Purbaya: Orang Susah di Indonesia Makin Berkurang

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 07:16 WIB 7
Purbaya: Orang Susah di Indonesia Makin Berkurang

Orang susah di Indonesia dinilai bakal makin berkurang seiring percepatan pertumbuhan ekonomi yang tengah digenjot pemerintah. Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam sesi talkshow Jogja Financial Festival 2026, saat menanggapi pertanyaan tentang dampak nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terhadap ekonomi nasional.

Dalam forum tersebut, Purbaya menegaskan rupiah dan IHSG tidak bisa disamakan dengan pondasi ekonomi. Menurutnya, pergerakan keduanya sangat dipengaruhi sentimen pasar dan ekspektasi pelaku ekonomi, sehingga tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental secara langsung.

Sentimen Pasar dan Rupiah

Purbaya menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah dan IHSG bergerak berbeda dari fondasi ekonomi. Ia menilai keduanya lebih banyak dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap kondisi yang akan datang. Karena itu, gejolak pada pasar keuangan tidak selalu berarti ekonomi sedang memburuk.

Menurut Purbaya, sentimen pasar kerap membuat pelaku ekonomi bereaksi berlebihan terhadap isu tertentu. Ia menyebut ekspektasi menjadi faktor penting dalam pembentukan harga aset dan nilai tukar. Kondisi tersebut membuat rupiah dan saham sangat sensitif terhadap kabar positif maupun negatif.

Ia menambahkan, sejak akhir tahun pasar saham domestik dipenuhi berita negatif yang memengaruhi psikologis investor. Di antaranya adalah evaluasi MSCI, pemangkasan outlook kredit oleh sejumlah lembaga pemeringkat global, hingga pelemahan rupiah. Rangkaian sentimen itu, kata dia, sempat menekan kepercayaan pasar.

Fondasi Ekonomi Tetap Diperkuat

Purbaya mengatakan tekanan di pasar sempat membuat kondisi ekonomi Indonesia seolah-olah menyerupai krisis moneter 1998. Namun, ia menegaskan situasi saat ini berbeda karena pemerintah terus memperbaiki pondasi ekonomi. Menurutnya, kebijakan yang ditempuh tidak salah arah dan tetap berada di jalur yang tepat.

Ia menyebut pemerintah, bersama Presiden Prabowo, serius menjalankan reformasi ekonomi untuk memperkuat fundamental nasional. Perbaikan dilakukan secara bertahap agar daya tahan ekonomi semakin kuat menghadapi tekanan eksternal. Dengan fondasi yang lebih kokoh, pasar modal diyakini akan ikut menguat.

Purbaya juga menepis kekhawatiran berlebihan bahwa Indonesia akan mengulang krisis 1998. Menurutnya, kondisi sekarang sudah berbeda dan ruang untuk membangun pertumbuhan lebih besar. Ia pun meminta publik tidak terlalu khawatir terhadap gejolak jangka pendek di pasar keuangan.

Prospek Saham Masih Cerah

Di hadapan peserta forum, Purbaya menilai pasar saham Indonesia masih memiliki prospek yang cerah. Meski dalam beberapa waktu terakhir bergerak fluktuatif dan sempat tertekan cukup dalam, ia melihat posisi indeks sudah mendekati titik terendah. Dari kondisi itu, peluang kenaikan dinilai masih sangat terbuka.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi bekerja mengikuti siklus bisnis yang bergerak naik dan turun. Dalam fase ekspansi, pertumbuhan bisa berlangsung lama jika reformasi dijalankan dengan konsisten. Menurutnya, periode ekspansi dapat bertahan tujuh hingga delapan tahun, bahkan lebih panjang jika kebijakan tepat.

Purbaya memperkirakan potensi kenaikan indeks saham dalam beberapa tahun ke depan masih sangat besar. Ia menyebut, dari titik terendah, pasar berpeluang naik beberapa kali lipat hingga 2028-2030. Menurut hitungannya, prospek tersebut sangat baik seiring perbaikan ekonomi yang terus berjalan.

Optimisme Enam Bulan Ke Depan

Purbaya memastikan pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor swasta dan domestik. Ia menilai dua mesin pertumbuhan itu menjadi kunci untuk mempercepat perbaikan kesejahteraan masyarakat. Dengan strategi tersebut, tekanan terhadap kelompok rentan diharapkan dapat berkurang.

Ia bahkan meyakini dalam enam bulan ke depan, kondisi masyarakat yang mengalami kesulitan akan semakin membaik. Menurutnya, efek dari pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat akan mulai terlihat secara nyata. Karena itu, ia optimistis jumlah orang yang susah akan terus menurun.

Di akhir paparannya, Purbaya menegaskan bahwa arah kebijakan ekonomi saat ini berada pada jalur yang benar. Ia menilai perbaikan fundamental, reformasi ekonomi, dan penguatan konsumsi domestik akan menjadi penopang utama. Dengan kombinasi itu, ekonomi Indonesia dinilai memiliki ruang tumbuh yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!