Pertamina Dorong UMKM Rutan Kebumen Olah Limbah Jadi Produk

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 06:34 WIB 6
Pertamina Dorong UMKM Rutan Kebumen Olah Limbah Jadi Produk

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan mendorong kolaborasi antara UMKM binaan, PT Agrominafiber Java Indonesia, dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Kerja sama ini fokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi, ramah lingkungan, dan berpotensi masuk rantai pasok industri. Program tersebut juga diarahkan untuk memberi keterampilan produktif bagi warga binaan sekaligus menghadirkan manfaat bisnis yang berkelanjutan.

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menilai pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan yang diminati pasar ekspor. Dalam pelaksanaannya, perusahaan menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu setelah pelatihan perdana. Ke depan, sekitar 30 persen dari kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton ditargetkan dipasok dari hasil produksi warga binaan.

Kolaborasi UMKM dan Rutan Kebumen

Program ini menjadi contoh kolaborasi antara pelaku usaha binaan Pertamina dan lembaga pemasyarakatan dalam memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai tambah. Agrominafiber memanfaatkan pelepah pisang sebagai bahan baku utama untuk serat alami yang bisa digunakan di berbagai sektor industri. Pendekatan ini sekaligus mendukung prinsip produksi yang lebih ramah lingkungan.

Novita menyampaikan bahwa keterlibatan warga binaan diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, melainkan masuk langsung ke rantai produksi yang nyata. Menurut dia, kerja sama tersebut memberi kesempatan bagi warga binaan untuk belajar proses produksi yang memiliki nilai jual. Dengan begitu, keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal saat mereka kembali ke masyarakat.

Sinergi itu juga menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak selalu bergantung pada lokasi usaha konvensional. Dengan pendampingan yang tepat, potensi produksi bisa dibangun dari lingkungan yang selama ini belum banyak dilirik. Model ini membuka ruang baru bagi pemberdayaan berbasis dampak sosial.

Pelatihan dan target produksi

Selama pendampingan, warga binaan Rutan Kebumen telah mulai memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Saat ini, sekitar 60 persen produk sudah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Sisa produksi masih berada dalam tahap penyempurnaan teknik agar hasilnya lebih seragam dan sesuai standar industri. Tim Agrominafiber memberikan bimbingan langsung mulai dari teknik produksi, kerapian produk, hingga pengelolaan bahan baku. Pendekatan ini dilakukan agar proses belajar berjalan terukur dan berkelanjutan.

Perusahaan juga menerapkan prinsip zero waste dalam pengelolaan bahan baku selama proses produksi berlangsung. Prinsip tersebut membantu memaksimalkan pemanfaatan limbah pelepah pisang tanpa meninggalkan sisa yang tidak terpakai. Selain efisien, cara ini memperkuat nilai keberlanjutan dalam model usaha yang dibangun.

Peninjauan Pertamina di lapangan

Program kolaborasi ini ditinjau langsung oleh Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina yang datang ke Rutan Kebumen pada Senin, 26 Januari. Kunjungan dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar dan memiliki arah pengembangan yang jelas. Aspek keberlanjutan serta manfaat jangka panjang menjadi perhatian utama dalam evaluasi.

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi Agrominafiber dan Rutan Kebumen sangat potensial untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Menurut dia, hasil dari kolaborasi ini dapat terlihat relatif cepat apabila kualitas dan ketepatan waktu produksi dijaga. Karena itu, fokus pendampingan berikutnya diarahkan pada dua hal tersebut.

Peninjauan lapangan juga menjadi bagian dari upaya memastikan program tidak berhenti pada tahap pelatihan saja. Pertamina menempatkan aspek bisnis dan dampak sosial sebagai dua ukuran yang harus berjalan seimbang. Dengan begitu, program dapat berkembang menjadi model pembinaan yang lebih matang.

Dampak sosial dan bisnis

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyebut respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Menurut dia, laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik meski program belum genap satu bulan berjalan. Dari sisi mitra usaha, prospek kolaborasi juga dinilai menjanjikan.

Pramu menilai kehadiran Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina memperkuat arah program agar tidak berhenti pada pelatihan semata. Ia berharap keterampilan yang diperoleh warga binaan dapat bermanfaat selama menjalani masa pidana dan setelah kembali ke masyarakat. Harapan itu sejalan dengan tujuan pembinaan yang menekankan kemandirian.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia dalam skema Pertapreneur Aggregator. Pertamina berharap model kolaborasi tersebut dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi yang berdaya saing. Selain kuat secara bisnis, program ini juga ditujukan untuk menghadirkan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!