia, mencapai sekitar Rp1,3 triliun.

Masuknya dana asing disebut ikut mendorong penurunan yield obligasi. Kondisi itu menandakan minat investor terhadap instrumen surat utang negara mulai membaik.

Ia menjelaskan, di pasar sekunder tercatat masuk sekitar Rp500 miliar. Sementara itu, di pasar primer, dana asing disebut masuk sebesar Rp1,68 triliun.

Pergerakan tersebut menunjukkan respons pasar terhadap kebijakan yang dijalankan pemerintah. Purbaya menilai, stabilitas yang dijaga dapat memperkuat kepercayaan investor.

Langkah Pemerintah di Pasar

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, mengatakan kebijakan ini ditujukan untuk menahan aksi jual bersih. Dengan begitu, pasar obligasi diharapkan tetap stabil dalam menghadapi tekanan eksternal.

Ia menegaskan, pemerintah ingin menjaga investor yang sudah ada agar tetap nyaman berinvestasi. Stabilitas SBN dianggap penting karena menjadi sinyal kepercayaan bagi pelaku pasar.

Suminto juga menilai kestabilan instrumen surat utang dapat memicu masuknya dana baru. Arus masuk itu diperlukan agar pasar tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh.

Meski demikian, ia tidak memaparkan berapa lama langkah tersebut akan dijalankan. Pemerintah disebut akan menyesuaikan kebijakan dengan perkembangan pasar ke depan.

Respons Investor Asing

Masuknya investor asing memberi sinyal positif bagi pasar obligasi domestik. Kondisi itu menunjukkan sentimen terhadap aset rupiah mulai membaik.

Di sisi lain, pemerintah tetap berhati-hati agar inflow yang masuk tidak memicu volatilitas baru. Karena itu, pengelolaan SBN dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar secara berkala.

Purbaya menegaskan SBN yang sudah dibeli tidak akan langsung dijual kembali saat rupiah menguat. Pelepasan instrumen itu, menurut dia, hanya dilakukan bila situasi pasar memang mendukung.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap stabilitas rupiah tetap terjaga tanpa mengganggu mekanisme pasar. Kebijakan ini juga diharapkan memperkuat kepercayaan investor jangka menengah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!