Perjuangan Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 21 Mei 2026 15:37 WIB 6
Perjuangan Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas

Aroma sate ayam dan kambing khas Madura sempat menarik perhatian warga di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di balik hiruk-pikuk kawasan Mayestik, Mochamad Haidir, pedagang satai berusia 30 tahun, menjaga bara agar tetap menyala dengan kipas bambu. Usaha yang ia rintis sejak 2013 itu perlahan tumbuh dari gerobak keliling menjadi lapak yang lebih mapan. Perjalanan panjangnya menunjukkan bahwa ketekunan masih menjadi modal utama bagi pedagang kecil.

Haidir memulai usaha dari trotoar, lalu bertahan di tengah penertiban dan persaingan sesama pedagang. Ia mengakui lokasi Mayestik sangat potensial karena dikelilingi kawasan perkantoran yang ramai, sehingga peluang pelanggan selalu terbuka. Meski sempat ditawari untuk menyerah, ia memilih bertahan dan terus menjual Sate Ayam Barokah Mayestik. Keputusan itu akhirnya mengantarkan usahanya menuju fase baru yang lebih menjanjikan.

Awal Perjuangan

Haidir mulai berjualan pada 2013 dengan modal sederhana dan perlengkapan yang serba terbatas. Saat itu, ia masih mendorong gerobak satai keliling untuk mencari pembeli di jalanan. Kehidupan sebagai pedagang kaki lima membuatnya akrab dengan risiko, mulai dari dikejar petugas hingga diusir pedagang lain. Pengalaman itu membentuk ketahanan mental yang kemudian menjadi bekal penting dalam usahanya.

Pada masa awal, ia harus membaca situasi lapangan setiap hari agar bisa tetap berjualan dengan aman. Haidir mengandalkan lokasi yang ramai dan arus pekerja kantor untuk menjaga penjualan. Ia juga belajar menyesuaikan waktu dagang agar pelanggan lebih mudah datang. Dari kebiasaan itu, ia memahami bahwa usaha kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal bertahan di tempat yang tepat.

Lapak yang kini ia tempati tidak didapat dengan mudah, melainkan melalui proses panjang dan penuh penolakan. Ia mengisahkan bahwa pada awal membuka usaha di kawasan tersebut, banyak pihak yang tidak menyambut kehadirannya. Bahkan, sesama pedagang sate pun sempat datang dan meminta dirinya pindah. Situasi itu membuatnya harus lebih sabar dan fokus pada kualitas dagangan.

Meski mendapat tekanan, Haidir tidak melepaskan keyakinannya terhadap potensi Mayestik. Ia melihat kawasan itu sebagai titik yang strategis karena ramai oleh aktivitas kantor dan lalu lintas orang setiap hari. Keyakinan tersebut membuatnya terus mempertahankan tempat berjualan yang sudah ia bangun. Dari situ, nama usahanya mulai perlahan dikenal pembeli setia.

Bertahan di Mayestik

Seiring waktu, pelanggan mulai berdatangan dan Sate Ayam Barokah Mayestik semakin dikenal di kawasan itu. Rasa yang konsisten menjadi salah satu alasan pembeli kembali lagi. Haidir juga menjaga pelayanan agar tetap cepat meski pesanan datang silih berganti. Kombinasi itu membuat usahanya bertahan di tengah persaingan kuliner yang ketat.

Lokasi di Jalan Kyai Maja memberi keuntungan tersendiri karena dekat dengan pusat aktivitas harian warga dan pekerja. Setiap sore, aroma sate yang dibakar menjadi daya tarik bagi orang yang melintas. Haidir memanfaatkan kondisi itu dengan menjaga kualitas daging, bumbu, dan cara penyajian. Ia sadar bahwa pelanggan kuliner biasanya datang karena pengalaman rasa yang terus konsisten.

Di balik tampilan sederhana, usaha satai ini memiliki manajemen yang dibangun dari kebiasaan kerja keras. Haidir terbiasa mengatur waktu, bahan baku, dan tenaga agar operasional berjalan lancar. Ia tidak ingin usaha yang dirintisnya berhenti di tengah jalan hanya karena kurang disiplin. Karena itu, ia tetap hadir langsung untuk memastikan proses jualan berjalan sesuai harapan.

Keberhasilan kecil yang ia raih tidak lepas dari keberanian mempertahankan lokasi yang dianggap strategis. Di kawasan yang persaingannya padat, keberadaan lapak tetap menjadi modal penting untuk menjaga arus pelanggan. Haidir pun terus menata usahanya agar terlihat lebih profesional dari waktu ke waktu. Langkah itu menjadi fondasi sebelum ujian yang lebih besar datang.

Ujian Pandemi

Pandemi COVID-19 menjadi pukulan berat bagi usaha Haidir. Penjualan yang biasanya mengandalkan keramaian kawasan perkantoran mendadak sepi. Kondisi itu membuatnya stres dan sempat ingin berhenti berjualan. Bahkan, ia pernah menawarkan lapaknya kepada orang lain karena merasa usaha itu sudah tidak sanggup diteruskan.

Dalam masa sulit itu, Haidir mengaku pernah pasrah terhadap masa depan usahanya. Ia sempat meminta agar lapaknya dibayar Rp50 juta, meski nilai yang ia inginkan mencapai Rp150 juta. Perbedaan harga itu menunjukkan betapa berat tekanan yang ia hadapi saat omzet menurun. Beruntung, transaksi tersebut batal sehingga ia masih memiliki kesempatan untuk bertahan.

Situasi pandemi membuat banyak pelaku usaha kuliner harus mencari cara agar tetap hidup. Haidir pun tidak terkecuali, karena ia harus memutar otak demi menjaga usaha tetap berjalan. Walau sempat goyah, ia akhirnya memilih tidak menyerah sepenuhnya. Ketekunan yang selama ini ia bangun menjadi alasan untuk terus bertahan.

Pengalaman itu juga memberinya pelajaran penting tentang risiko bisnis di sektor makanan. Ia menyadari bahwa keberhasilan tidak selalu berjalan lurus, karena kondisi eksternal bisa berubah tiba-tiba. Dari titik itu, Haidir semakin menghargai pelanggan yang masih datang membeli satai buatannya. Bagi dia, dukungan pembeli menjadi penentu hidup matinya usaha kecil.

Langkah Baru

Titik balik usaha Haidir datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu muncul pada akhir 2025 dan dinilai sangat strategis untuk pengembangan usaha. Tanpa banyak menunggu, ia memilih pindah ke tempat yang lebih layak. Keputusan tersebut menandai naik kelasnya bisnis satai yang ia rintis sejak lama.

Ruko dua lantai memberi ruang lebih besar bagi operasional dan kenyamanan pembeli. Posisi yang berada tepat di depan lokasi lama juga menjaga basis pelanggan tetap terhubung. Haidir melihat langkah itu sebagai bentuk keberanian memanfaatkan momentum. Ia tidak ingin peluang emas berlalu begitu saja setelah sekian lama berjuang.

Pindah ke tempat baru juga membuka harapan untuk peningkatan penjualan. Dengan ruang yang lebih strategis, ia bisa melayani pelanggan secara lebih tertata. Haidir berharap usahanya semakin dikenal oleh masyarakat yang melintas di kawasan Mayestik. Bagi dia, perubahan tempat adalah investasi jangka panjang untuk keberlangsungan bisnis.

Kisah Haidir menunjukkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh jika dijalankan dengan konsisten dan sabar. Dari gerobak keliling, tekanan sesama pedagang, hingga hantaman pandemi, ia tetap bertahan. Kini, ruko baru menjadi simbol bahwa ketekunan dapat mengubah nasib pedagang kecil. Perjalanan itu sekaligus menjadi cerminan daya tahan pelaku usaha kuliner di tengah persaingan kota besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!