PHK di Inggris Meningkat, Lowongan Kerja Turun Tajam

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 29 Mei 2026 17:42 WIB 7
PHK di Inggris Meningkat, Lowongan Kerja Turun Tajam

Inggris menghadapi tekanan pasar tenaga kerja yang meningkat setelah tingkat pengangguran naik tak terduga menjadi 5% pada kuartal I-2026. Pada saat yang sama, jumlah lowongan pekerjaan turun 28.000 atau 3,9% menjadi 705.000 pada periode Februari-April 2026, level terendah sejak April 2021. Data resmi Kantor Statistik Nasional Inggris atau ONS menunjukkan pelemahan itu terjadi di tengah kekhawatiran dampak konflik Amerika Serikat dan Iran terhadap ekonomi global. Kondisi tersebut memunculkan risiko perlambatan perekrutan dan penurunan daya beli rumah tangga.

Penurunan lowongan paling terasa di sektor bergaji rendah seperti perhotelan dan ritel, yang mengalami pelemahan baik dalam beberapa bulan terakhir maupun sepanjang tahun terakhir. Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown, menyebut dunia usaha cenderung menunda perekrutan karena tekanan biaya yang lebih tinggi. Ia menambahkan bahwa kenaikan biaya tenaga kerja, termasuk perubahan pajak ketenagakerjaan, ikut membebani perusahaan. Situasi ini membuat pasar kerja Inggris bergerak ke arah yang lebih rapuh.

Pasar kerja Inggris melemah

ONS mencatat tingkat pengangguran Inggris naik menjadi 5% pada kuartal I-2026. Kenaikan tersebut terjadi secara mengejutkan dan menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Dalam periode yang sama, lowongan kerja juga menyusut signifikan hingga ke titik terendah dalam lima tahun. Data itu memperlihatkan permintaan tenaga kerja tidak lagi sekuat sebelumnya.

Sektor perhotelan dan ritel menjadi area yang paling terpukul oleh penurunan tersebut. Kedua sektor itu dikenal memiliki porsi besar pekerja bergaji rendah dan sensitif terhadap perubahan biaya operasional. Liz McKeown menjelaskan, penurunan lowongan dan jumlah karyawan terlihat jelas dalam beberapa bulan terakhir. Tren ini menunjukkan pelemahan tidak hanya bersifat musiman, tetapi juga lebih struktural.

Perusahaan dinilai menahan ekspansi perekrutan karena ketidakpastian ekonomi yang meningkat. Tekanan biaya tenaga kerja membuat banyak pelaku usaha memilih bersikap hati-hati dalam menambah staf. Di sisi lain, perubahan pajak ketenagakerjaan turut menambah beban operasional. Akibatnya, pasar kerja kehilangan dorongan untuk tumbuh lebih cepat.

Kondisi tersebut juga berpotensi menekan mobilitas kerja masyarakat Inggris. Saat lowongan menurun, pencari kerja menghadapi persaingan yang lebih ketat untuk memperoleh posisi baru. Jika tren ini berlanjut, tingkat pengangguran dapat tetap tinggi dalam beberapa kuartal ke depan. Hal itu menjadi perhatian serius bagi pembuat kebijakan ekonomi di London.

Biaya tenaga kerja menekan usaha

Kenaikan biaya tenaga kerja menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan pasar kerja. Banyak perusahaan menghadapi tekanan dari upah, pajak ketenagakerjaan, serta biaya operasional lain yang terus meningkat. Dalam kondisi seperti itu, dunia usaha cenderung menunda perekrutan pekerja baru. Keputusan tersebut dilakukan untuk menjaga arus kas dan margin keuntungan.

Liz McKeown menyebut kebijakan biaya yang lebih tinggi membuat perusahaan lebih berhati-hati. Sektor-sektor dengan struktur biaya padat karya paling rentan terhadap penyesuaian ini. Perhotelan dan ritel menjadi contoh paling nyata karena sangat bergantung pada jumlah tenaga kerja. Saat permintaan melambat, perusahaan di sektor itu biasanya cepat mengurangi rekrutmen.

Para analis menilai pelemahan ini bisa terus berlanjut jika ketidakpastian global tidak mereda. Konflik yang berlangsung lebih lama berpotensi mengganggu sentimen bisnis dan konsumen. Jika dunia usaha menilai prospek ekonomi makin suram, penundaan perekrutan bisa semakin meluas. Dampaknya, pertumbuhan lapangan kerja akan semakin tertahan.

Tekanan biaya tenaga kerja juga dapat menahan kenaikan produktivitas jangka pendek. Perusahaan yang fokus pada penghematan biasanya lebih lambat berinvestasi pada ekspansi tenaga kerja. Dalam situasi demikian, keputusan bisnis cenderung defensif ketimbang agresif. Hal ini memperkuat sinyal bahwa ekonomi Inggris sedang memasuki fase hati-hati.

Inflasi dan suku bunga

Pelemahan pasar kerja tidak otomatis membuka ruang bagi pelonggaran moneter. Para analis menilai kombinasi pengangguran yang naik dan pertumbuhan pendapatan yang melambat justru tetap menyisakan tekanan inflasi. Bank of England atau BoE diperkirakan masih mempertahankan kebijakan suku bunga lebih tinggi untuk jangka lebih lama. Langkah itu ditempuh demi mencegah inflasi kembali menguat.

Pertumbuhan pendapatan rata-rata di Inggris tercatat turun menjadi 3,4% pada kuartal I-2026. Setelah memperhitungkan inflasi, upah riil masih naik 0,3%, namun kenaikannya sangat terbatas. Biasanya perlambatan upah akan memicu ekspektasi penurunan suku bunga. Namun, kondisi saat ini dinilai berbeda karena tekanan harga belum sepenuhnya hilang.

Kepala Strategi Wealth Club, Susannah Streeter, mengatakan kekhawatiran inflasi membuat suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama. Menurutnya, pasar tidak dapat langsung mengasumsikan kebijakan moneter akan segera longgar. Situasi ini mencerminkan dilema BoE antara menahan inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Di tengah ketidakpastian, bank sentral diperkirakan akan tetap berhati-hati.

Bagi pelaku usaha dan rumah tangga, suku bunga tinggi berarti biaya pinjaman masih akan terasa berat. Di sisi lain, pasar kerja yang melemah dapat menekan konsumsi dan kepercayaan bisnis. Kombinasi tersebut berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi Inggris. Karena itu, data tenaga kerja terbaru menjadi indikator penting bagi arah kebijakan ke depan.

Dampak konflik global

Para analis mengaitkan pelemahan permintaan tenaga kerja dengan ketidakpastian yang dipicu konflik Amerika Serikat dan Iran. Jika ketegangan berlangsung lebih lama, dunia usaha diperkirakan makin menahan keputusan ekspansi. Mereka akan cenderung menunggu kepastian sebelum menambah tenaga kerja atau membuka cabang baru. Situasi ini dapat memperpanjang masa lemah pasar kerja Inggris.

Konflik global umumnya memengaruhi biaya energi, arus perdagangan, dan sentimen pasar keuangan. Dampak berantai tersebut bisa mengurangi keyakinan pelaku usaha dalam mengambil keputusan perekrutan. Ketika prospek permintaan melemah, perusahaan biasanya memprioritaskan efisiensi dibanding pertumbuhan. Hasilnya, lowongan kerja berkurang dan pengangguran dapat meningkat.

Dalam konteks Inggris, data ONS menunjukkan pelemahan mulai menyentuh sektor yang paling sensitif terhadap konsumsi domestik. Perhotelan dan ritel biasanya menjadi barometer awal perubahan aktivitas masyarakat. Jika permintaan konsumen ikut melambat, tekanan terhadap lapangan kerja bisa semakin besar. Hal ini berpotensi memperpanjang periode ketidakpastian ekonomi.

Meski begitu, arah pasar kerja masih akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan respons kebijakan domestik. Jika tekanan biaya mereda dan kepercayaan bisnis membaik, perekrutan berpeluang pulih. Namun, selama inflasi tetap menjadi perhatian utama, ruang pelonggaran kebijakan kemungkinan masih terbatas. Inggris kini menghadapi ujian untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!