Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan membantu Bank Indonesia menekan tekanan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dengan memanfaatkan skema intervensi di pasar obligasi. Rupiah dilaporkan melemah ke sekitar Rp 17.500 per USD. Kebijakan ini menandai langkah proaktif untuk menstabilkan kurs lewat instrumen keuangan domestik.
Menurut Purbaya, intervensi akan dilakukan melalui Bond Market dengan mekanisme Bond Stabilization Fund. Ia menekankan bahwa langkah ini bertujuan menahan lonjakan yield sehingga arus modal asing tidak keluar secara besar. Ia menegaskan pelaksanaan intervensi akan dimulai besok dan akan dijalankan secara bertahap.
Intervensi di Bond Market
Bond Stabilization Fund (BSF) dinyatakan sebagai alat intervensi utama untuk menstabilkan rupiah melalui pasar obligasi. Meski beberapa instrumen telah dipersiapkan, fasilitas dana BSF disebut belum sepenuhnya terfunding. Pemerintah menilai dukungan fiskal diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar obligasi.
Para pejabat menilai langkah ini dapat mempengaruhi dinamika yields dan arus modal. Purbaya menambahkan bahwa pelaksanaan akan berjalan bertahap untuk menghindari kejutan pasar. Intervensi dilakukan dengan fokus pada instrumen obligasi domestik.
Rencana ini mendapat dukungan internal karena kas negara dinilai cukup untuk dukungan tambahan. Ia menegaskan arah kebijakan ini tidak menggantikan langkah stabilitas fiskal yang sudah ada. Targetnya jelas agar rupiah tidak jatuh lebih dalam.
Kendali Yield
Kebijakan ini diharapkan dapat menahan kenaikan yield obligasi yang bisa memicu tekanan pada rupiah. Purbaya menegaskan fokus intervensi adalah menjaga volatilitas pasar surat berharga tetap terkendali. Efeknya diharapkan turut menahan tekanan turun terhadap rupiah.
Ia menambahkan bahwa intervensi ini bersifat kolaboratif dengan BI sebagai otoritas moneter utama. Upaya tersebut diperkirakan memberi ruang bagi BI untuk menindaklanjuti kebijakan moneter tanpa gangguan besar pada pasar obligasi. Struktur fiskal negara dirancang agar dukungan ini berkelanjutan jika diperlukan.
Analisis pasar akan memantau respons yield dan pergerakan rupiah secara ketat. Kementerian Keuangan menegaskan bahwa langkah ini bukan tindakan tunggal namun bagian dari rangka stabilisasi jangka pendek. Kondisi eksternal yang dinamis membuat intervensi perlu dilakukan dengan kehati-hatian.
Rapat Dadakan Kemenkeu
Purbaya memimpin rapat darurat di lobby Kementerian Keuangan pada Selasa untuk membahas langkah stabilisasi. Rapat itu diikuti sejumlah pejabat kunci kementerian. Tujuan utama rapat adalah menilai kesiapan alat instrumen intervensi yang akan digunakan.
Di antara pejabat yang terlihat hadir adalah Sekjen Kemenkeu Robert Leonard Marbun, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto, Dirjen Perbendaharaan Astera Primanto Bhakti, serta Plh Dirjen Stabilitas Ekonomi dan Fiskal Ferry Ardiyanto. Mereka membahas opsi koordinasi dengan BI dan langkah komunikasinya. Purbaya menegaskan fokus pada stabilitas pasar untuk menjaga arus modal.
Strateginya masih dirahasiakan untuk menghindari bocoran yang memicu volatilitas pasar. Purbaya menilai detail teknisnya belum siap diumumkan. Pejabat menegaskan rencana ini adalah bagian dari upaya stabilitas jangka pendek.
