Proyeksi Rupiah 2027 Picu Respons Beragam Ekonom

Forex & Saham Gilang Nabaris 26 Mei 2026 15:13 WIB 2
Proyeksi Rupiah 2027 Picu Respons Beragam Ekonom

Proyeksi nilai tukar rupiah di level Rp17.500 per dolar AS pada 2027 memicu beragam tanggapan dari para ekonom. Angka tersebut disampaikan dalam pidato pemerintah pada Rapat Paripurna DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027. Sejumlah analis menilai target itu masih mungkin dicapai, meski kondisi global belum stabil.

Di sisi lain, ada pula pandangan yang menyebut target tersebut belum realistis tanpa kebijakan konkret untuk memperkuat rupiah. Perbedaan pandangan ini muncul di tengah ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat, geopolitik, dan arah perdagangan global. Kondisi tersebut membuat prospek mata uang Garuda tetap menjadi sorotan pelaku pasar.

Proyeksi Rupiah Dinilai Realistis

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai target rupiah Rp17.500 pada 2027 cukup realistis. Menurutnya, asumsi itu masih tergolong konservatif dan sejalan dengan kebutuhan menjaga ruang aman APBN.

Ia menjelaskan, pemerintah tampak berhati-hati dalam menetapkan asumsi kurs karena kondisi global masih penuh ketidakpastian. Tekanan datang dari suku bunga AS, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia.

Lukman menilai pendekatan konservatif tersebut memberi fleksibilitas fiskal jika terjadi tekanan eksternal yang lebih besar. Dalam pandangannya, sikap itu lebih aman dibanding memasang target yang terlalu agresif.

Disiplin Fiskal Jadi Sinyal

Ia juga menyoroti pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis sebagai sinyal positif bagi pasar. Menurutnya, langkah itu dapat dibaca investor sebagai upaya pemerintah menjaga disiplin fiskal.

Jika pasar melihat pemerintah lebih berhati-hati terhadap defisit dan pembiayaan utang, kepercayaan terhadap aset Indonesia bisa membaik. Dalam kondisi demikian, stabilitas rupiah berpeluang ikut terjaga.

Lukman menambahkan, penguatan rupiah tetap terbuka apabila sentimen global membaik dan arus modal asing kembali masuk. Harga komoditas yang solid juga dapat menjadi penopang tambahan bagi mata uang domestik.

Target Rupiah Dinilai Terlalu Ambisius

Berbeda pandangan, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai target rupiah tersebut belum realistis. Menurutnya, pemerintah belum menunjukkan keseriusan untuk mengembalikan kurs ke level yang lebih kuat.

Ia menilai belum ada kebijakan konkret yang mampu mendongkrak nilai tukar rupiah secara signifikan. Karena itu, proyeksi yang disampaikan dinilai belum memiliki pijakan yang cukup kuat.

Wijayanto juga menyoroti intervensi Kementerian Keuangan di pasar modal dan optimalisasi skema Bond Stabilization Fund. Menurutnya, kedua langkah itu hanya efektif meredam volatilitas, bukan memperbaiki faktor utama yang menekan rupiah.

Rupiah dan Restrukturisasi Ekonomi

Presiden Direktur Center For Banking Crisis Achmad Deni Daruri melihat pelemahan rupiah sebagai bagian dari restrukturisasi ekonomi nasional. Ia menilai kondisi ini dapat membuka ruang penyesuaian yang lebih sehat bagi daya saing ekonomi Indonesia.

Menurut Deni, pelemahan dolar AS masih mungkin terjadi jika Federal Reserve menurunkan suku bunga. Dalam skenario itu, rupiah berpeluang memperoleh ruang pemulihan di pasar global.

Ia menyebut depresiasi rupiah seharusnya tidak langsung dibaca sebagai tanda ekonomi melemah. Sebaliknya, situasi itu dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekspor, industri domestik, dan mengurangi ketergantungan impor.

Deni juga menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen belum sepenuhnya mencerminkan fondasi yang kuat. Menurutnya, pertumbuhan masih ditopang konsumsi pemerintah dan sektor hospitality, sementara transformasi struktural belum tampak nyata.

Ia memperingatkan bahwa tanpa arah kebijakan yang jelas, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap. Karena itu, menurutnya, penguatan rupiah perlu dilihat sebagai bagian dari pembenahan ekonomi yang lebih luas.

Perdebatan soal target rupiah 2027 memperlihatkan adanya perbedaan cara membaca arah ekonomi nasional. Sebagian menilai target itu cukup aman, sementara yang lain menuntut langkah yang lebih tegas. Di tengah kondisi global yang rapuh, rupiah akan tetap sensitif terhadap kebijakan fiskal, moneter, dan arus modal asing.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!