Purbaya Pastikan Rupiah Lemah Belum Ganggu APBN

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 10:32 WIB 4
Purbaya Pastikan Rupiah Lemah Belum Ganggu APBN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.700 per dolar Amerika Serikat belum mengganggu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pemerintah, menurut dia, sudah memasukkan berbagai skenario pelemahan kurs dalam perhitungan fiskal sehingga dampaknya terhadap APBN tetap terkendali.

Purbaya menyampaikan hal itu di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 19 Mei 2026. Ia menegaskan, perubahan kurs tidak otomatis memperlebar defisit karena asumsi APBN 2026 telah disusun dengan perhitungan yang matang.

Rupiah dan APBN

Purbaya menilai pelemahan rupiah tidak menjadi ancaman langsung bagi postur anggaran negara. Pemerintah, kata dia, sudah menyiapkan simulasi untuk berbagai kemungkinan pergerakan nilai tukar.

Dalam penjelasannya, ia menyebut skenario kurs sudah diperhitungkan sejak penyusunan APBN. Karena itu, pelemahan rupiah masih berada dalam batas yang dapat dikelola oleh fiskal.

Asumsi kurs rupiah dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp16.500 per dolar AS. Meski rupiah sempat melemah lebih jauh, pemerintah menilai ruang penyesuaian masih tersedia.

Purbaya juga menegaskan bahwa dampak pelemahan rupiah relatif lebih kecil dibandingkan faktor eksternal lain. Salah satu yang paling besar, menurut dia, adalah kenaikan harga minyak dunia.

Simulasi Fiskal Pemerintah

Menurut Purbaya, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$1 akan menambah defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun. Ia menyebut besaran itu jauh lebih signifikan dibandingkan dampak pergerakan rupiah.

Ketika ditanya soal besaran pengaruh pelemahan kurs, ia mengaku perhitungan sudah dilakukan. Namun, Purbaya tidak merinci angka yang dimaksud kepada publik.

Ia hanya menegaskan bahwa efek pelemahan rupiah sangat kecil jika dibandingkan dengan lonjakan harga energi. Pernyataan itu menunjukkan pemerintah lebih mencermati tekanan dari sisi komoditas global.

Dengan simulasi yang telah disiapkan, pemerintah mengklaim APBN tetap berada dalam posisi aman. Strategi itu menjadi landasan utama untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian pasar keuangan.

Defisit Mulai Menyusut

Purbaya menyebut kondisi APBN saat ini justru membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Per 30 April 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap produk domestik bruto.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi defisit pada Maret 2026 yang mencapai Rp240,1 triliun. Pada saat itu, defisit setara 0,93 persen terhadap PDB.

Penurunan defisit terjadi seiring perbaikan keseimbangan primer yang sudah kembali mencatat surplus. Hingga akhir April 2026, surplus tersebut mencapai Rp28 triliun.

Purbaya menilai tren ini menjadi sinyal bahwa pengelolaan fiskal berjalan ke arah yang lebih sehat. Ia juga menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak sejalan dengan kekhawatiran sebagian analis yang memproyeksikan defisit akan melebar.

Prospek APBN Ke Depan

Menurut Purbaya, perhitungan yang menyimpulkan defisit akan membengkak hingga 3,6 persen tidak tepat. Ia menyebut cara berhitung seperti itu sebagai asumsi yang keliru dan tidak sesuai dengan data aktual.

Pemerintah, kata dia, melihat kondisi fiskal saat ini masih terjaga dan cenderung membaik. Surplus keseimbangan primer menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian tersebut.

Ia menambahkan bahwa tren perbaikan berpeluang berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Selama penerimaan dan belanja negara tetap terkontrol, APBN dinilai masih aman.

Dengan dasar itu, pemerintah tidak melihat pelemahan rupiah sebagai faktor yang dapat mengguncang fiskal secara signifikan. Fokus utama kini tetap menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan anggaran negara.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!