Pemisahan Daging dan Jeroan Kurban Cegah Kontaminasi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 31 Mei 2026 05:33 WIB 2
Pemisahan Daging dan Jeroan Kurban Cegah Kontaminasi

Hari Raya Idul Adha identik dengan pembagian daging kurban dalam jumlah besar. Di tengah suasana berbagi, masih banyak masyarakat yang mencampur daging dan jeroan dalam satu wadah karena dianggap lebih praktis. Kebiasaan tersebut justru dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri pada daging yang semestinya masih bersih.

Ketua Kelompok Substansi Pengawasan Keamanan Produk Hewan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementerian Pertanian, drh Ira Firgorita, mengingatkan agar daging dan jeroan dipisahkan sejak awal distribusi. Imbauan itu disampaikan dalam Webinar Paman Kece Seri 6: Mengolah Daging Kurban yang Aman yang digelar Badan Pengawas Obat dan Makanan pada Kamis, 21 Mei 2026. Menurut dia, pemisahan sejak awal menjadi langkah penting untuk menjaga keamanan pangan di rumah tangga.

Pemisahan Daging Kurban

Drh Ira menegaskan, daging, jeroan merah, dan jeroan hijau idealnya ditempatkan dalam wadah yang berbeda. Pemisahan ini membantu mencegah perpindahan bakteri dari satu bahan ke bahan lain. Langkah sederhana tersebut juga memudahkan masyarakat mengenali karakter tiap bagian hewan kurban.

Ia menjelaskan bahwa jeroan merah dan jeroan hijau memiliki tingkat risiko yang tidak sama. Karena itu, keduanya tidak boleh diperlakukan dengan cara penyimpanan yang sama. Penanganan yang tepat akan mengurangi peluang terjadinya kontaminasi silang.

Menurut dia, kebiasaan mencampur semua bagian kurban dalam satu kantong dapat menyulitkan proses pengolahan berikutnya. Daging yang awalnya layak konsumsi bisa ikut terpapar bakteri dari jeroan. Kondisi ini berpotensi menurunkan mutu sekaligus keamanan produk.

Risiko Jeroan Hijau

Jeroan hijau adalah istilah untuk organ yang berhubungan langsung dengan sistem pencernaan hewan, seperti usus dan babat. Bagian ini lebih mudah terpapar bakteri karena bersentuhan dengan sisa makanan dan kotoran di dalam tubuh hewan. Oleh sebab itu, penanganannya perlu perhatian ekstra sejak awal.

Kontaminasi pada jeroan hijau bisa terjadi bila proses pemotongan, pencucian, atau penyimpanan dilakukan tanpa standar kebersihan yang memadai. Bakteri yang masih menempel pada permukaan organ dapat bertahan dan menyebar ke bahan lain. Risiko tersebut akan semakin besar jika jeroan disatukan dengan daging segar.

Karena itu, jeroan hijau disarankan untuk direbus terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada masyarakat. Proses pemanasan dapat membantu menurunkan jumlah bakteri yang mungkin masih tersisa. Dengan cara ini, risiko penyakit akibat pangan dapat ditekan lebih awal.

Distribusi Yang Aman

Pemisahan daging dan jeroan sebaiknya dilakukan sejak proses distribusi, bukan hanya saat penyimpanan di rumah. Kebiasaan ini penting agar setiap bagian tetap terjaga kebersihannya sampai diterima oleh masyarakat. Semakin cepat dipisahkan, semakin kecil peluang kontaminasi silang terjadi.

Dalam praktik pembagian kurban, wadah berbeda dapat digunakan untuk daging, jeroan merah, dan jeroan hijau. Penandaan sederhana juga bisa membantu petugas maupun penerima mengenali isi paket. Cara ini membuat proses pembagian lebih tertib dan higienis.

Selain memisahkan wadah, kebersihan tangan, peralatan, dan permukaan kerja juga harus dijaga. Alas pemotongan, pisau, dan kantong pembungkus sebaiknya tidak dipakai bergantian tanpa dibersihkan. Prosedur tersebut mendukung pengolahan daging kurban yang lebih aman untuk dikonsumsi.

Pengolahan Di Rumah

Setelah daging kurban sampai di rumah, masyarakat perlu segera menyimpannya pada tempat yang sesuai. Daging dan jeroan sebaiknya tidak diletakkan berdampingan dalam satu wadah terbuka. Penyimpanan terpisah akan menjaga kualitas bahan sampai waktu pengolahan tiba.

Jika belum akan dimasak, daging dapat disimpan dalam wadah bersih yang tertutup rapat. Jeroan, terutama bagian yang berisiko tinggi, perlu mendapat perlakuan yang lebih hati hati. Langkah ini penting agar bakteri tidak berpindah ke bahan pangan lain di lemari es.

Dengan penanganan yang benar, daging kurban tetap aman diolah menjadi hidangan untuk keluarga maupun penerima manfaat. Masyarakat juga dapat menghindari pemborosan akibat bahan pangan yang rusak karena kontaminasi. Kesadaran sederhana ini menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan pangan saat Idul Adha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!