PSN Kantongi Izin Operasi Satelit Nusantara Lima

Teknologi BRH 01 Juni 2026 00:40 WIB 2
PSN Kantongi Izin Operasi Satelit Nusantara Lima

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) semakin dekat mengoperasikan secara komersial Satelit Nusantara Lima atau Satelit N5 setelah mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit (Jartupsat) dan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Izin itu diperoleh usai Satelit N5 dinyatakan lolos Uji Laik Operasi (ULO) di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23–24 April 2026.

Dengan kapasitas 160 Gbps, Satelit N5 diproyeksikan menjadi salah satu satelit berkapasitas terbesar di Asia. Kehadirannya diharapkan memperkuat infrastruktur satelit nasional dan mendorong pemerataan akses internet di Indonesia, terutama di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal.

Satelit N5 dan izin Komdigi

Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso menyebut kelulusan ULO menjadi fase krusial sebelum satelit melayani masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa seluruh proses ditempuh untuk memastikan kesiapan teknis sekaligus kepatuhan terhadap regulasi nasional.

Adi mengatakan PSN bersyukur Satelit Nusantara Lima telah melewati tahapan evaluasi dan kini memperoleh izin JARTUPSAT serta VSAT. Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan komitmen perusahaan menghadirkan infrastruktur satelit yang mutakhir dan patuh aturan.

Ia menambahkan, Satelit N5 disiapkan untuk mendukung pemerataan konektivitas di seluruh Nusantara. PSN juga menempatkan proyek ini sebagai bagian dari dukungan terhadap program Asta Cita, terutama dalam mengurangi kesenjangan akses internet di pelosok.

Dengan izin yang telah dikantongi, PSN kini tinggal menunggu langkah operasional lanjutan untuk layanan komersial. Perusahaan menargetkan kapasitas satelit dapat segera dimanfaatkan untuk kebutuhan publik dan sektor produktif.

Uji laik yang ketat

ULO dilakukan oleh Tim Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi Komdigi untuk memastikan seluruh sarana dan prasarana memenuhi standar keamanan dan fungsionalitas. Pengujian itu mengacu pada Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi.

Rangkaian pengujian mencakup validasi infrastruktur jaringan tetap tertutup berbasis satelit dan VSAT. Pemeriksaan tersebut bertujuan menjamin kualitas layanan, keandalan sistem, serta kepatuhan terhadap regulasi spektrum frekuensi di Indonesia.

Pelaksanaan ULO di Gateway Banjarbaru turut ditinjau langsung oleh Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah. Hadir pula JF Penata dan Penyelenggara Pos dan Informatika Ahli Utama Geryantika Kurnia, serta Ketua Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi Falatehan.

Falatehan mengatakan pengujian dilakukan secara komprehensif dan ketat sesuai standar yang berlaku. Ia menegaskan hasil pemeriksaan menunjukkan Satelit N5 laik dioperasikan secara komersial dan layak melindungi hak pengguna jasa telekomunikasi di masa depan.

Dukungan untuk transformasi digital

Menurut Edwin, kehadiran Satelit N5 menjadi aset strategis bagi transformasi digital nasional. Pemerintah, kata dia, membutuhkan dukungan infrastruktur yang mampu menjangkau daerah dengan keterbatasan akses digital.

Ia menyebut target kecepatan internet rata-rata Indonesia sebesar 100 Mbps pada 2029 memerlukan kontribusi dari berbagai infrastruktur, termasuk satelit. Karena itu, kapasitas besar milik Satelit N5 dinilai relevan untuk mendorong pemerataan layanan.

Edwin berharap kapasitas 160 Gbps dapat segera dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat layanan publik. Menurut dia, daerah-daerah yang selama ini sulit memperoleh koneksi layak perlu segera merasakan manfaat teknologi ini.

Pemerintah juga menilai pengoperasian satelit semacam ini akan membantu mempercepat digitalisasi layanan dasar. Dalam jangka panjang, perluasan akses internet diharapkan mendukung pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Jangkauan dan potensi layanan

Satelit N5 menggunakan platform Boeing 702MP dengan 101 spot beam Ka-band. Cakupannya tidak hanya meliputi Indonesia, tetapi juga menjangkau kawasan ASEAN seperti Malaysia dan Filipina.

Satelit ini diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat, pada September 2025. Setelah itu, Satelit N5 menjalani fase Electric Orbit Raising atau EOR sebelum menempati slot orbit 113 derajat Bujur Timur pada Januari 2026.

PSN menyebut seluruh infrastruktur ruas bumi telah terintegrasi dengan segmen luar angkasa. Integrasi itu mencakup tujuh stasiun bumi dari Aceh hingga Tarakan untuk mendukung operasional layanan.

Dengan masa operasional lebih dari 15 tahun, Satelit N5 diproyeksikan mendukung internet cepat bagi masyarakat, dunia usaha, dan penguatan keamanan nasional. Kehadirannya diharapkan menjadi tonggak baru dalam perluasan layanan konektivitas di Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!