Purbaya Heran Rupiah Melemah ke Rp 17.795 per Dolar AS

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 07:35 WIB 2
Purbaya Heran Rupiah Melemah ke Rp 17.795 per Dolar AS

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus stres melihat pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat. Ia menilai kondisi itu tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya masih cukup kuat.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu kemarin. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS ditutup di level Rp 17.795 pada perdagangan Selasa, naik 0,29 persen atau 52 poin.

Rupiah dan Fundamental Ekonomi

Purbaya menilai pelemahan rupiah tidak lazim terjadi ketika perekonomian sedang berada dalam kondisi yang baik. Menurut dia, tekanan nilai tukar biasanya muncul saat ada gangguan pada fundamental ekonomi.

Ia menyebut kondisi saat ini justru bertolak belakang dengan pola umum di pasar valuta asing. Karena itu, ia menilai penguatan dolar AS terhadap rupiah terasa tidak masuk akal.

Dalam keterangannya, Purbaya menegaskan bahwa ekonomi Indonesia saat ini masih menunjukkan fondasi yang solid. Ia menilai sejumlah indikator utama belum menunjukkan tanda-tanda gangguan besar.

APBN Tidak Perlu Uji Ulang

Ketika ditanya soal kemungkinan stres test ulang terhadap APBN akibat pelemahan rupiah, Purbaya menolak anggapan tersebut. Ia mengatakan simulasi risiko sudah dihitung sebelumnya oleh pemerintah.

Menurutnya, skenario ekstrem seperti harga minyak dunia menembus US$ 100 per barel juga sudah masuk dalam perhitungan. Asumsi kurs rupiah dalam simulasi itu pun telah disiapkan lebih dulu.

Purbaya bahkan menyebut dirinya yang stres, bukan APBN yang perlu diuji ulang. Ia menegaskan pemerintah tidak perlu menghitung kembali postur anggaran hanya karena tekanan sesaat pada kurs.

Intervensi Pasar Obligasi

Meski rupiah melemah, Purbaya menyampaikan imbal hasil obligasi pemerintah justru turun. Menurut dia, kondisi itu terjadi karena adanya intervensi pemerintah di pasar Surat Berharga Negara.

Aksi tersebut dilakukan oleh jajaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan melalui pembelian terbatas untuk menjaga stabilitas. Langkah itu ditujukan agar yield obligasi tetap terkendali di tengah gejolak kurs.

Purbaya menilai kebijakan tersebut penting untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar. Selama pasar obligasi stabil, menurut dia, tekanan terhadap rupiah juga dapat diredam.

Arus Modal Asing Masuk

Purbaya mengatakan stabilnya pasar obligasi akan mendorong minat investor asing tetap terjaga. Ia menyebut aliran modal asing mulai terlihat masuk ke pasar obligasi Indonesia.

Menurut dia, arus dana tersebut menjadi sinyal bahwa pasar domestik masih dipandang menarik. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga kondisi agar sentimen positif terus berlanjut.

Ia juga memastikan akan ada langkah lanjutan dari pemerintah untuk membantu memperkuat rupiah. Langkah tersebut diharapkan memberi dampak yang lebih signifikan terhadap stabilitas nilai tukar.

Di pasar, dolar AS tercatat menguat hingga hampir menyentuh level Rp 17.800 per unit. Tekanan tersebut menjadi perhatian pemerintah karena berpotensi memengaruhi sentimen pelaku usaha dan investor.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!