Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pisang di Kebumen

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 30 Mei 2026 07:24 WIB 3
Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pisang di Kebumen

PT Pertamina (Persero) mendorong pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan menggandeng PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Kolaborasi ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. Program tersebut juga melibatkan warga binaan dalam rantai produksi yang nyata. Inisiatif ini ditargetkan memberi manfaat bisnis sekaligus dampak sosial yang berkelanjutan.

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, mengatakan pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Perusahaan telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu. Ke depan, sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton direncanakan dipasok dari hasil produksi warga binaan. Program ini kemudian ditinjau langsung oleh Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina pada Senin, 26 Januari.

Kolaborasi UMKM di Kebumen

Kolaborasi antara Agrominafiber dan Rutan Kebumen menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis kemitraan yang terukur. Program ini tidak hanya menghubungkan produksi dengan kebutuhan pasar, tetapi juga memberi ruang keterampilan bagi warga binaan. Pendampingan dilakukan secara bertahap agar proses produksi sesuai standar perusahaan. Dengan pola ini, hasil kerja warga binaan memiliki nilai tambah yang lebih jelas.

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyebut respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Menurut dia, perkembangan program terlihat baik meski belum genap satu bulan berjalan. Mitra usaha juga menilai prospek kerja sama tersebut menjanjikan dari sisi bisnis dan dampak sosial. Karena itu, program ini dinilai layak untuk terus diperkuat.

Pramu menegaskan bahwa keterlibatan Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina membantu menjaga arah program tetap sesuai tujuan. Ia menilai pendampingan membuat kerja sama tidak berhenti pada tahap pelatihan semata. Program ini diharapkan menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan selama menjalani masa pidana. Selain itu, keterampilan tersebut juga diharapkan bermanfaat saat mereka kembali ke masyarakat.

Melalui kerja sama ini, rutan dan mitra usaha mencoba membangun model pemberdayaan yang lebih produktif. Warga binaan tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga memahami alur kerja industri yang sesungguhnya. Pendekatan tersebut memberi peluang bagi mereka untuk memiliki pengalaman kerja yang relevan. Dalam jangka panjang, model ini diharapkan dapat direplikasi di tempat lain.

Serat Pelepah Pisang Bernilai

Serat pelepah pisang dipilih karena memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri yang berkelanjutan. Novita menjelaskan bahwa material ini diminati pasar ekspor, terutama untuk produk kerajinan dan bahan ramah lingkungan. Pemanfaatan limbah juga membuat proses produksi lebih sejalan dengan prinsip zero waste. Hal ini menjadi nilai tambah yang semakin dicari pasar.

Dalam pelatihan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan agar pasokan bisa lebih stabil. Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan. Sisanya masih dalam tahap penyempurnaan teknik agar hasilnya lebih seragam.

Selama pendampingan, tim Agrominafiber memberi bimbingan langsung kepada warga binaan. Materi yang diberikan meliputi teknik produksi, kerapian hasil, dan pengelolaan bahan baku. Pendekatan ini dirancang agar proses kerja lebih efisien dan minim limbah. Dengan begitu, hasil produksi dapat lebih mudah masuk ke rantai pasok industri.

Novita menilai keterlibatan warga binaan memberi nilai sosial yang kuat pada program tersebut. Ia menyebut warga binaan dapat ikut terlibat langsung dalam proses produksi yang memiliki pasar nyata. Selain mengolah limbah, mereka juga memperoleh pengalaman kerja yang aplikatif. Menurutnya, kombinasi ini penting untuk membangun usaha yang berdaya saing.

Dorongan Dampak Sosial

Program ini diposisikan tidak hanya sebagai kerja sama bisnis, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan sosial. Pertamina menilai kolaborasi semacam ini mampu menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Warga binaan mendapat kesempatan untuk belajar, bekerja, dan menghasilkan produk yang bernilai jual. Di sisi lain, mitra usaha memperoleh pasokan bahan baku yang lebih terjaga.

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi tersebut sangat potensial. Ia menyebut hasil program bisa terlihat relatif cepat, terutama dalam menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Menurut dia, fokus pendampingan ke depan adalah pada kualitas dan ketepatan waktu produksi. Dua hal itu dinilai penting agar kerja sama tetap kompetitif.

Bima juga menekankan bahwa kolaborasi ini selaras dengan semangat agregasi dalam pengembangan UMKM. Model tersebut memungkinkan pendampingan berjalan lebih terarah, sekaligus menghubungkan pelaku usaha dengan sumber daya yang relevan. Dengan dukungan yang tepat, UMKM dapat berkembang tanpa kehilangan aspek sosialnya. Karena itu, kerja sama ini dinilai memiliki posisi strategis.

Program yang melibatkan lembaga pemasyarakatan menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi dapat berjalan bersama tujuan sosial. Pendekatan seperti ini membuka ruang bagi pemanfaatan sumber daya lokal yang sebelumnya belum tergarap optimal. Selain itu, ada peluang membangun kepercayaan pasar terhadap produk yang dihasilkan. Nilai tersebut menjadi modal penting untuk keberlanjutan program.

Pertamina Kawal Enam Bulan

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia. Ia menegaskan bahwa Pertamina melihat inisiatif ini sebagai bagian dari penguatan UMKM berbasis agregasi. Program tersebut juga sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendorong dampak sosial yang terukur. Karena itu, pendampingan dilakukan secara intensif.

Selama enam bulan ke depan, Pertamina akan memantau perkembangan kolaborasi agar tetap berada di jalur yang tepat. Pendampingan difokuskan pada penguatan kualitas produksi, kesinambungan pasokan, dan kesiapan usaha. Dengan pengawasan tersebut, model kerja sama diharapkan lebih tahan terhadap kendala operasional. Tujuannya adalah membangun sistem yang bisa berjalan secara mandiri.

Baron menyebut program ini diharapkan menjadi contoh pengembangan UMKM yang tidak hanya berdaya saing secara bisnis. Ia menambahkan bahwa manfaat sosial yang nyata dan berkelanjutan harus menjadi bagian dari hasil program. Pola seperti ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan ekonomi yang lebih inklusif. Pada saat yang sama, perusahaan tetap dapat menjaga efisiensi usaha.

Keberhasilan program akan menjadi pembuktian bahwa limbah dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi. Dari Kebumen, model kolaborasi ini berpotensi memberi inspirasi bagi pengembangan UMKM di wilayah lain. Jika pasokan, kualitas, dan pendampingan berjalan konsisten, kerja sama ini bisa berkembang lebih jauh. Pertamina pun berharap skema serupa dapat melahirkan manfaat ekonomi dan sosial yang seimbang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!