Purbaya Heran Rupiah Melemah ke Rp 17.795 per Dolar AS

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 21:39 WIB 3
Purbaya Heran Rupiah Melemah ke Rp 17.795 per Dolar AS

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp 17.800 per dolar AS. Ia menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya masih bagus. Purbaya menyampaikan pandangan itu saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, pada Rabu kemarin. Menurut dia, pelemahan rupiah dalam situasi itu terasa tidak masuk akal.

Purbaya juga menegaskan pemerintah tidak perlu menguji ulang ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN. Ia menyebut simulasi fiskal telah disiapkan sebelumnya, termasuk skenario harga minyak dunia menembus US$100 per barel. Dalam penjelasannya, ia bahkan berkelakar bahwa dirinya yang justru stres melihat pergerakan kurs. Meski begitu, ia memastikan perhitungan APBN tetap aman.

Rupiah dan Fundamental

Purbaya menilai pelemahan rupiah terjadi di tengah kondisi ekonomi yang masih solid. Ia menyebut fundamental yang baik seharusnya memberi dukungan bagi stabilitas nilai tukar. Karena itu, menurut dia, tekanan terhadap rupiah tidak dapat dijelaskan hanya dari sisi domestik. Ia menganggap pergerakan tersebut perlu dilihat lebih luas dalam konteks pasar keuangan.

Ia menegaskan bahwa pelemahan mata uang biasanya terjadi ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi. Namun, dalam kondisi saat ini, ia justru melihat indikator ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang baik. Purbaya menyebut situasi itu membuat pelemahan rupiah terasa janggal. Ia pun meminta pasar membaca kondisi secara lebih proporsional.

Dalam pernyataannya, Purbaya menggunakan nada lugas untuk menekankan keheranannya. Ia berkata bahwa kondisi ekonomi bagus, tetapi rupiah justru melemah cukup dalam. Menurut dia, ketidaksesuaian itu patut menjadi perhatian bersama. Pemerintah, kata dia, tetap perlu menjaga kepercayaan pasar agar tidak terganggu.

Purbaya juga menilai stabilitas rupiah tidak bisa dilepaskan dari persepsi investor. Jika fundamental dianggap kuat, seharusnya tekanan terhadap kurs tidak berlangsung berlarut. Ia menyebut pemerintah akan terus memantau perkembangan pasar keuangan. Dalam pandangannya, komunikasi yang baik menjadi bagian penting untuk menjaga ekspektasi pelaku pasar.

APBN Tetap Aman

Menjawab pertanyaan soal kemungkinan stress test APBN, Purbaya mengatakan hal itu tidak diperlukan. Ia menyebut pemerintah sudah menghitung berbagai skenario lebih dulu. Simulasi tersebut mencakup asumsi harga minyak dunia yang tinggi dan perubahan kurs rupiah. Karena itu, ia menilai APBN tidak perlu dihitung ulang dari awal.

Purbaya menjelaskan bahwa perhitungan fiskal telah memasukkan banyak variabel risiko. Salah satunya adalah skenario ketika harga minyak mencapai US$100 per barel. Selain itu, asumsi nilai tukar rupiah juga sudah dimasukkan dalam perencanaan anggaran. Dengan dasar tersebut, ia menyebut APBN masih berada dalam kendali.

Ia menegaskan tidak ada kebutuhan mendadak untuk melakukan revisi simulasi. Menurut dia, pemerintah telah menyiapkan ruang antisipasi terhadap gejolak pasar sejak awal. Hal itu membuat pengelolaan anggaran tetap berjalan sesuai rencana. Purbaya pun menyebut dirinya tidak melihat alasan untuk panik.

Dalam kesempatan itu, ia kembali menggunakan istilah sederhana untuk menggambarkan situasi tersebut. Ia mengatakan dirinya yang stres, bukan APBN. Pernyataan itu menegaskan bahwa pemerintah menilai fondasi fiskal masih cukup kuat. Meski begitu, ia mengakui dinamika pasar tetap harus diwaspadai.

Obligasi Menahan Tekanan

Di tengah pelemahan rupiah, Purbaya menyebut imbal hasil obligasi pemerintah justru menurun. Menurut dia, hal itu tidak terlepas dari intervensi pemerintah di pasar Surat Berharga Negara atau SBN. Langkah tersebut dilakukan melalui treasury operation untuk menjaga stabilitas pasar. Dengan demikian, tekanan di pasar obligasi dapat diredam.

Purbaya menjelaskan bahwa aksi pembelian dilakukan oleh jajaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Langkah ini bertujuan menjaga yield agar tetap terkendali. Ia menilai stabilitas pasar obligasi sangat penting bagi kepercayaan investor. Jika pasar bond tertib, arus dana asing cenderung lebih mudah masuk.

Ia menuturkan bahwa pasar obligasi yang stabil akan mendorong minat investor asing. Kondisi itu juga dinilai membantu menjaga pembiayaan negara tetap efisien. Purbaya menyebut pemerintah ingin memastikan obligasi Indonesia tetap menarik. Karena itu, intervensi di pasar akan terus disesuaikan dengan kebutuhan.

Menurut dia, arah kebijakan fiskal dan operasi pasar harus saling mendukung. Ketika yield terkendali, pasar cenderung membaca Indonesia sebagai tujuan investasi yang relatif aman. Purbaya menilai sinyal ini penting untuk menjaga keseimbangan pasar keuangan. Ia berharap stabilitas obligasi ikut meredam tekanan pada rupiah.

Langkah Lanjutan Pemerintah

Purbaya menyebut pemerintah akan menyiapkan aksi lanjutan untuk membantu nilai tukar rupiah. Ia tidak merinci bentuk intervensi yang akan ditempuh, namun menegaskan langkah itu akan memberi dampak lebih signifikan. Fokus utama pemerintah, kata dia, adalah menjaga stabilitas pasar secara menyeluruh. Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah diharapkan bisa berkurang.

Ia juga menyampaikan bahwa aliran modal asing mulai terlihat masuk ke pasar obligasi domestik. Menurut dia, tren tersebut menunjukkan kepercayaan investor masih terjaga. Pemerintah, lanjutnya, akan terus memperkuat kondisi itu melalui kebijakan yang tepat. Pasar obligasi yang solid dinilai menjadi fondasi penting bagi rupiah.

Purbaya menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tidak bisa hanya bergantung pada satu instrumen. Karena itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan operasi pasar menjadi kunci. Ia menyebut pemerintah ingin memastikan setiap langkah saling menguatkan. Tujuannya adalah menjaga keseimbangan antara kurs, obligasi, dan arus modal.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS ditutup menguat 0,29 persen atau 52 poin pada level Rp 17.795 pada Selasa, 26 Mei 2026. Angka tersebut membuat rupiah kembali berada dekat batas psikologis Rp 17.800 per dolar AS. Meski demikian, pemerintah menilai fondasi ekonomi masih cukup kuat untuk menahan gejolak. Karena itu, langkah stabilisasi akan tetap dijalankan secara hati-hati.

Tag Terkait
#rupiah#dolar as#apbn

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!