Purbaya Heran Rupiah Melemah Saat Fundamental Ekonomi Kuat

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 19:12 WIB 2
Purbaya Heran Rupiah Melemah Saat Fundamental Ekonomi Kuat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus stres melihat nilai tukar rupiah melemah hingga mendekati Rp 17.800 per dolar AS. Ia menilai pelemahan itu tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya masih bagus. Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, pada Rabu.

Di tengah tekanan pada rupiah, Purbaya menegaskan pemerintah tidak perlu melakukan stres test ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ia menyebut berbagai simulasi, termasuk skenario harga minyak dunia naik hingga US$ 100 per barel, sudah dihitung sebelumnya. Menurutnya, pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas fiskal dan pasar keuangan.

Rupiah Melemah dan Respons Fiskal

Purbaya menilai pelemahan rupiah tidak masuk akal jika dilihat dari kondisi ekonomi domestik. Ia menyebut, biasanya mata uang melemah ketika ada gangguan pada fundamental, bukan saat indikator utama ekonomi relatif kuat. Karena itu, ia menilai tekanan pada rupiah perlu dilihat lebih jauh dari sekadar data harian.

Meski begitu, pemerintah tidak menanggapi kondisi tersebut dengan kepanikan. Purbaya mengatakan APBN sudah disiapkan melalui berbagai simulasi yang mempertimbangkan perubahan harga energi dan kurs. Dengan perhitungan itu, ia menilai postur fiskal tetap aman dan tidak perlu dihitung ulang.

Purbaya bahkan berkelakar bahwa dirinya yang justru stres menghadapi pelemahan rupiah. Namun, ia menegaskan stres tersebut tidak berarti pemerintah kehilangan kendali. Sebaliknya, kondisi itu mendorong otoritas fiskal untuk terus memantau pasar secara lebih ketat.

Pasar Obligasi Tetap Stabil

Di sisi lain, Purbaya menyoroti imbal hasil obligasi pemerintah atau bond yield yang justru turun. Penurunan itu, menurutnya, terjadi karena aksi pemerintah melalui intervensi di pasar Surat Berharga Negara. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mencegah gejolak yang lebih besar.

Ia menjelaskan, tim di Direktorat Jenderal Perbendaharaan ikut melakukan pembelian secukupnya agar yield tetap terkendali. Kebijakan itu disebut membantu pasar obligasi tetap atraktif bagi investor. Dengan kondisi tersebut, pemerintah menilai transmisi kebijakan masih berjalan baik.

Purbaya menekankan bahwa pasar obligasi yang stabil menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar. Selama bond market terkendali, minat investor asing untuk masuk akan tetap terjaga. Dalam pandangannya, stabilitas itu juga berkontribusi pada ketahanan rupiah.

Aliran Modal Asing Menguat

Purbaya menyebut mulai terlihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi Indonesia. Menurutnya, arus dana tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan domestik masih cukup tinggi. Ia menilai sentimen itu penting untuk menopang pasar di tengah tekanan nilai tukar.

Kepercayaan investor, kata dia, tidak hanya bergantung pada kurs, tetapi juga pada stabilitas pasar surat utang. Karena itu, pemerintah ingin menjaga kondisi obligasi tetap menarik dan likuid. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga arus investasi tetap positif.

Purbaya menambahkan bahwa pemerintah akan kembali mengambil tindakan bila dibutuhkan untuk memperkuat kondisi pasar. Ia menyebut kebijakan lanjutan akan diarahkan agar dampaknya terhadap rupiah lebih signifikan. Dengan begitu, stabilitas eksternal dapat tetap terjaga.

Prospek Rupiah ke Depan

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, tercatat melemah 0,29 persen atau 52 poin ke level Rp 17.795 per dolar AS. Angka itu nyaris menyentuh Rp 17.800 dan menjadi sorotan pelaku pasar. Pergerakan tersebut memicu perhatian karena terjadi di tengah kondisi ekonomi yang dinilai masih solid.

Meski tekanan masih terasa, pemerintah menilai ruang untuk meredam volatilitas tetap terbuka. Kombinasi intervensi pasar, pengelolaan obligasi, dan kesiapan fiskal disebut menjadi penopang utama. Purbaya menegaskan pemerintah akan terus mengamati perkembangan pasar secara cermat.

Di tengah dinamika tersebut, arah rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi sentimen global dan respons kebijakan domestik. Selama fundamental ekonomi tetap terjaga, pemerintah optimistis stabilitas dapat dipertahankan. Pasar pun diharapkan membaca kebijakan itu sebagai sinyal kepercayaan diri otoritas ekonomi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!