Pelemahan Rupiah, Peluang Industri Satelit Nasional

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 13 Mei 2026 06:24 WIB 9
Pelemahan Rupiah, Peluang Industri Satelit Nasional

Nilai tukar rupiah melemah menuju kisaran Rp 17.500 per USD pada perdagangan terkini. Dampaknya terasa pada kebutuhan satelit dan ground segment yang mayoritas tetap menggunakan mata uang asing. Para pelaku industri menilai kondisi ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat produksi dan manufaktur dalam negeri.

Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro, menyatakan pelemahan rupiah bisa menjadi peluang untuk memperkuat industri satelit nasional dan manufaktur dalam negeri. Ia menilai ketika dolar menguat, sektor ekspor justru lebih diuntungkan karena pendapatan dinikmati dalam dolar meskipun biaya produksi menggunakan rupiah. Ia menghadiri Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta pada Selasa, 12 Mei 2026.

Peluang Industri Satelit Nasional

Nilai tukar rupiah melemah menuju kisaran Rp 17.500 per USD, dampaknya terasa pada kebutuhan satelit dan ground segment yang mayoritas masih menggunakan mata uang asing. Analis industri menyebut pelemahan ini bisa memicu tekanan biaya, tetapi juga membuka peluang bagi industri lokal untuk memperkuat produksi dalam negeri. Sigit Jatipuro menilai momen ini bisa menjadi dorongan bagi ekosistem teknologi nasional.

Sekilas, ketika dolar menguat, sektor ekspor justru berpeluang lebih besar karena pendapatan dinikmati dalam dolar meskipun biaya produksi menggunakan rupiah. Produksi dalam rupiah dengan pendapatan dolar menambah margin bagi pelaku industri dalam negeri. Oleh karena itu, pelemahan rupiah bisa dijadikan momentum untuk memperkuat ekosistem teknologi dan satelit nasional.

Ia menekankan perlunya industrialisasi di dalam negeri agar tidak bergantung pada impor. Sigit mengajak investor domestik meningkatkan investasi di sektor industri teknologi nasional meskipun arus investasi asing melambat. Pendidikan dan pola pikir industri serta ekspor diharapkan tumbuh sejak dini untuk mendukung kemandirian teknologi.

Di tingkat ASEAN, Indonesia dinilai cukup kuat meski masih berada di bawah beberapa negara lain di Asia. Dalam konteks regional, kapasitas produksi lokal masih kalah bersaing dibandingkan mitra Asia lainnya. Kondisi ini mendorong peningkatan kapasitas dalam negeri untuk mengejar peluang ekspor global.

Sigit menyebut pasar domestik bisa menjadi tahap awal pengembangan industri sebelum ekspor. Dalam konteks ini, pasar domestik menjadi initial startup untuk industrialisasi satelit. Keberlanjutan investasi dan kualitas produk akan menentukan kemampuan Indonesia bersaing secara regional.

Langkah selanjutnya adalah membangun ekosistem industri dan teknologi secara menyeluruh. Termasuk meningkatkan kapasitas lahan produksi, riset, dan pelatihan bagi generasi muda. Upaya ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Rupiah terus tertekan dan menembus Rp 17.500 per USD pada perdagangan terkini. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk mengendalikan volatilitas mata uang. Langkah ini dilakukan sebagai bagian upaya menjaga stabilitas makro dan daya saing industri nasional.

Menurutnya, langkah kolaboratif antara lembaga keuangan negara diperlukan untuk menahan tekanan nilai tukar. Dukungan fiskal dan kebijakan stabilisasi akan mengurangi beban biaya bagi produsen dalam negeri. Rupiah di level Rp 17.500 menjadi pengingat bahwa upaya de-eskalasi perlu dipercepat.

Sigit juga menekankan pentingnya investasi domestik untuk mempercepat industrialisasi dan kemandirian teknologi. Ia mengajak investor lokal menambah modal meskipun arus investasi asing melambat. Pendidikan sejak dini mengenai pola pikir industri dan ekspor diharapkan memperkuat ekosistem satelit di masa depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!