Pelaku UMKM Keluhkan Biaya Marketplace yang Kian Memberatkan

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 13:12 WIB 4
Pelaku UMKM Keluhkan Biaya Marketplace yang Kian Memberatkan

Beban biaya di marketplace dinilai semakin menekan pelaku usaha lokal, termasuk brand fashion muslim Vanilla Hijab. Founder Vanilla Hijab, Atina Maulina, menyebut kenaikan potongan layanan, biaya promo, dan beban operasional lain telah menggerus margin keuntungan penjual.

Keluhan itu disampaikan di tengah situasi UMKM yang masih bergantung pada kanal digital untuk menjangkau konsumen. Menurut Atina, tanpa penyesuaian kebijakan yang lebih adil, banyak pelaku usaha berisiko kesulitan menjaga keberlangsungan bisnis.

Marketplace Membebani Penjual

Atina menjelaskan bahwa biaya layanan di marketplace terus meningkat secara sepihak. Kondisi tersebut membuat ruang gerak pelaku usaha lokal semakin sempit.

Ia menilai beban tambahan dari program gratis ongkir dan promosi semakin memberatkan seller. Saat biaya platform naik, pelaku usaha juga harus menghadapi kenaikan harga bahan baku.

Di sisi lain, pasar tidak mudah menerima kenaikan harga jual. Akibatnya, margin keuntungan penjual menjadi semakin tipis.

Menurut Atina, situasi ini tidak hanya dirasakan Vanilla Hijab, tetapi juga banyak penjual lain. Ia menilai para seller perlu lebih cermat memantau setiap biaya yang dibebankan platform.

Strategi Harga Bertahap

Untuk bertahan, Vanilla Hijab memilih menaikkan harga produk secara perlahan. Strategi ini ditempuh agar konsumen tidak terkejut dengan lonjakan harga yang terlalu besar.

Contohnya, harga produk dinaikkan dari kisaran Rp80.000 menjadi Rp95.000. Langkah tersebut disertai dengan pengendalian volume produksi agar stok tetap terjaga.

Perusahaan juga berupaya membaca respons pasar sebelum melakukan penyesuaian lanjutan. Dengan begitu, keputusan bisnis bisa tetap selaras dengan daya beli konsumen.

Atina menegaskan bahwa penyesuaian harga bukan pilihan ideal. Namun, langkah itu dinilai lebih aman dibanding menekan kualitas atau menanggung kerugian lebih besar.

Inovasi Jadi Pembeda

Di tengah persaingan dengan produk impor siap pakai, Vanilla Hijab memilih memperkuat nilai tambah. Perusahaan tidak ingin sekadar bersaing lewat harga murah yang berisiko merusak bisnis.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah hijab instan dengan magnet tanpa pentul. Selain itu, mereka juga mulai beralih ke kemasan reusable untuk memberi pengalaman yang lebih baik kepada konsumen.

Atina menilai tambahan nilai seperti itu penting untuk menjaga daya saing produk lokal. Konsumen diharapkan merasakan manfaat yang lebih besar meski harga sedikit naik.

Ia juga mengakui rantai pasok bahan baku di Indonesia masih banyak terhubung dengan impor. Meski bermitra dengan produsen lokal, ketergantungan pada bahan tertentu dari luar negeri tetap sulit dihindari.

Perlindungan Seller Mendesak

Selain persoalan biaya, Atina menyoroti lemahnya perlindungan bagi penjual terhadap praktik penipuan. Salah satu risiko yang disebutnya adalah retur barang bermodus fraud.

Ia mengaku Vanilla Hijab belum pernah menjadi korban kasus tersebut. Meski begitu, ia prihatin melihat banyak UMKM lain yang terdampak akibat kelonggaran aturan pengembalian barang.

Atina juga mengkritik fitur promosi yang kerap aktif otomatis tanpa pemberitahuan jelas. Menurutnya, biaya dari program seperti gratis ongkir, Live Extra, hingga paylater kerap dibebankan kepada seller.

Ia berharap pemerintah hadir lebih konkret dalam melindungi ekosistem digital. Menurutnya, UMKM yang menopang ekonomi nasional membutuhkan regulasi mikro yang adil agar industri kreatif tetap bertahan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!