Pola Makan Diduga Berpengaruh pada Jerawat

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 08:53 WIB 5
Pola Makan Diduga Berpengaruh pada Jerawat

Jerawat tidak hanya berkaitan dengan skincare atau kebersihan wajah, karena pola makan juga dapat memengaruhi kondisi kulit pada sebagian orang. Sejumlah makanan, seperti tinggi gula, produk susu, dan ultra processed food, diduga dapat memicu jerawat lebih mudah muncul dan lebih sulit mereda.

Dokter sekaligus praktisi estetika dr Silvia Kartika dari Seraphim Medical Center menjelaskan bahwa efek makanan terhadap jerawat tidak sama pada setiap orang. Menurutnya, faktor lain seperti hormon, stres, genetik, dan kebiasaan merawat kulit juga berperan penting dalam munculnya breakout.

Pola makan dan jerawat

Hubungan antara makanan dan jerawat diduga berkaitan dengan proses peradangan di dalam tubuh. Saat peradangan meningkat, kondisi kulit bisa menjadi lebih sensitif dan mudah bereaksi. Proses ini juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon yang ikut mengatur produksi minyak. Jika minyak berlebih, risiko pori-pori tersumbat pun semakin besar.

Ketika pori-pori tersumbat, jerawat dapat muncul atau menjadi lebih meradang. Kondisi tersebut sering kali membuat kulit tampak kemerahan dan terasa lebih nyeri. Pada sebagian orang, pola makan tertentu juga dapat memperlambat pemulihan jerawat. Karena itu, pengaruh makanan terhadap kulit tidak dapat diabaikan begitu saja.

Meski demikian, dr Silvia menegaskan bahwa tidak semua orang akan mengalami jerawat setelah mengonsumsi makanan tertentu. Respons tubuh setiap individu berbeda, sehingga pemicunya pun bisa bervariasi. Ada orang yang sensitif terhadap makanan tertentu, namun ada pula yang tidak menunjukkan perubahan berarti. Hal ini membuat evaluasi pemicu jerawat perlu dilakukan secara personal.

Karena itu, pola makan kini semakin sering diperhatikan sebagai salah satu faktor yang dapat memperburuk jerawat. Namun, makanan bukan penyebab utama, melainkan salah satu pemicu yang dapat memperparah kondisi kulit. Pendekatan yang tepat biasanya dilakukan dengan melihat riwayat kulit secara menyeluruh. Dengan begitu, penanganan jerawat bisa lebih terarah dan sesuai kebutuhan.

Makanan tinggi gula

Makanan dan minuman tinggi gula kerap dikaitkan dengan munculnya jerawat. Asupan gula yang berlebihan dapat memicu lonjakan insulin dalam tubuh. Kondisi ini kemudian dapat memengaruhi produksi hormon lain yang berkaitan dengan minyak kulit. Jika produksi minyak meningkat, jerawat bisa lebih mudah terbentuk.

Jenis makanan manis, seperti kue, permen, dan minuman berpemanis, sering menjadi perhatian utama. Konsumsi yang terlalu sering dapat membuat kadar gula darah lebih mudah naik dan turun. Fluktuasi tersebut diduga memengaruhi proses peradangan yang berdampak pada kulit. Akibatnya, breakout dapat lebih sering terjadi pada sebagian orang.

Sejumlah ahli juga menilai bahwa pola makan dengan indeks glikemik tinggi berpotensi memperburuk jerawat. Makanan jenis ini cenderung cepat dicerna dan memicu respons insulin yang lebih besar. Pada kondisi tertentu, respons tersebut dapat mempercepat munculnya jerawat. Karena itu, pembatasan konsumsi gula sering disarankan sebagai langkah pendukung.

Meski begitu, pengurangan gula tidak selalu memberikan hasil yang sama untuk semua orang. Ada individu yang membaik setelah mengubah pola makan, namun ada pula yang memerlukan penanganan tambahan. Perawatan kulit dan konsultasi medis tetap diperlukan bila jerawat terus berulang. Pendekatan kombinasi umumnya lebih efektif dalam menjaga kondisi kulit.

Produk susu dan olahan

Produk susu juga sering disebut dalam pembahasan mengenai jerawat. Susu, keju, dan beberapa produk olahan berbahan dasar susu diduga dapat memicu breakout pada sebagian orang. Dugaan ini muncul karena kandungan tertentu dalam susu dinilai dapat memengaruhi hormon. Perubahan hormon tersebut bisa berdampak pada produksi sebum.

Bagi individu yang sensitif, konsumsi susu dapat membuat jerawat tampak lebih sering muncul. Dampaknya biasanya terlihat pada wajah, dada, atau punggung. Namun, reaksi setiap orang tidak selalu sama dan tidak bisa digeneralisasi. Karena itu, pemantauan pola konsumsi menjadi langkah yang penting.

Jika jerawat terasa memburuk setelah mengonsumsi produk susu, catatan makanan harian dapat membantu mengenali polanya. Cara ini memudahkan evaluasi apakah ada hubungan yang konsisten. Apabila pola tersebut berulang, pengurangan konsumsi bisa dipertimbangkan. Langkah ini sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tubuh tetap mendapatkan asupan yang seimbang.

Di sisi lain, tidak semua produk susu otomatis menjadi pemicu jerawat. Faktor lain seperti kadar lemak, cara pengolahan, dan porsi konsumsi juga dapat berpengaruh. Karena itu, penilaian sebaiknya dilakukan secara cermat dan berdasarkan kondisi masing-masing. Bila keluhan terus muncul, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan penyebabnya.

Ultra processed food

Ultra processed food atau makanan ultraolahan turut disebut dapat memperburuk jerawat. Jenis makanan ini umumnya tinggi gula, garam, lemak tambahan, dan bahan aditif. Kandungan tersebut sering membuat tubuh lebih rentan mengalami peradangan. Dalam jangka tertentu, kondisi itu dapat berdampak pada kesehatan kulit.

Makanan cepat saji, camilan kemasan, dan minuman instan termasuk dalam kategori ini. Konsumsi yang terlalu sering dapat membuat pola makan kurang seimbang dan minim nutrisi. Padahal, kulit membutuhkan asupan yang baik untuk menjaga fungsi pelindungnya. Jika kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi, kulit bisa lebih mudah bermasalah.

Para praktisi kesehatan umumnya menyarankan masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih makanan harian. Perbanyak makanan segar seperti sayur, buah, protein tanpa lemak, dan sumber lemak sehat. Pilihan tersebut dinilai lebih mendukung kesehatan kulit secara umum. Selain itu, pola makan seimbang juga membantu tubuh bekerja lebih optimal.

Pada akhirnya, jerawat merupakan kondisi multifaktor yang tidak bisa dijelaskan oleh satu penyebab saja. Makanan dapat menjadi salah satu pemicu, tetapi hormon, stres, genetik, dan perawatan kulit tetap memiliki peran besar. Karena itu, penanganan jerawat perlu melihat keseluruhan gaya hidup. Dengan pemahaman yang tepat, upaya merawat kulit bisa dilakukan secara lebih efektif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!